RSS

Monthly Archives: July 2011

HanEun couple: Lone Wolf (Prolog)

author: blue9-2 (Lee Eun Mi ^_^)

A lone wolf can do anything on their own.

A lone wolf don’t need any friends.

A lone wolf always prefer to be alone.

But even a lone wolf cannot reject his true feeling…

Eun Mi’s POV

Sudah 3 hari ini aku terus melihatnya di situ, duduk sendiri di pojok café yang sama, café tempatku bekerja paruh waktu.

“Eonni, apa kau kenal dia?” tanyaku pada Hyun Jung eonni yang juga bekerja di situ.

“Siapa?” ia balik bertanya.

“Namja yang duduk di pojok itu, aku lihat dia sering ke sini, hampir setiap hari,” jawabku.

“Mwo? Setiap hari? Wah, beruntung sekali kita bisa setiap hari melihat namja setampan itu, kenapa aku baru sadar ya?” ia malah heboh sendiri.

“Aduh, eonni gimana sih, aku lagi nanya serius nih,” protesku.

“Hahaha, mianhae. Kenapa kau nggak tanya langsung ke dia aja?” ia memberi saran.

Aku menggeleng pelan, tanda aku tidak mau bertanya pada namja itu langsung. Hm, setelah kuperhatikan, benar juga apa yang dikatakan Hyun Jung eonni padaku, namja itu lumayan tampan, tapi sepertinya ia pendiam, aish, aku paling benci cowok pendiam, apalagi yang cuek, dingin, dan sok keren.

“Nah, kesempatan datang padamu! Tadi ia memesan kopi, antarkan padanya!” perintah Hyun Jung padaku.

“Eonni… kenapa aku?” kataku dengan nada tak setuju.

“Siapa lagi yang ada di sini selain kita, aku sibuk harus mencatat pesanan tamu lain, sana, cepat,” jawabnya membuatku cemberut.

Akhirnya dengan terpaksa kuantarkan pesanan namja itu.

“Silakan,” kataku sambil meletakkan pesanannya di meja, kuberikan senyum manis yang tentu saja senyum bisnis, bukan senyum tulus dari hatiku, kurasa senyumku terlihat dipaksakan sekarang.

Ia menatapku sebentar, segera kusadari matanya yang tajam. Deg! Kurasakan jantungku berdetak cukup keras melihat matanya. Untung ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Ehm… ke sini sendiri saja?” tanyaku pada namja itu, entah sihir apa yang membuatku berbicara padanya.

Ia kembali menatapku, tapi ia terus diam sambil mengamatiku, seolah tak percaya apa yang terjadi.

“Apa urusanmu tanya-tanya?” jawabnya ketus. Rasanya benar-benar ingin kutampar dia dengan nampan yang kubawa.

“Ah! Mianhae. Tak bermaksud ikut campur urusanmu,” kataku cepat lalu langsung melangkah pergi.

Sesampainya di counter aku langsung ke balik tembok agar tak terlihat tamu lain, lalu kutinju tembok dengan keras. Tanganku jadi sangat sakit.

“Kenapa? Kok tiba-tiba marah sama tembok?” Hyun Jung menatapku bingung.

“Namja itu… benar-benar ingin kutinju mukanya! Dia benar-benar menyebalkan, dingin, tak berperasaan, kasar!” jawabku sambil emosi.

“Sudah-sudah, nanti kau cepat tua kalau marah-marah terus,” balas Hyun Jung santai sambil melanjutkan pekerjaannya.

Akhirnya aku meneruskan pekerjaanku, mengantar pesanan tamu lain tanpa mempedulikan namja itu, bahkan menatapnya pun tidak. Kesialan kembali menimpaku, aku harus mengantarkan pesanan seorang tamu, yang duduknya tepat di meja sebelah namja itu. Kuharap ia tidak melihatku. Kulihat ia cuek saja melihatku berjalan ke arahnya dan meletakkan minuman pesanan tamu di sebelahnya, membuatku bernapas lega.

3 hari kemudian…

Seperti biasa, aku bekerja di café untuk menambah pendapatanku, aku memang belum punya pekerjaan tetap karena aku baru saja lulus kuliah, jadi sambil mencari pekerjaan tetap, aku memutuskan untuk bekerja sambilan. Ngomong-ngomong, sudah lama juga aku tidak lihat namja yang kasar dan menyebalkan itu datang ke sini, yah, aku tidak begitu peduli sih, hanya saja, sedikit penasaran, biasa ia tiap hari ke sini, tapi kali ini tidak, apa yang membuatnya absen ya? Ah, sudahlah, buat apa juga aku memikirkan namja itu, tidak penting menurutku.

“Ya! Kenapa melamun Eun Mi? Kangen dengan si cakep?” tanya Hyun Jung yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

“Eonni mengagetkanku saja. Si cakep? Siapa?” tanyaku bingung.

“Itu… yang biasa di pojok,” katanya sambil tersenyum iseng.

“Haha, lucu sekali bercandanya. Mana mungkin aku kangen pada orang kasar itu, malahan bagus kalau ia tidak datang ke sini,” jawabku, tapi aku merasa tidak mengatakannya dengan sepenuh hati.

“Wah, panjang umur. Itu dia,” jawabnya sambil menatap tamu yang baru saja datang, yang tak lain adalah namja itu! Aish… kurasa hari ini aku sedang sial lagi, atau, beruntung ya?

Namja itu menatapku sebentar, lalu segera duduk di ‘tempat pusaka’ nya, di pojok café. Kulihat Hyun Jung dengan semangat berjalan ke arahnya, untuk menanyakan pesanannya. Tapi kulihat Hyun Jung berjalan kembali ke arahku dengan wajah bingung.

“Kenapa?” tanyaku.

“Ia minta ijin untuk diam di sini sebentar, tpi tak memesan apa-apa, ia juga bilang maaf jadi merepotkan. Sepertinya ia sedang ada masalah,” jawab Hyun Jung.

Kutatap namja itu, memang dari wajahnya terlihat ia sedang ada masalah, sepertinya kurang tidur juga. Lagi-lagi aku seperti kena sihir, aku melangkah mendekatinya, lalu duduk di kursi di depannya. Ia langsung menatapku bingung, matanya tidak setajam biasanya. Aku sedikit bersyukur hari ini café tidak terlalu ramai, jadi aku bisa santai sedikit.

“Ada apa?” tanyaku memberanikan diri.

“Tidak apa-apa. Maaf mengganggu,” katanya pelan tanpa menatapku.

“Tidak usah dipikirkan, hari ini agak sepi kok,” jawabku sambil tersenyum sedikit, kali ini senyum tulus kuberikan padanya. Ia diam menatapku, seolah seperti terhipnotis oleh senyum tulusku.

“Aku… entah kenapa merasa nyaman di sini. Perasaan bisa tenang, suasananya juga enak, jadi saat aku sedang ada masalah, satu-satunya tempat yang ada di pikiranku cuma café ini,” ia menjelaskan.

“Maaf kalau kemarin aku kasar,” katanya tiba-tiba membuatku kaget.

“Ah, tidak masalah, aku juga minta maaf kalau kemarin sok ikut campur urusanmu,” kataku, aku merasa harus bersikap baik padanya, sepertinya ia tidak seburuk yang kukira.

Mendengarku mengatakan itu, ia menatapku lembut, lalu tersenyum. Deg! Lagi-lagi kurasakan detak jantungku. Senyumnya terlalu… manis!

“Em… kau benar-benar nggak ingin minum sesuatu? Gimana kalau kutraktir?” tawarku sambil tersenyum, bermaksud membuatnya sedikit semangat.

“Nggak usah, jadi tambah merepotkan,” tolaknya.

“Ah, nggak kok, bentar ya,” kataku lalu langsung pergi ke tempat Hyun Jung.

“Eonni, minta minum dong,” kataku seenaknya, membuat Hyun Jung bingung melihat tingkahku. Kuambil dua kaleng minuman soda yang Hyun Jung letakkan di meja counter, lalu kembali ke tempat namja itu.

“Nih, minum aja,” kataku sambil meletakkan kaleng di depannya.

“Gomawo,” katanya pelan.

Setelah kuperhatikan, ternyata ia benar-benar manis, rasanya semua yeoja bisa jatuh cinta padanya dengan sekali tatap. Aku? Tentu saja tidak, walaupun jujur harus kuakui bahwa aku sedikit tertarik.

“Ada apa?” tanyanya bingung karena dari tadi aku bengong sambil menatapnya.

“Ah, bukan apa-apa,” aku menunduk malu.

“Aku… pergi dulu ya, tidak enak mengganggu pekerjaanmu,” katanya sambil berdiri setelah menghabiskan minumnya.

“Baiklah, tidak mengganggu kok, tenang saja,” balasku. Aku mengantarnya sampai ke depan pintu, lalu aku teringat sesuatu.

“Oh iya, namaku Lee Eun Mi, maaf terlambat mengenalkan diri,” kataku membuatnya menoleh.

Ia memakai jaketnya lalu menatapku. “Hankyung,” katanya sambil tersenyum, lalu ia pergi keluar. Aku masih membeku di dekat pintu beberapa saat, hingga Hyun Jung menyadarkanku dengan menepuk pundakku.

“Woi!!” katanya keras membuatku kaget.

“Eonni!!” kataku kesal.

“Jatuh cinta ya?” godanya.

“A-apa sih, ngomong yang nggak-nggak aja,” jawabku cepat, lalu aku kabur ke toilet café. Kutatap wajahku di cermin, ya, agak memerah.

“Babo!! Mikir apa aku ini,” kataku pada diri sendiri.

Setelah agak tenang, aku keluar dan kembali kerja.

“Jadi… gimana?” tanya Hyun Jung padaku.

“Apanya?” aku bertanya balik.

“Jatuh cinta kan?” ia kembali lagi ke topik yang tadi.

“Eng-nggak kok,” kataku sedikit grogi. Masa iya sih aku jatuh cinta pada… ah sudahlah, jangan dipikirkan, aku baru kenal dia!

to be continued…

————————————————

Annyeong~~ Eun Mi di sini.. hehe. Mianhae, bru nge post ff lagi nih. This is my 2nd ff, hope it will be better than the 1st 😀
Setelah aku baca ulang ff ku yang pertama (Love Storm) kayanya…. endingnya maksa banget… wkwkwk, jadi, ff kali ini aku post prolognya dulu, mau tahu reaksi kalian, jadi, comment ya ^^
Aku mau bikin ff sebaik mungkin, karena aku juga masih belajar, jadi mohon dimaklumi kalau ada salah pengetikan atau mungkin alur ceritanya terlalu lambat / terlalu cepat. Jangan pernah malu-malu buat comment, karen comment-comment kalian itu lah yang aku perluin buat memperbaiki kekurangan. Oh ya, setelah baca ff ini, tolong comment juga ff ini mau dilanjutin atau nggak, soalnya aku belom tahu kalian suka atau nggak ff ini, ff sebelumnya yang comment dikit soalnya >_<

Kayanya itu aja yang perlu aku sampein, gomawo~ 🙂

Love,

Lee Eun Mi

Author

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2011 in Romance