RSS

HanEun couple: Love Storm (Part 2-End)

08 Jun

author: blue9-2 (Lee Eun Mi ^_^)

Hankyung’s POV

Satu minggu sudah berlalu sejak aku mengenalnya, mengenal Lee Eun Mi, seorang yeoja yang menarik yang pernah kutemui. Aku pertama kali bertemu dengannya secara tidak sengaja, hanya kebetulan melihatnya yang sedang ada masalah. Aku tak menyangka… perasaanku padanya… bisa sampai seperti ini…

Kupegang erat kalung berwarna silver di tanganku, kalau dilihat dari bentuknya, memang tidak jelas berbentuk apa, tapi ini pemberian eomma ku sebelum aku memutuskan pindah ke Korea, dan benda inilah yang sebenarnya ingin kuberikan pada Eun Mi. Sejak ia ke rumahku terakhir kalinya, aku belum bertemu dengannya lagi. Waktu itu aku mencari-cari kalung ini, namun tidak kutemukan, jadi aku memutuskan untuk mengantarnya pulang, tidak enak pada orang tuanya kalau aku terlalu lama menahannya di rumahku. Hasilnya, selama seminggu penuh ini Eun Mi terus berada di dalam pikiranku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku jadi seperti ini. Suka padanya? Entahlah, aku tidak tahu soal perasaanku sendiri. Dari pagi aku tidak ada kerjaan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sekolah Eun Mi, seharusnya ia sudah selesai sekolah jam segini, setidaknya aku ingin melihatnya, memastikan keadaannya, melihat wajahnya, mendengar suaranya, atau apapun itu yang bisa menghilangkan perasaan rinduku ini. Ya ampun, kenapa aku jadi berlebihan begini?

Benar dugaanku, sekolahnya sudah selesai. Aku menunggu di dekat gerbang, mencari sosok yang kukenal, walau hanya dua orang yang kukenal di sekolah ini, Eun Mi dan Sun Hee, temannya. Yak! Akhirnya aku menemukan sosok Eun Mi yang sedang berjalan bersama Sun Hee.

“Ya! Lee Eun Mi!” panggilku ketika ia sudah cukup dekat. Eun Mi menoleh, ia menatapku bingung.

“Hankyung oppa? Ada apa? Tumben ke sini,” katanya.

Eun Mi’s POV

“Ya! Lee Eun Mi!” sebuah suara memanggilku. Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat orang yang sangat kukenal.

“Hankyung oppa? Ada apa? Tumben ke sini,” kataku sambil menatapnya.

“Nggak apa-apa, iseng aja,” jawabnya. Ia tidak mengatakan yang sebenarnya, aku bisa melihat dari matanya.

“Aku baru tahu oppa nggak pintar bohong,” ejekku.

“Haha. Ehem, gimana ngomongnya ya?” ia terlihat bingung.

“Hey, hey. Aku dicuekin nih?” Sun Hee protes karena dari tadi ia tidak diajak bicara.

“Ah! Mianhae,” balas Hankyung, ia hanya cengar cengir.

“Em… Mendingan kita pergi ke tempat lain, nggak enak ada anak-anak lain di sini,” usulku dan langsung disetujui yang lain.

Akhirnya kami bertiga berjalan ke taman dekat sekolah, sekaligus taman di mana pertama kali aku bertemu dengan Hankyung. Ah… sangat rindu saat-saat itu. Lucu kalau mengingatnya kembali, saat aku menanggapinya dengan sinis, tanpa peduli padanya. Ternyata hukum karma memang ada, setelah aku beranggapan bahwa dia orang yang sok kenal dan sok mengerti semuanya, ternyata aku malah menyukainya. Baiklah, kuakui, aku sudah menyukainya, lebih dari sekedar suka sebagai oppa ataupun teman. Aku menyukai dia sebagai seorang namja, tapi perasaan ini tak mungkin kukatakan pada siapapun, kecuali Sun Hee, temanku yang paling bisa dipercaya. Sun Hee mendukungku soal ini, tapi aku tak tahu bagaiman perasaan Hankyung padaku, dan aku tak berminat menanyakannya, apalagi menyatakan perasaanku. Jujur, aku takut kalau ia bilang tidak, takut kalau ternyata ia hanya menganggapku teman. Aku takut mengetahui kenyataan, walaupun cepat atau lambat pasti aku harus menghadapi kenyataan.

Hankyung’s POV

Aku tak tahu harus bicara apa. Dari tadi sejak duduk-duduk di taman ini, aku hanya diam. Begitupun Eun Mi dan Sun Hee.

“Kangen,” aku berkata jujur hingga membuat Eun Mi menoleh padaku, lalu ia tertawa.

“Aduh, bercandanya lucu sekali,” katanya.

“Terserah apa katamu,” kata-kataku agak dingin, tapi aku benar-benar merasa canggung kalau di dekatnya.

“Ah… masa begitu aja marah? Aku juga kangen kok,” balasnya sambil tersenyum. Senyumannya benar-benar langsung ‘mengena’. Aku diam, sepertinya mukaku memerah. Cepat-cepat kupalingkan wajahku ke arah lain, agar tak terlihat olehnya.

“Kamu benar-benar harus tanggung jawab,” kataku reflek.

“Apa? Tanggung jawab apa?” ternyata Eun Mi mendengar kata-kataku, walau aku mengatakannya sangat pelan.

“Bukan apa-apa,” aku tak mau mengaku. “Kamu harus tanggung jawab karena membuatku seperti ini. Membuatku… menyukaimu.” itulah yang sebenarnya ingin kukatakan, tapi aku diam saja, tak mungkin tiba-tiba aku bicara begitu, aku yakin dia bingung dan akan menganggapku bercanda. Sudahlah, lupakan. Tak perlu kukatakan hal itu padanya. Lagipula aku belum terlalu yakin pada perasaanku, apakah aku benar-benar menyukainya atau tidak.

“Mianhae, aku baru ingat ada janji. Kapan-kapan kita ketemu lagi,” kataku tiba-tiba. Aku tidak punya alasan lain untuk pergi dari situ. Aku meninggalkan mereka berdua, tanpa menatap mereka kembali, aku tahu sikapku ini keterlaluan, tapi aku harus menghilangkan perasaan aneh ini, ya, itulah jalan terbaik, lebih baik aku tak menyukainya, lebih baik bila aku hanya menganggapnya teman, walalupun… sakit.

“Heechul hyung? Aku mau bicara,” kataku setelah menelepon Heechul, hyungku yang paling dekat denganku.

***

“Apa? Menyukai seseorang?” Heechul seolah tak percaya padaku setelah aku menceritakan semuanya.

“Sepertinya begitu, tapi aku sudah memutuskan untuk melupakan perasaan ini. Aku ingin dia mendapatkan yang terbaik, dan aku bukan yang terbaik untuknya,” jawabku serius.

“Kenapa kau beranggapan seperti itu?” tanya Heechul.

“Aku tak ingin menyakitinya. Perbedaan umur kami terlalu jauh, pekerjaanku juga membuat aku tak akan bisa berada di sisinya,” aku melanjutkan.

“Umur tak jadi masalah, toh kau baru 22 tahun kan, perbedaan umur 6 tahun itu nggak jauh lho,” Heechul menasehatiku. “Lalu, soal pekerjaan, ia harus belajar menerima semuanya, kalau ia mau bersamamu,”

“Belum tentu dia suka padaku, hyung. Kau tau lah, di umur 16 tahun itu masih labil, perasannya masih gampang untuk berubah. Sekalipun ia menyukaiku, pasti dengan cepat ia bisa menyukainya orang lain dan melupakan aku. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya,” jelasku.

“Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini? Setahuku kau nggak pernah memikirkan perasaan seorang yeoja sampai sedalam itu,” Heechul bingung melihat perubahan sikapku.

Aku hanya menggeleng pelan, tanda bahwa aku sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa aku berubah seperti ini. Dulu aku memang orang yang dingin, tak berperasaan, Heechul lah yang pertama kali membuatku memikirkan perasaan orang, tapi tak sedalam aku memikirkan perasaan Eun Mi, ya, memang benar apa katanya, aku berubah, sangat drastis.

Eun Mi’s POV

Dadaku terasa benar-benar sakit. Kenapa ia meninggalkanku seperti itu? Tanpa menoleh ke belakang, nada bicara yang dingin, seolah ia membenciku. Memang ia bilang akan bertemu lagi, tapi aku takut ia tak mau bertemu lagi denganku. Perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu, membuatku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Sudahlah, jangan pesimis begitu. Mungkin moodnya lagi jelek hari ini,” Sun Hee menghiburku.

Air mataku sudah sedikit keluar, tapi aku masih berusaha menahannya.

“Kalau mau nangis jangan ditahan,” kata-kata Sun Hee mengingatkanku pada Hankyung, ia juga pernah mengatakan hal yang sama, dan itu membuatku benar-benar tak bisa menahan air mata.

Aku benar-benar takut. Takut ia membenciku, takut ia meninggalkanku, takut ia tak memilihku. Aku tahu sikapku ini egois, tapi aku benar-benar menyukainya. Baru kali ini aku menyukai seseorang sampai seperti ini. Seumur hidup, aku tidak pernah menangis gara-gara seorang namja, Hankyung lah namja pertama yang bisa membuatku menangis, sekaligus namja pertama yang bisa membuatku nyaman ketika berada di dekatnya. Aku tahu aku memang bodoh, berharap terlalu jauh, tapi inilah perasaanku yang sebenarnya. Andai ia bisa mendengar suaraku, aku ingin teriak sekencang-kencangnya.

“Aku ini… bodoh ya?” tanyaku pada Sun Hee setelah tangisanku agak mereda.

“Bodoh? Ya nggak lah! Menyukai seseorang itu biasa,” Sun Hee menyemangatiku.

“Dia 6 tahun lebih tua dariku, ia lebih mengerti semuanya, dia juga baik, dan… semua yang ada dalam dirinya seolah perfect. Padahal aku baru mengenalnya, tapi kenapa aku begini? Bukankah aku salah?” air mataku mulai keluar lagi.

“Nggak. Kamu sama sekali nggak salah. Wajar aja kamu suka padanya, aku juga pernah begitu kok, menyukai seseorang yang baru kukenal. Kalau kamu benar-benar suka padanya, apa salahnya berharap?” Sun Hee meyakinkanku.

“Lalu, aku mesti gimana?” tanyaku.

“Kalau saranku sih, biarkan saja semuanya berjalan dulu, kita lihat situasinya,” Sun Hee memberi pendapat.

“Sun Hee, kau tahu kenapa aku bilang kalau aku ini bodoh?” tanyaku membuat Sun Hee menggeleng.

“Kau jarang nonton TV sih,” keluhku. “Dia itu artis, baru debut,” jelasku dengan singkat, tapi cukup membuat Sun Hee melongo.

“Hah!? Kau serius?” tanyanya tak percaya.

“Ya. Sering-sering lihat TV deh, di berita-berita sering kok, tentang boyband bernama Super Junior yang baru debut, dan salah satu membernya adalah dia, Hankyung,” kataku lagi.

Sun Hee diam, tak tahu harus bicara apa. Aku juga diam, aku sadar bahwa Hankyung terlalu jauh, meskipun dia baru debut, dan aku sudah mengenalnya, tapi pasti dia akan tambah menjauh, dan membuatku sakit hati, apa lebih baik kulupakan dia? Kuanggap dia sebagai teman, atau oppa saja?

Hankyung’s POV

Setelah lega bercerita pada Heechul, aku langsung pulang dan merebahkan diri di kasur. Mataku terasa berat, tapi aku tak bisa tidur, kuambil HP ku dan segera kutekan tombol ‘call’ pada contact Eun Mi.

“Mianhae…,” kataku pelan setelah teleponku diangkat.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Tadi, aku seenaknya meninggalkanmu,” aku menjelaskan, sambil berharap dia memaafkanku.

“Oh, itu. Nggak masalah,” jawabnya singkat.

“Kamu marah?” tanyaku khawatir.

“Nggak,” ia masih berbicara dengan singkat, sangat singkat.

“Bisa ketemu? Ada yang perlu kubicarakan,” kataku serius.

***

Aku menunggunya di tempat biasa, taman dekat sekolahnya. Aku hanya duduk di situ, merenungkan semua kata-kata yang harus kukatakan padanya. Udara masih sangat dingin, walaupun salju tidak terlalu tebal. Kulirik jam tanganku sebentar, ternyata baru jam 6 sore, tapi hari sudah sangat gelap. Kupikirkan lagi kata-kata Heechul padaku tadi.

“Kalau kau benar-benar menyukainya, jangan pandang faktor umur, status, pekerjaan atau apapun itu. Karena kalau kau begitu terus, seumur hidup kau tak akan mendapatkan orang yang kau cintai. Kau selalu melihat segala sesuatunya dari sudut pandangmu sendiri. Coba bayangkan jika kau berada di posisi Eun Mi, kalau ia juga menyukaimu, bukankah keputusanmu malah membuat dia sakit dan sedih? Coba pikirkan dulu, lihat situasinya baik-baik, pastikan perasaannya, baru ambil kesimpulan, jangan egois, mengambil kesimpulan sendiri. Kau dengan enaknya beranggapan bahwa ia bisa lebih bahagia tanpamu. Ingat, kehilangan orang yang kita sayangi, rasanya seperti diiris-iris! Sakit sekali,”

“Lalu aku harus lakukan apa?” aku meminta pendapatnya lagi.

“Seperti yang kubilang tadi, lihat situasinya dulu, pahami dengan benar kondisinya, perasaannya, baru ambil kesimpulan,”

Kedatangan Eun Mi membuyarkan lamunanku.

“Orang tuaku sedang pergi, rumahku kosong, aku nggak bisa lama-lama,” katanya dingin.

Ia menatapku, pandangannya terlihat lesu, ia seperti kecapekan, matanya juga agak merah, sepertinya habis menangis. Aku jadi merasa bersalah sendiri.

“Habis nangis?” tanyaku polos. Ia tak menjawab. Sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, aku langsung berdiri dan memeluknya.

“Mianhae,” bisikku. Ia masih diam, tapi tak lama kemudian kudengar suara tangisannya.

“Hey, jangan nangis dong, aku jadi merasa tambah bersalah,” aku coba menenangkannya.

“Habis… oppa benar-benar jahat. Tiba-tiba seperti tadi, lalu sekarang tiba-tiba jadi baik lagi. Sebenarnya mau apa? Mempermainkan perasaanku?” tanyanya agak emosi.

“Mianhae… Aku tahu aku salah,” aku benar-benar bingung mau bilang apa lagi, wajar saja ia marah, karena sikapku keterlaluan. Aku mendekatinya, lalu mengalungkan kalung silver yang dari dulu ingin kuberikan padanya.

“Simpan itu,” kataku. “Aku percayakan kepadamu. Jangan tanya aku apa arti bentuk itu, karena jujur, aku juga tidak tahu,” kataku jujur. Kulihat ia sudah berhenti menangis, hatiku sedikit lega.

Akhirnya kami duduk di situ, tapi masih saling diam.

“Sebenarnya…,” Eun Mi memulai pembicaraan.

“Hm? Kenapa?” tanyaku.

“Ada satu hal yang ingin kukatakan pada oppa,” katanya pelan, kulihat mukanya agak memerah, sepertinya aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Apa?” tanyaku sambil melihat ke arah lain, berusaha menyembunyikan senyumku, karena aku tahu apa yang akan dikatakannya.

“Hankyung oppa, saranghae,” katanya pelan, sangat pelan, membuatku nyaris tak mendengarnya.

“Heechul hyung, aku tak perlu menunggu melihat situasi lagi, sekarang sudah jelas semuanya,” kataku dalam hati.

“Ya! Dengar nggak!?” tanya Eun Mi tiba-tiba.

“Nggak,” jawabku iseng, aku ingin dia mengatakannya lagi.

“Ya sudah, aku mau pulang, capek,” katanya pasrah. Tapi aku menahannya.

“Bilang sekali lagi,” kataku iseng, membuat mukanya tambah merah, padahal aku sendiri sudah merasa panas, sampai-sampai salju yang mengenai mukaku pun tidak dapat kurasakan.

Ia diam, aku pun menunggunya. Tapi ia tiba-tiba dengan lemas memelukku, membuatku cukup kaget.

“Saranghae,” katanya pelan, lalu ia menutup matanya. Aku panik melihat keadaannya, tapi ia ternyata tidak apa-apa, hanya kecapekan dan tertidur. Aku tak punya pilihan lain selain membawanya dengan cara menggendongnya.

Eun Mi’s POV

Aku membuka mataku perlahan, kutatap langit-langit kamar. Aku menoleh ke kiri, dan kulihat sebuah jendela di samping tempat tidur, tapi jendela itu tidak familiar, seperti bukan jendela kamarku. Lalu aku menoleh ke kanan, aku terkejut, mendapati sosok Hankyung di situ. Ia duduk di lantai, kepalanya di tepi tempat tidur, sepertinya ia terus menungguiku semalaman. Matanya masih terpejam, ia tertidur, bahkan saat tidur pun, ia masih terlihat sangat manis. Aku mengusap pipinya pelan, sambil berharap ia tak bangun, tapi ternyata perkiraanku salah, ia segera membuka matanya, lalu menatapku tajam. Aku baru menyadari, matanya benar-benar indah, tatapannya yang tajam benar-benar menusuk, tapi menusuk dalam arti yang bagus, yang pasti membuat semua yeoja akan langsung menyukainya.

“Sudah bangun?” tanyanya sambil tersenyum. Ah, aku masih sangat menyukai senyumnya, itu menambah pesona pada wajahnya yang memang sangat tampan.

“Kemarin kamu pingsan, sepertinya kelelahan, jadi aku membawamu ke rumahku. Jangan berpikir macam-macam ya, aku nggak ngapa-ngapain selama kamu tidur,” wajahnya terlihat memerah.

Ternyata aku memang kelelahan, untungnya ada dia di sampingku kemarin, kalau tidak, aku tak tahu bagaimana nasibku.

“Aku percaya kok,” kataku sambil tersenyum. Ia menghela napas lega setelah aku mengatakan itu.

Ia berlutut, lalu kembali menatap wajahku dengan tajam. Mukanya terlihat serius.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

Ia diam seribu bahasa, tak mengatakan apa-apa, bahkan berekspresi pun tidak.

Tiba-tiba dengan cepat ia menundukkan kepalanya, mendekati wajahku. Lalu ia menciumku. Aku diam, bukannya tak bisa berontak, tapi aku tak mau berontak, karena aku sendiri sangat menyukainya, dan berharap ini semua bukan mimpi.

“Saranghae, Eun Mi,” katanya setengah berbisik di telingaku. Lalu ia menciumku sekali lagi.

“Kalung itu… aku disuruh memberikannya pada orang yang paling kusayangi, dan kuanggap bisa menjadi pendamping hidupku,” katanya pelan, membuat mukaku tambah panas, kurasa mukaku sudah semerah tomat sekarang.

Ia mendekati wajahku lagi, aku segera memalingkan wajah, tidak kuat menatap matanya.

“Udah ah!” kataku malu.

Ia menyentuh pipiku, membuatku menoleh dan menatapnya lagi, lalu ia tertawa.

“Kenapa sih?” tanyaku bingung.

“Mukamu… merah banget,” katanya di sela tawanya.

“Habis…,” kataku sambil cemberut.

“Ngomong-ngomong, mau pulang nggak? Atau mau nginep di rumahku?” ia mulai iseng lagi.

“Ya nggak lah! Aku benar-benar gila kalau berani nginep di sini,” bantahku.

***

Di sekolah aku hanya bengong, sambil sesekali senyum-senyum. Sun Hee menatapku dengan pandangan bingung sampai pulang sekolah.

“Eun Mi, kau gila ya?” Tanya Sun Hee. “Kemarin nangis, sekarang senyum-senyum sendiri, apa yang terjadi?”

“Jangan –jangan… udah jadian!!??” Sun Hee mengambil kesimpulan sendiri karena aku hanya diam.

“Ssstt! Jangan teriak-teriak dong!” kataku berusaha menenangkan Sun Hee.

Aku menceritakan semua yang bisa kuceritakan sambil jalan keluar sekolah. Kulihat ‘someone special’ sudah menungguku di luar XD .

“Ada yang perlu kubicarakan denganmu, penting. Mianhae Sun Hee, kupinjam temanmu,” kata-kata Hankyung sangat di luar dugaanku.

“Aku harus pergi sementara, ke Jepang. Kamu tahu kan grup ku baru saja debut, kami harus melakukan sesuatu di Jepang,” Hankyung menjelaskan, membuatku cukup kaget.

“Berapa lama?” tanyaku.

“Entah, tapi tidak akan lama,” jawabnya. Aku langsung memeluknya.

“Ya sudah, aku tidak mau egois, karena ini pekerjaanmu juga, aku harus memaklumi dan menerima apapun yang oppa lakukan,” kataku.

“Gomawo, aku senang kamu bisa mengerti, memang nggak salah aku memilihmu,” katanya sambil tersenyum, lalu ia mengecup keningku.

“Mianhae baru bilang sekarang, sebenarnya aku harus pergi hari ini juga, aku nggak tega bilang ke kamu, jadi baru bisa ngomong hari ini,” lanjutnya.

“Nggak apa-apa, yang penting oppa udah bilang ke aku, daripada langsung pergi tanpa bilang apa-apa,” kataku sambil tersenyum.

“Ehem, bukan mau mengganggu, tapi kita udah mesti pergi nih,” kata seseorang di belakang Hankyung. “Heechul imnida,” lanjutnya karena melihatku menatapnya bingung.

“Lee Eun Mi imnida,” kataku sambil sedikit membungkuk. “Sudah mau pergi ya? Sampai ketemu lagi,” aku tersenyum menatap Hankyung.

“Ya, jangan sampai karena kutinggal sebentar kamu pindah ke lain hati, arasso?” kata Hankyung sedikit bercanda.

“Ne. Tenang aja, nggak ada yang bisa gantiin oppa,” balasku membuatnya terlihat lega. Lalu ia berjalan pergi, meninggalkanku… untuk sementara.

***

3 minggu kemudian…

Aku tidur-tiduran di kasur, hari minggu memang membosankan, tak ada yang bisa dilakukan. Sun Hee sedang pergi bersama keluarganya, aku tak bisa main ke rumahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar jalan-jalan, aku merasa bisa mati bosan kalau terus di rumah. Aku hanya berjalan-jalan ke sekitar rumah dan sekolah, dan menatap taman itu, yang tak lain adalah tempat yang sangat berharga buatku. Aku tersenyum, tapi air mataku menetes. Aku sangat rindu padanya, Hankyung oppa, orang yang benar-benar kusayangi, sudah lama tak melihatnya ataupun mendengar suaranya, aku pernah beberapa kali menelpon, tapi tidak diangkat, mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sms ku pernah beberapa kali dibalas, dan aku merasa itu sudah cukup bagiku. Entah kapan dia kembali, rasanya aku ingin menyusulnya ke sana, tapi aku tahu itu tidak mungkin. Aku duduk di bangku tempat pertama kali aku bertemu dengan Hankyung, sambil terus memikirkannya.

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, aku kaget, dengan cepat aku menoleh, dan kudapati orang yang sedari tadi berkeliaran di dalam pikiranku sudah berdiri di situ.

“Hey.. kok nangis?” sapanya.

Spontan aku langsung memeluknya dengan erat, 3 minggu tanpanya serasa 3 tahun buatku, ia mengelus kepalaku lembut.

“Maaf ya, baru pulang sekarang, aku akan berusaha supaya nggak jauh-jauh lagi deh,” katanya sambil menatapku tajam. Aku mengangguk pelan.

“Aku udah menaati janji, nggak pindah ke lain hati, sekarang oppa harus dengar kata-kataku,” kataku sambil tersenyum iseng.

“Nggak usah ngomong, aku udah tau kamu mau minta apa,” balasnya, lalu ia menciumku cukup lama.

Aku merasa jadi orang paling beruntung di dunia, mempunyai orang sebaik Hankyung oppa di sisiku, aku yakin ia akan menepati janjinya, tak akan jauh-jauh dariku, akan berada di sisiku, selamanya…

The End~

————————————————

Akhirnya part 2 pun selesai!! ^_^ mianhae, lama banget part 2 nya, soalnya situasi nggak mendukung buat ngelanjutin ff ini… mianhae juga kalo ceritanya kurang bagus, atau alurnya kelamaan, otakku bener-bener berputar keras buat bikin ff ini, tapi jadinya yah begini.. hehehe.

Aku perlu comment-comment kalian buat memperbaiki kesalahan dan bikin ff yang lebih bagus lagi, jadi, please comment yaa.. oh ya, mungkin ada dari kalian yang bingung kenapa ff ini judulnya Love ‘Storm’ sebenernya, aku sendiri juga nggak tahu (gubrak!!) Cuma tiba-tiba aja ide judul ini muncul, anyway, gomawo yang udah baca! ^_^

Love,

Lee Eun Mi

Author

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on June 8, 2011 in Romance

 

2 responses to “HanEun couple: Love Storm (Part 2-End)

  1. blueindi

    June 10, 2011 at 2:45 am

    That’s good honey *gaya ngmg ala maho* ㅋㅋㅋㅋㅋ

     
  2. Eun Mi blue9-2 (author)

    June 11, 2011 at 2:37 pm

    masa sih?? aaa jadi malu.. hehehe… mau bkin ff lagi ah.. ada ide judul? 😀

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: