RSS

Monthly Archives: June 2011

56years Separated (prolog)

Oppa… 68 tahun yang lalu.. kita menikah.. saat itu aku tak mau menjadi pasanganmu.. menangis setiap malam.. memohon agar kamu tak menyentuhku.

Saat itu aku menolakmu mentah mentah untuk menjadi suamiku. Aku menangis meminta perceraian.. Dan kau.. tetap bersabar menghadapiku. Sampai akhirnya aku sadar bahwa semua ini percuma saja, dan mulai belajar mencintaimu.

Oppa.. 65 tahun yang lalu, aku melahirkan anak pertama kita.. Kim Shin Mi. Kini dia bertumbuh besar seiring waktu.. ia menjadi anak yang baik..

Oppa 62 tahun yang lalu.. aku melahirkan anak kedua kita.. Kim Hye Sun. Saat itu kau menangis bahagia.. ingat?

Oppa , 57 tahun yang lalu, aku melahirkan putri bungsu kita.. Kim Hwa Young. Saat itu kau mengutarakan kekhawatiranmu karena kau sudah tua.. namun aku tidak mau tau. aku berjanji padamu untuk membesarkan mereka semua dengan baik.

Oppa, 56 tahun lalu engkau pergi meninggalkanku untuk selamanya.. Oppa, kenapa kau tega sekali padaku? Saat itu, aku sangat sedih tapi aku tidak akan putus asa, aku akan memenuhi janjiku padamu.

Oppa, saat ini.. semua tugasku sudah selesai. Aku sudah membesarkan anak anak kita, aku sudah melihat cucu cucu kita.. Dan aku sudah melihat buyut kita. Mereka lucu kan?

Oppa, aku tau kita akan bertemu lagi.. Oppa, kita mungkin terpisah selama 56 tahun lamanya.. Tapi, bukan berarti cintaku padamu layu. Oppa, 56 tahun itu, aku tetap setia.. menunggumu. Akan kubuktikan, bahwa bahkan mautpun tak dapat memisahkan kita!!!

 

———–

 

Okay, ini cuman prolog. aku post prolognya dulu. nunggu komen dari readers sekalian. mau tau, bagaimana reaksi kalian sama ceritaku ini. kalo mau di post ceritanya, komen yah :)) kalo nggak ya nggak.

Kalo mau tau sedikit nih jalan ceritanya :

ini cerita based on true story. jadi nanti salah satu pasanganya ada yang meninggal, dan ada bagian dimana si istri ngebesarin anak2nya penuh perjuangan. si suami terus ngamatin dari atas sana. ada sebagian mungkin di tambahin imajinasi author. tapi keseluruhan jalan ceritanya true stoy :))

komen yaa..

maaf lama gak nongol nih :p

-HANA

 

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on June 27, 2011 in Uncategorized

 

1st AUTHOR (Hana)

sorry yahh aku belum post lanjutan HanMi couplenya.. tapi PASTI akan ada lanjutanya.. tapi lama.. soalnya ga mood. oh ya, bakal ada post an ff terbaru yang castnya KANGIN :)) LOL . babayyy..^^

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2011 in Uncategorized

 

From 2nd author

Annyeong!! di sini Lee Eun Mi, 2nd author! aku hanya mau minta maaf kepada para pembaca soalnya blog ini belakangan nggak nge post ff lagi, itu gara2 kita para author lagi sibuk sama kegiatan lain dan belum ada ide cerita yang bagus. hehe.

Sekarang, aku lagi nulis ff baru, buat bocoran aja, judulnya Lone Wolf. Jangan beranggapan judul ff ini niru Temptation of Wolf nya Ryeowook oppa ya, coz ide judul ini muncul tiba-tiba di otakku 😀

Aku juga dapet ide ff lain, yang judulnya belum aku tentuin, jadi kayanya aku bakal nulis 2 ff sekaligus, masalah ff ini ada part 2 dst atau cuma oneshot, aku sendiri belum tahu, tergantung ide yang mengalir di otak ini berhenti sampai mana. Lone Wolf sih kayanya oneshot, kalau yg kedua, kayanya bakal lebih panjang. Jadi sabar aja menuguu ff nya di post. Kalau terlalu terburu-buru takutnya ceritanya kurang bagus 🙂

soooo… sabar yaaa~~ 🙂

 

Love,

Lee Eun Mi

Author

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2011 in Uncategorized

 

HanEun couple: Love Storm (Part 2-End)

author: blue9-2 (Lee Eun Mi ^_^)

Hankyung’s POV

Satu minggu sudah berlalu sejak aku mengenalnya, mengenal Lee Eun Mi, seorang yeoja yang menarik yang pernah kutemui. Aku pertama kali bertemu dengannya secara tidak sengaja, hanya kebetulan melihatnya yang sedang ada masalah. Aku tak menyangka… perasaanku padanya… bisa sampai seperti ini…

Kupegang erat kalung berwarna silver di tanganku, kalau dilihat dari bentuknya, memang tidak jelas berbentuk apa, tapi ini pemberian eomma ku sebelum aku memutuskan pindah ke Korea, dan benda inilah yang sebenarnya ingin kuberikan pada Eun Mi. Sejak ia ke rumahku terakhir kalinya, aku belum bertemu dengannya lagi. Waktu itu aku mencari-cari kalung ini, namun tidak kutemukan, jadi aku memutuskan untuk mengantarnya pulang, tidak enak pada orang tuanya kalau aku terlalu lama menahannya di rumahku. Hasilnya, selama seminggu penuh ini Eun Mi terus berada di dalam pikiranku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku jadi seperti ini. Suka padanya? Entahlah, aku tidak tahu soal perasaanku sendiri. Dari pagi aku tidak ada kerjaan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sekolah Eun Mi, seharusnya ia sudah selesai sekolah jam segini, setidaknya aku ingin melihatnya, memastikan keadaannya, melihat wajahnya, mendengar suaranya, atau apapun itu yang bisa menghilangkan perasaan rinduku ini. Ya ampun, kenapa aku jadi berlebihan begini?

Benar dugaanku, sekolahnya sudah selesai. Aku menunggu di dekat gerbang, mencari sosok yang kukenal, walau hanya dua orang yang kukenal di sekolah ini, Eun Mi dan Sun Hee, temannya. Yak! Akhirnya aku menemukan sosok Eun Mi yang sedang berjalan bersama Sun Hee.

“Ya! Lee Eun Mi!” panggilku ketika ia sudah cukup dekat. Eun Mi menoleh, ia menatapku bingung.

“Hankyung oppa? Ada apa? Tumben ke sini,” katanya.

Eun Mi’s POV

“Ya! Lee Eun Mi!” sebuah suara memanggilku. Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat orang yang sangat kukenal.

“Hankyung oppa? Ada apa? Tumben ke sini,” kataku sambil menatapnya.

“Nggak apa-apa, iseng aja,” jawabnya. Ia tidak mengatakan yang sebenarnya, aku bisa melihat dari matanya.

“Aku baru tahu oppa nggak pintar bohong,” ejekku.

“Haha. Ehem, gimana ngomongnya ya?” ia terlihat bingung.

“Hey, hey. Aku dicuekin nih?” Sun Hee protes karena dari tadi ia tidak diajak bicara.

“Ah! Mianhae,” balas Hankyung, ia hanya cengar cengir.

“Em… Mendingan kita pergi ke tempat lain, nggak enak ada anak-anak lain di sini,” usulku dan langsung disetujui yang lain.

Akhirnya kami bertiga berjalan ke taman dekat sekolah, sekaligus taman di mana pertama kali aku bertemu dengan Hankyung. Ah… sangat rindu saat-saat itu. Lucu kalau mengingatnya kembali, saat aku menanggapinya dengan sinis, tanpa peduli padanya. Ternyata hukum karma memang ada, setelah aku beranggapan bahwa dia orang yang sok kenal dan sok mengerti semuanya, ternyata aku malah menyukainya. Baiklah, kuakui, aku sudah menyukainya, lebih dari sekedar suka sebagai oppa ataupun teman. Aku menyukai dia sebagai seorang namja, tapi perasaan ini tak mungkin kukatakan pada siapapun, kecuali Sun Hee, temanku yang paling bisa dipercaya. Sun Hee mendukungku soal ini, tapi aku tak tahu bagaiman perasaan Hankyung padaku, dan aku tak berminat menanyakannya, apalagi menyatakan perasaanku. Jujur, aku takut kalau ia bilang tidak, takut kalau ternyata ia hanya menganggapku teman. Aku takut mengetahui kenyataan, walaupun cepat atau lambat pasti aku harus menghadapi kenyataan.

Hankyung’s POV

Aku tak tahu harus bicara apa. Dari tadi sejak duduk-duduk di taman ini, aku hanya diam. Begitupun Eun Mi dan Sun Hee.

“Kangen,” aku berkata jujur hingga membuat Eun Mi menoleh padaku, lalu ia tertawa.

“Aduh, bercandanya lucu sekali,” katanya.

“Terserah apa katamu,” kata-kataku agak dingin, tapi aku benar-benar merasa canggung kalau di dekatnya.

“Ah… masa begitu aja marah? Aku juga kangen kok,” balasnya sambil tersenyum. Senyumannya benar-benar langsung ‘mengena’. Aku diam, sepertinya mukaku memerah. Cepat-cepat kupalingkan wajahku ke arah lain, agar tak terlihat olehnya.

“Kamu benar-benar harus tanggung jawab,” kataku reflek.

“Apa? Tanggung jawab apa?” ternyata Eun Mi mendengar kata-kataku, walau aku mengatakannya sangat pelan.

“Bukan apa-apa,” aku tak mau mengaku. “Kamu harus tanggung jawab karena membuatku seperti ini. Membuatku… menyukaimu.” itulah yang sebenarnya ingin kukatakan, tapi aku diam saja, tak mungkin tiba-tiba aku bicara begitu, aku yakin dia bingung dan akan menganggapku bercanda. Sudahlah, lupakan. Tak perlu kukatakan hal itu padanya. Lagipula aku belum terlalu yakin pada perasaanku, apakah aku benar-benar menyukainya atau tidak.

“Mianhae, aku baru ingat ada janji. Kapan-kapan kita ketemu lagi,” kataku tiba-tiba. Aku tidak punya alasan lain untuk pergi dari situ. Aku meninggalkan mereka berdua, tanpa menatap mereka kembali, aku tahu sikapku ini keterlaluan, tapi aku harus menghilangkan perasaan aneh ini, ya, itulah jalan terbaik, lebih baik aku tak menyukainya, lebih baik bila aku hanya menganggapnya teman, walalupun… sakit.

“Heechul hyung? Aku mau bicara,” kataku setelah menelepon Heechul, hyungku yang paling dekat denganku.

***

“Apa? Menyukai seseorang?” Heechul seolah tak percaya padaku setelah aku menceritakan semuanya.

“Sepertinya begitu, tapi aku sudah memutuskan untuk melupakan perasaan ini. Aku ingin dia mendapatkan yang terbaik, dan aku bukan yang terbaik untuknya,” jawabku serius.

“Kenapa kau beranggapan seperti itu?” tanya Heechul.

“Aku tak ingin menyakitinya. Perbedaan umur kami terlalu jauh, pekerjaanku juga membuat aku tak akan bisa berada di sisinya,” aku melanjutkan.

“Umur tak jadi masalah, toh kau baru 22 tahun kan, perbedaan umur 6 tahun itu nggak jauh lho,” Heechul menasehatiku. “Lalu, soal pekerjaan, ia harus belajar menerima semuanya, kalau ia mau bersamamu,”

“Belum tentu dia suka padaku, hyung. Kau tau lah, di umur 16 tahun itu masih labil, perasannya masih gampang untuk berubah. Sekalipun ia menyukaiku, pasti dengan cepat ia bisa menyukainya orang lain dan melupakan aku. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya,” jelasku.

“Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini? Setahuku kau nggak pernah memikirkan perasaan seorang yeoja sampai sedalam itu,” Heechul bingung melihat perubahan sikapku.

Aku hanya menggeleng pelan, tanda bahwa aku sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa aku berubah seperti ini. Dulu aku memang orang yang dingin, tak berperasaan, Heechul lah yang pertama kali membuatku memikirkan perasaan orang, tapi tak sedalam aku memikirkan perasaan Eun Mi, ya, memang benar apa katanya, aku berubah, sangat drastis.

Eun Mi’s POV

Dadaku terasa benar-benar sakit. Kenapa ia meninggalkanku seperti itu? Tanpa menoleh ke belakang, nada bicara yang dingin, seolah ia membenciku. Memang ia bilang akan bertemu lagi, tapi aku takut ia tak mau bertemu lagi denganku. Perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu, membuatku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Sudahlah, jangan pesimis begitu. Mungkin moodnya lagi jelek hari ini,” Sun Hee menghiburku.

Air mataku sudah sedikit keluar, tapi aku masih berusaha menahannya.

“Kalau mau nangis jangan ditahan,” kata-kata Sun Hee mengingatkanku pada Hankyung, ia juga pernah mengatakan hal yang sama, dan itu membuatku benar-benar tak bisa menahan air mata.

Aku benar-benar takut. Takut ia membenciku, takut ia meninggalkanku, takut ia tak memilihku. Aku tahu sikapku ini egois, tapi aku benar-benar menyukainya. Baru kali ini aku menyukai seseorang sampai seperti ini. Seumur hidup, aku tidak pernah menangis gara-gara seorang namja, Hankyung lah namja pertama yang bisa membuatku menangis, sekaligus namja pertama yang bisa membuatku nyaman ketika berada di dekatnya. Aku tahu aku memang bodoh, berharap terlalu jauh, tapi inilah perasaanku yang sebenarnya. Andai ia bisa mendengar suaraku, aku ingin teriak sekencang-kencangnya.

“Aku ini… bodoh ya?” tanyaku pada Sun Hee setelah tangisanku agak mereda.

“Bodoh? Ya nggak lah! Menyukai seseorang itu biasa,” Sun Hee menyemangatiku.

“Dia 6 tahun lebih tua dariku, ia lebih mengerti semuanya, dia juga baik, dan… semua yang ada dalam dirinya seolah perfect. Padahal aku baru mengenalnya, tapi kenapa aku begini? Bukankah aku salah?” air mataku mulai keluar lagi.

“Nggak. Kamu sama sekali nggak salah. Wajar aja kamu suka padanya, aku juga pernah begitu kok, menyukai seseorang yang baru kukenal. Kalau kamu benar-benar suka padanya, apa salahnya berharap?” Sun Hee meyakinkanku.

“Lalu, aku mesti gimana?” tanyaku.

“Kalau saranku sih, biarkan saja semuanya berjalan dulu, kita lihat situasinya,” Sun Hee memberi pendapat.

“Sun Hee, kau tahu kenapa aku bilang kalau aku ini bodoh?” tanyaku membuat Sun Hee menggeleng.

“Kau jarang nonton TV sih,” keluhku. “Dia itu artis, baru debut,” jelasku dengan singkat, tapi cukup membuat Sun Hee melongo.

“Hah!? Kau serius?” tanyanya tak percaya.

“Ya. Sering-sering lihat TV deh, di berita-berita sering kok, tentang boyband bernama Super Junior yang baru debut, dan salah satu membernya adalah dia, Hankyung,” kataku lagi.

Sun Hee diam, tak tahu harus bicara apa. Aku juga diam, aku sadar bahwa Hankyung terlalu jauh, meskipun dia baru debut, dan aku sudah mengenalnya, tapi pasti dia akan tambah menjauh, dan membuatku sakit hati, apa lebih baik kulupakan dia? Kuanggap dia sebagai teman, atau oppa saja?

Hankyung’s POV

Setelah lega bercerita pada Heechul, aku langsung pulang dan merebahkan diri di kasur. Mataku terasa berat, tapi aku tak bisa tidur, kuambil HP ku dan segera kutekan tombol ‘call’ pada contact Eun Mi.

“Mianhae…,” kataku pelan setelah teleponku diangkat.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Tadi, aku seenaknya meninggalkanmu,” aku menjelaskan, sambil berharap dia memaafkanku.

“Oh, itu. Nggak masalah,” jawabnya singkat.

“Kamu marah?” tanyaku khawatir.

“Nggak,” ia masih berbicara dengan singkat, sangat singkat.

“Bisa ketemu? Ada yang perlu kubicarakan,” kataku serius.

***

Aku menunggunya di tempat biasa, taman dekat sekolahnya. Aku hanya duduk di situ, merenungkan semua kata-kata yang harus kukatakan padanya. Udara masih sangat dingin, walaupun salju tidak terlalu tebal. Kulirik jam tanganku sebentar, ternyata baru jam 6 sore, tapi hari sudah sangat gelap. Kupikirkan lagi kata-kata Heechul padaku tadi.

“Kalau kau benar-benar menyukainya, jangan pandang faktor umur, status, pekerjaan atau apapun itu. Karena kalau kau begitu terus, seumur hidup kau tak akan mendapatkan orang yang kau cintai. Kau selalu melihat segala sesuatunya dari sudut pandangmu sendiri. Coba bayangkan jika kau berada di posisi Eun Mi, kalau ia juga menyukaimu, bukankah keputusanmu malah membuat dia sakit dan sedih? Coba pikirkan dulu, lihat situasinya baik-baik, pastikan perasaannya, baru ambil kesimpulan, jangan egois, mengambil kesimpulan sendiri. Kau dengan enaknya beranggapan bahwa ia bisa lebih bahagia tanpamu. Ingat, kehilangan orang yang kita sayangi, rasanya seperti diiris-iris! Sakit sekali,”

“Lalu aku harus lakukan apa?” aku meminta pendapatnya lagi.

“Seperti yang kubilang tadi, lihat situasinya dulu, pahami dengan benar kondisinya, perasaannya, baru ambil kesimpulan,”

Kedatangan Eun Mi membuyarkan lamunanku.

“Orang tuaku sedang pergi, rumahku kosong, aku nggak bisa lama-lama,” katanya dingin.

Ia menatapku, pandangannya terlihat lesu, ia seperti kecapekan, matanya juga agak merah, sepertinya habis menangis. Aku jadi merasa bersalah sendiri.

“Habis nangis?” tanyaku polos. Ia tak menjawab. Sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, aku langsung berdiri dan memeluknya.

“Mianhae,” bisikku. Ia masih diam, tapi tak lama kemudian kudengar suara tangisannya.

“Hey, jangan nangis dong, aku jadi merasa tambah bersalah,” aku coba menenangkannya.

“Habis… oppa benar-benar jahat. Tiba-tiba seperti tadi, lalu sekarang tiba-tiba jadi baik lagi. Sebenarnya mau apa? Mempermainkan perasaanku?” tanyanya agak emosi.

“Mianhae… Aku tahu aku salah,” aku benar-benar bingung mau bilang apa lagi, wajar saja ia marah, karena sikapku keterlaluan. Aku mendekatinya, lalu mengalungkan kalung silver yang dari dulu ingin kuberikan padanya.

“Simpan itu,” kataku. “Aku percayakan kepadamu. Jangan tanya aku apa arti bentuk itu, karena jujur, aku juga tidak tahu,” kataku jujur. Kulihat ia sudah berhenti menangis, hatiku sedikit lega.

Akhirnya kami duduk di situ, tapi masih saling diam.

“Sebenarnya…,” Eun Mi memulai pembicaraan.

“Hm? Kenapa?” tanyaku.

“Ada satu hal yang ingin kukatakan pada oppa,” katanya pelan, kulihat mukanya agak memerah, sepertinya aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Apa?” tanyaku sambil melihat ke arah lain, berusaha menyembunyikan senyumku, karena aku tahu apa yang akan dikatakannya.

“Hankyung oppa, saranghae,” katanya pelan, sangat pelan, membuatku nyaris tak mendengarnya.

“Heechul hyung, aku tak perlu menunggu melihat situasi lagi, sekarang sudah jelas semuanya,” kataku dalam hati.

“Ya! Dengar nggak!?” tanya Eun Mi tiba-tiba.

“Nggak,” jawabku iseng, aku ingin dia mengatakannya lagi.

“Ya sudah, aku mau pulang, capek,” katanya pasrah. Tapi aku menahannya.

“Bilang sekali lagi,” kataku iseng, membuat mukanya tambah merah, padahal aku sendiri sudah merasa panas, sampai-sampai salju yang mengenai mukaku pun tidak dapat kurasakan.

Ia diam, aku pun menunggunya. Tapi ia tiba-tiba dengan lemas memelukku, membuatku cukup kaget.

“Saranghae,” katanya pelan, lalu ia menutup matanya. Aku panik melihat keadaannya, tapi ia ternyata tidak apa-apa, hanya kecapekan dan tertidur. Aku tak punya pilihan lain selain membawanya dengan cara menggendongnya.

Eun Mi’s POV

Aku membuka mataku perlahan, kutatap langit-langit kamar. Aku menoleh ke kiri, dan kulihat sebuah jendela di samping tempat tidur, tapi jendela itu tidak familiar, seperti bukan jendela kamarku. Lalu aku menoleh ke kanan, aku terkejut, mendapati sosok Hankyung di situ. Ia duduk di lantai, kepalanya di tepi tempat tidur, sepertinya ia terus menungguiku semalaman. Matanya masih terpejam, ia tertidur, bahkan saat tidur pun, ia masih terlihat sangat manis. Aku mengusap pipinya pelan, sambil berharap ia tak bangun, tapi ternyata perkiraanku salah, ia segera membuka matanya, lalu menatapku tajam. Aku baru menyadari, matanya benar-benar indah, tatapannya yang tajam benar-benar menusuk, tapi menusuk dalam arti yang bagus, yang pasti membuat semua yeoja akan langsung menyukainya.

“Sudah bangun?” tanyanya sambil tersenyum. Ah, aku masih sangat menyukai senyumnya, itu menambah pesona pada wajahnya yang memang sangat tampan.

“Kemarin kamu pingsan, sepertinya kelelahan, jadi aku membawamu ke rumahku. Jangan berpikir macam-macam ya, aku nggak ngapa-ngapain selama kamu tidur,” wajahnya terlihat memerah.

Ternyata aku memang kelelahan, untungnya ada dia di sampingku kemarin, kalau tidak, aku tak tahu bagaimana nasibku.

“Aku percaya kok,” kataku sambil tersenyum. Ia menghela napas lega setelah aku mengatakan itu.

Ia berlutut, lalu kembali menatap wajahku dengan tajam. Mukanya terlihat serius.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

Ia diam seribu bahasa, tak mengatakan apa-apa, bahkan berekspresi pun tidak.

Tiba-tiba dengan cepat ia menundukkan kepalanya, mendekati wajahku. Lalu ia menciumku. Aku diam, bukannya tak bisa berontak, tapi aku tak mau berontak, karena aku sendiri sangat menyukainya, dan berharap ini semua bukan mimpi.

“Saranghae, Eun Mi,” katanya setengah berbisik di telingaku. Lalu ia menciumku sekali lagi.

“Kalung itu… aku disuruh memberikannya pada orang yang paling kusayangi, dan kuanggap bisa menjadi pendamping hidupku,” katanya pelan, membuat mukaku tambah panas, kurasa mukaku sudah semerah tomat sekarang.

Ia mendekati wajahku lagi, aku segera memalingkan wajah, tidak kuat menatap matanya.

“Udah ah!” kataku malu.

Ia menyentuh pipiku, membuatku menoleh dan menatapnya lagi, lalu ia tertawa.

“Kenapa sih?” tanyaku bingung.

“Mukamu… merah banget,” katanya di sela tawanya.

“Habis…,” kataku sambil cemberut.

“Ngomong-ngomong, mau pulang nggak? Atau mau nginep di rumahku?” ia mulai iseng lagi.

“Ya nggak lah! Aku benar-benar gila kalau berani nginep di sini,” bantahku.

***

Di sekolah aku hanya bengong, sambil sesekali senyum-senyum. Sun Hee menatapku dengan pandangan bingung sampai pulang sekolah.

“Eun Mi, kau gila ya?” Tanya Sun Hee. “Kemarin nangis, sekarang senyum-senyum sendiri, apa yang terjadi?”

“Jangan –jangan… udah jadian!!??” Sun Hee mengambil kesimpulan sendiri karena aku hanya diam.

“Ssstt! Jangan teriak-teriak dong!” kataku berusaha menenangkan Sun Hee.

Aku menceritakan semua yang bisa kuceritakan sambil jalan keluar sekolah. Kulihat ‘someone special’ sudah menungguku di luar XD .

“Ada yang perlu kubicarakan denganmu, penting. Mianhae Sun Hee, kupinjam temanmu,” kata-kata Hankyung sangat di luar dugaanku.

“Aku harus pergi sementara, ke Jepang. Kamu tahu kan grup ku baru saja debut, kami harus melakukan sesuatu di Jepang,” Hankyung menjelaskan, membuatku cukup kaget.

“Berapa lama?” tanyaku.

“Entah, tapi tidak akan lama,” jawabnya. Aku langsung memeluknya.

“Ya sudah, aku tidak mau egois, karena ini pekerjaanmu juga, aku harus memaklumi dan menerima apapun yang oppa lakukan,” kataku.

“Gomawo, aku senang kamu bisa mengerti, memang nggak salah aku memilihmu,” katanya sambil tersenyum, lalu ia mengecup keningku.

“Mianhae baru bilang sekarang, sebenarnya aku harus pergi hari ini juga, aku nggak tega bilang ke kamu, jadi baru bisa ngomong hari ini,” lanjutnya.

“Nggak apa-apa, yang penting oppa udah bilang ke aku, daripada langsung pergi tanpa bilang apa-apa,” kataku sambil tersenyum.

“Ehem, bukan mau mengganggu, tapi kita udah mesti pergi nih,” kata seseorang di belakang Hankyung. “Heechul imnida,” lanjutnya karena melihatku menatapnya bingung.

“Lee Eun Mi imnida,” kataku sambil sedikit membungkuk. “Sudah mau pergi ya? Sampai ketemu lagi,” aku tersenyum menatap Hankyung.

“Ya, jangan sampai karena kutinggal sebentar kamu pindah ke lain hati, arasso?” kata Hankyung sedikit bercanda.

“Ne. Tenang aja, nggak ada yang bisa gantiin oppa,” balasku membuatnya terlihat lega. Lalu ia berjalan pergi, meninggalkanku… untuk sementara.

***

3 minggu kemudian…

Aku tidur-tiduran di kasur, hari minggu memang membosankan, tak ada yang bisa dilakukan. Sun Hee sedang pergi bersama keluarganya, aku tak bisa main ke rumahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar jalan-jalan, aku merasa bisa mati bosan kalau terus di rumah. Aku hanya berjalan-jalan ke sekitar rumah dan sekolah, dan menatap taman itu, yang tak lain adalah tempat yang sangat berharga buatku. Aku tersenyum, tapi air mataku menetes. Aku sangat rindu padanya, Hankyung oppa, orang yang benar-benar kusayangi, sudah lama tak melihatnya ataupun mendengar suaranya, aku pernah beberapa kali menelpon, tapi tidak diangkat, mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sms ku pernah beberapa kali dibalas, dan aku merasa itu sudah cukup bagiku. Entah kapan dia kembali, rasanya aku ingin menyusulnya ke sana, tapi aku tahu itu tidak mungkin. Aku duduk di bangku tempat pertama kali aku bertemu dengan Hankyung, sambil terus memikirkannya.

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, aku kaget, dengan cepat aku menoleh, dan kudapati orang yang sedari tadi berkeliaran di dalam pikiranku sudah berdiri di situ.

“Hey.. kok nangis?” sapanya.

Spontan aku langsung memeluknya dengan erat, 3 minggu tanpanya serasa 3 tahun buatku, ia mengelus kepalaku lembut.

“Maaf ya, baru pulang sekarang, aku akan berusaha supaya nggak jauh-jauh lagi deh,” katanya sambil menatapku tajam. Aku mengangguk pelan.

“Aku udah menaati janji, nggak pindah ke lain hati, sekarang oppa harus dengar kata-kataku,” kataku sambil tersenyum iseng.

“Nggak usah ngomong, aku udah tau kamu mau minta apa,” balasnya, lalu ia menciumku cukup lama.

Aku merasa jadi orang paling beruntung di dunia, mempunyai orang sebaik Hankyung oppa di sisiku, aku yakin ia akan menepati janjinya, tak akan jauh-jauh dariku, akan berada di sisiku, selamanya…

The End~

————————————————

Akhirnya part 2 pun selesai!! ^_^ mianhae, lama banget part 2 nya, soalnya situasi nggak mendukung buat ngelanjutin ff ini… mianhae juga kalo ceritanya kurang bagus, atau alurnya kelamaan, otakku bener-bener berputar keras buat bikin ff ini, tapi jadinya yah begini.. hehehe.

Aku perlu comment-comment kalian buat memperbaiki kesalahan dan bikin ff yang lebih bagus lagi, jadi, please comment yaa.. oh ya, mungkin ada dari kalian yang bingung kenapa ff ini judulnya Love ‘Storm’ sebenernya, aku sendiri juga nggak tahu (gubrak!!) Cuma tiba-tiba aja ide judul ini muncul, anyway, gomawo yang udah baca! ^_^

Love,

Lee Eun Mi

Author

 
2 Comments

Posted by on June 8, 2011 in Romance

 

KyuMin couple story : Love is you PART 2 (END)

MIN HEE’S POV

Ah.. Sudah 3 bulan terakhir aku tidak berjumpa dengan namja itu lagi. Apa kabarnya ya? Apa dia masih baik baik saja? Masih dengan sifat ketusnya? Hahaha.. Apa dia juga masih………… mencintai gadis itu?

Aku sedang asik dengan duniaku sendiri ketika kudengar pintu di buka..

“Selamat datang” sambutku dengan ramah. Aku terkejut ketika kulihat siapa yang datang.. Namja itu.

Entah karena memang sudah lama tak melihatnya atau apa. Aku merasa hari ini dia 10x lebih tampan dari biasanya. Dia mengenakan kaus hitam yang dipadukan dengan celana jeans, dengan rambut sedikit berantakan yang justru membuatnya lebih… mempesona?

“Berapa ini?” tanyanya menyadarkanku.

“Eh,.. mmh.. 200.000” jawabku dengan salah tingkah.

Aku menghindari bertatap wajah denganya. Aku takut hatiku berantakan lagi. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

Baru saja aku akan berbalik ketika dia dengan paksa mengangkat daguku dan menyelusuri setiap inci wajahku dengan matanya.

“Wajah ini.. Lama sekali aku tidak melihatnya” ujarnya sembari melihatku.

“Maaf, ini tempat kerja. Walaupun kau seorang pengunjung, tetap tidak di perkenankan untuk berlaku seperti ini” Ujarku sambil menurunkan kembali wajahku.

Aku mendongak menatap wajahnya.

Eh..? Apa aku tidak salah lihat? Sesaat tadi.. Kulihat tatapan sakit hati di matanya? Apa maksudnya?

Namja itu! Membingungkan!!

Waktu itu dia meninggalkanku. Sekarang malah sepertinya ia menginginkan aku kembali? Apa maksudnya?? Untuk di permainkan kah? Dasar namja tak waras!

***

KYUHYUN’S POV

Dengan paksa ku angkat dagunya.. Dan dengan mataku aku menelusuri setiap inchi wajahnya. Wajahnya yang cantik.. Wajahnya yang lama kurindukan.

“Wajah ini.. Lama sekali aku tidak melihatnya” kataku sembari melihatnya.

“Maaf, ini tempat kerja. Walaupun kau seorang pengunjung, tetap tidak di perkenankan untuk berlaku seperti ini” Ujarnya sambil menurunkan kembali wajahnya.

Aku terhenyak ketika ia mengatakan hal itu. Begitukah? Sudah tak adakah sisa lagi perasaan untukku? Yah.. Wajar saja. Aku mengerti.. Ah~ tidak. Lebih tepatnya aku berusaha mengerti.

Aku melihatnya dengan hati sakit. Dan saat itu juga tatapan mata kami bertemu. Ia seperti terkejut melihatku, lalu kemudian berekspresi bingung.

Dengan gontai aku berjalan keluar. Kecewa.

***

“Yak! Cho Kyuhyun!!”  seru sebuah suara yang bisa ku pastikan itu adalah suara Heechul hyung.

“Apa lagi?” ujarku tak sabar.

“Kau ini!! Ada apa sih?” tanyanya dengan wajah bingung.

“Tidak apa apa. Ada apa?”

“Siwon satu minggu lagi akan menikah. Aku hanya mau menyampaikan undanganya.” Ujar Heechul hyung sembari menyerahkan sebuah undangan padaku.

Siwon hyung.. Kehidupanya begitu indah. Enak sekali dia.. Memiliki Hana sebagai istrinya. Kalau saja saat itu Hana tidak bertemu Siwon hyung, apa aku.. yang akan menjadi mempelai prianya?

Ah~ tapi aku tak lagi perduli.. Saat ini, aku hanya merindukan Min Hee.. Yeoja itulah yang saat ini bercokol di otakku tanpa mau pergi.

“Yak! Cho Kyuhyun! Sebenarnya sejak kapan kau mulai melamun begitu?? Apakah sekarang melamun itu lebih menarik dari PSP tercintamu itu??” tanya Heechul hyung yang di sertai dengan tatapan bingung.

Jelas saja, biasanya kapanpun dan dimanapun jika aku memiliki waktu luang, PSP cintaku itulah yang menemaniku. Bahkan terkadang aku sedikit melupakan Hana.

Tapi Min Hee.. Yeoja itu.. Bahkan mampu membuatku memikirkanya melebihi PSPku..

“Ah sudahlah! Apapun pertanyaanku tak kau jawab! Melamunlah! Asyiklah dengan duniamu! Sejak dulu sepertinya kau tidak normal. Dulu selalu berkencan dengan PSP dimana mana. Sekarang malah melamun terus!” ujar Heechul hyung dengan kesal sembari meninggalkanku.

Hmm.. Tak hanya kau hyung, yang bingung. Akupun juga..

***

Waktunya sudah tiba. Aku menatap puas pada penampilanku hari ini. Aku memakai setelan jas hitam yang aku yakin akan membuat yeoja manapun menoleh melihatku.

Hari ini adalah hari pernikahan Siwon hyung dengan Hana.

Hana.. gadis itu.. aku sudah lama tak melihatnya. Aku tak tahu lagi kabar tentangnya. Lebih tepatnya, tak tertarik untuk tahu.

Untuk apa? Toh dia sudah mencampakkanku dan memiliki Siwon hyung.

Hari ini adalah hari pernikahan gadis itu.. dengan Hyungku.

MIN HEE’S POV

Kutatap diriku di cermin. Dan aku tersenyum puas.

Aku yakin hari ini aku sangat cantik. Aku mengenakan dress berwarna soft orange dengan tali spaghetti yang membalut tubuhku dengan sempurna.

Lalu wajahku kubiarkan alami dengan diberi sedikit make up yang memolesnya.

Rambut bergelombangku ku biarkan tergerai sebagian, sedangkan bagian belakangnya ku ikat.

Aku puas dengan penampilanku. Sangat.

Hari ini adalah hari pernikahan sahabat baikku. Park Hana. Ia pasti sangat cantik nantinya.

Usai bersiap aku segera berjalan keluar, dan bersiap menuju ke pesta.

***

KYUHYUN’S POV

Sesuai dugaan, pestanya sangat ramai. Dan perkiraanku tepat. Begitu banyak yeoja yang menoleh melihatku. Aku memang sangat tampan kan? ^_^

Aku berjalan berkeliling, menikmati tatapan yeoja yeoja yang kagum akan ketampananku. Kurasakan mereka berbisik bisik tentangku.

Aku berjalan mengambil minuman. Dan meneguknya. Menikmati minuman itu membasahi kerongkonganku.

Baru saja aku selesai meneguk minuman itu, ketika kudapati semua mata tertuju pada satu arah. Dan ketika kulihat arah itu… Degg!!

Aku merasa jantungku berhenti sesaat. Dan berdetak tak beraturan.

Yeoja itu.. Aku baru menyadari betapa cantiknya dia..dan, betapa aku merindukanya.

Dia melihat ke arahku sesaat. Kemudian berpaling lagi.

Bagitu menyedihkanyakah aku dimatanya?

***

MIN HEE’S POV

Kudapati seluruh ruangan menatapku ketika aku membuka pintu. Apa ada yang salah dengan penampilanku? Ah ~ tidak.

Sesaat aku merasakan suatu aura aneh, dan ternyata benar dugaanku. Namja itu.. ada di sini.

Aku melihat sebentar ke arahnya. Lalu berpaling. Tidak. Aku tak mau menatapnya lebih lama lagi. Aku tak mau memiliki perasaan apapun untuknya.

***

Pesta hampir usai. Aku juga sudah mulai lelah. Tapi Hana bilang ia mau berbicara sebentar padaku. Mau tak mau, aku harus menunggunya.

Aku memutuskan untuk menunggu Hana di taman belakang.

Ah~ segarnya angin malam. Sangat nikmat saat angin itu menyentuh kulitku. Seperi bulu bulu halus yang tak tampak. Menerbangkan anak anak rambutku. Membuatku nyaman dengan buaian angin itu

Lagi lagi aku terpikir soal namja itu..

Kyuhyun.. Cho Kyuhyun. Kenapa namja itu aneh sekali?

Waktu itu ia menolaku habis habisan. Bersikap ketus padaku. Bahkan membiarkanku menunggunya seperti orang bodoh di tengah tengah hujan.

Tapi sekarang? Ia seolah ingin menariku kembali menatapnya. Apa ia memang sengaja ingin mempermainkanku???

Rasanya ingatanku akan namja itu sulit dihilangkan..

Semuanya bagaikan rentetan film dan berputar dikepalaku.

Namja itu dengan sifat ketusnya, ketidak pedulianya, saat dia menolakku dan membiarkan aku menunggu dalam hujan.

Tunggu. Membiarkanku? Apa benar ia membiarkanku begitu saja? Jika ia memang membiarkanku, mengapa tatapanya begitu.. sedih?

Sekali lagi aku menikmati angin malam. Kubiarkan mataku terpejam dan aku tenggelam dalam pikiranku. Lalu kurasakan seseorang ada di sampingku. Sesaat aku berpikir, apakah ini hanya imajinasi?

Aku membuka mata untuk memastikan, dan seketika itu juga, aku menatapnya. Namja itu. Namja yang menyita perhatianku, pikiranku, hatiku.

“Mau apa kau kesini?” tanyaku ketus.

“Apakah tempat ini hanya milikmu?” jawabnya dengan nada cuek.

“tidak. Kalau begitu aku pergi. Permisi” Ujarku menyingkir.

Baru saja aku hendak berjalan pergi ketika kurasakan jari jemarinya menahanku untuk pergi.

“Jangan pergi. Jangan menjauh dariku. Tetaplah disini.. Kumohon, Min Hee..” ujarnya dengan suara gemetar..

Namja ini.. Sebenarnya mau apa?

***

KYUHYUN’S POV

Aku merangkul erat pinggangnya, menahanya untuk pergi. Tidak, aku tak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya.

“Jangan pergi. Jangan menjauh dariku. Tetaplah disini.. Kumohon, Min Hee..” ujarku dengan suara gemetar menahan emosiku.

Ia menatapku sesaat dengan bingung. Aku tahu. Ia berpikir seolah olah aku mempermainkanya.

“Maafkan aku waktu itu tidak datang, aku tidak bermaksud untuk tidak datang aku hanya..” aku belum sempat menuntaskan apa yang ingin aku bicarakan. Dia sudah memotong perkataanku duluan.

“Kau hanya terlalu mengingat mantanmu. Benar ?” ujarnya memotong perkataanku.

“Tidak. Aku.. Waktu itu aku melihat temanku menangis di taman..” ujarku. Lalu aku menceritakan semuanya. Kejadian hari itu. Ia mengangguk dan seolah mengerti perkataanku. Lalu tersenyum tipis.

“Jadi apa kau memaafkanku?” tanyaku sembari menatap ke manik matanya. Indah. Benar benar indah.

“Iya. Aku memaafkanmu.” Jawabnya singkat.

Ia memaafkanku? Ketika mendengar perkataan itu, rasanya aku memiliki seluruh dunia di tanganku.

“Hei, boleh aku tahu siapa mantanmu itu?” tanyanya padaku.

“Hana” jawabku singkat padanya. Sesaat ia terkejut, lalu muncul rasa tak rela di matanya. Aku tahu apa yang dia pikirkan.

“Kau tak perlu khawatir soal Hana, Min Hee. Perasaanku padanya sudah tak bersisa. Lagipula sekarang ia sudah memiliki Hyungku. Aku sudah merelakanya. Dan sekarang aku sudah memiliki calon istriku sendiri” ujarku padanya sembari menatapnya.

Ia membelalakkan matanya yang besar, seolah terkejut mendengar perkataanku.

Angin bertiup menghembus perlahan. Kuamati anak anak rambutnya yang berterbangan berantakan. Membuat yeoja itu menjadi semakin cantik.

Aku tidak lagi dapat mengontrol pikiranku. Aku meraih pinggangnya, dan kemudian menatapnya lekat lekat ke manik matanya. Aku merangkulnya semakin erat, seolah meluluhkan batas di antara kami. Aku meraih tengkuknya, dan mengecup bibirnya perlahan, menikmati ciuman itu. Malam itu bulan sedang utuh, dan menjadi saksi hati kami berdua.

“Saranghae..” bisikku di telinganya lembut.

Ia menggeliat geli. Dan kedua pipinya bersemu merah. Ah~ lucunya yeoja ini. Ujarku sembari mengulum senyum.

Aku merangkul lagi pinggangnya dan menciumnya sekali lagi.

“Hey kau belum menjawab perkataanku..” Ujarku padanya.

“Apa ada yang perlu kujawab?” tanya Min Hee kepadaku.

“Kau ini. Apa kau pikir aku ini seorang pembaca pikiran??”

“Tak perlu untuk menjadi seorang pembaca pikiran untuk mengetahui pikiranku. Semua orang juga bisa. Jawabanya sudah jelas,..” jawabnya menatap ke manik mataku.

Aku tak bisa menjawabnya.. Aku tahu sekarang, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan.

Malam itu di bawah sinar bulan yang remang remang, dengan di temani hembusan angin, aku hendak mengikatnya kepadaku seumur hidup..

“Be my bride?” tanyaku menatapnya.

Ia menatap sebentar kedalam mataku. Melingkarkan tanganya di leherku, dan membisikan sebuah jawaban, yang membuatku merasa bahwa hidupku akan lebih indah.

Yes..”

Selamanya, aku tahu kita akan bersama. Sekalipun kita terpisah sejauh apapun, saat tiba waktunya, dengan cara apapun, kita akan berjumpa. 

***

Finish!! part 2 ini ending..

aduuh buat ini agak ngebut. Ehh iya maaf kalo ffnya singkat.. namanya juga newbie hwhwhwhw

dimohon komenya yaa akan kurang2nya!! 🙂

Gomawoo ~~

 
1 Comment

Posted by on June 1, 2011 in Romance