RSS

Category Archives: Romance

HanEun couple: Lone Wolf (Prolog)

author: blue9-2 (Lee Eun Mi ^_^)

A lone wolf can do anything on their own.

A lone wolf don’t need any friends.

A lone wolf always prefer to be alone.

But even a lone wolf cannot reject his true feeling…

Eun Mi’s POV

Sudah 3 hari ini aku terus melihatnya di situ, duduk sendiri di pojok café yang sama, café tempatku bekerja paruh waktu.

“Eonni, apa kau kenal dia?” tanyaku pada Hyun Jung eonni yang juga bekerja di situ.

“Siapa?” ia balik bertanya.

“Namja yang duduk di pojok itu, aku lihat dia sering ke sini, hampir setiap hari,” jawabku.

“Mwo? Setiap hari? Wah, beruntung sekali kita bisa setiap hari melihat namja setampan itu, kenapa aku baru sadar ya?” ia malah heboh sendiri.

“Aduh, eonni gimana sih, aku lagi nanya serius nih,” protesku.

“Hahaha, mianhae. Kenapa kau nggak tanya langsung ke dia aja?” ia memberi saran.

Aku menggeleng pelan, tanda aku tidak mau bertanya pada namja itu langsung. Hm, setelah kuperhatikan, benar juga apa yang dikatakan Hyun Jung eonni padaku, namja itu lumayan tampan, tapi sepertinya ia pendiam, aish, aku paling benci cowok pendiam, apalagi yang cuek, dingin, dan sok keren.

“Nah, kesempatan datang padamu! Tadi ia memesan kopi, antarkan padanya!” perintah Hyun Jung padaku.

“Eonni… kenapa aku?” kataku dengan nada tak setuju.

“Siapa lagi yang ada di sini selain kita, aku sibuk harus mencatat pesanan tamu lain, sana, cepat,” jawabnya membuatku cemberut.

Akhirnya dengan terpaksa kuantarkan pesanan namja itu.

“Silakan,” kataku sambil meletakkan pesanannya di meja, kuberikan senyum manis yang tentu saja senyum bisnis, bukan senyum tulus dari hatiku, kurasa senyumku terlihat dipaksakan sekarang.

Ia menatapku sebentar, segera kusadari matanya yang tajam. Deg! Kurasakan jantungku berdetak cukup keras melihat matanya. Untung ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Ehm… ke sini sendiri saja?” tanyaku pada namja itu, entah sihir apa yang membuatku berbicara padanya.

Ia kembali menatapku, tapi ia terus diam sambil mengamatiku, seolah tak percaya apa yang terjadi.

“Apa urusanmu tanya-tanya?” jawabnya ketus. Rasanya benar-benar ingin kutampar dia dengan nampan yang kubawa.

“Ah! Mianhae. Tak bermaksud ikut campur urusanmu,” kataku cepat lalu langsung melangkah pergi.

Sesampainya di counter aku langsung ke balik tembok agar tak terlihat tamu lain, lalu kutinju tembok dengan keras. Tanganku jadi sangat sakit.

“Kenapa? Kok tiba-tiba marah sama tembok?” Hyun Jung menatapku bingung.

“Namja itu… benar-benar ingin kutinju mukanya! Dia benar-benar menyebalkan, dingin, tak berperasaan, kasar!” jawabku sambil emosi.

“Sudah-sudah, nanti kau cepat tua kalau marah-marah terus,” balas Hyun Jung santai sambil melanjutkan pekerjaannya.

Akhirnya aku meneruskan pekerjaanku, mengantar pesanan tamu lain tanpa mempedulikan namja itu, bahkan menatapnya pun tidak. Kesialan kembali menimpaku, aku harus mengantarkan pesanan seorang tamu, yang duduknya tepat di meja sebelah namja itu. Kuharap ia tidak melihatku. Kulihat ia cuek saja melihatku berjalan ke arahnya dan meletakkan minuman pesanan tamu di sebelahnya, membuatku bernapas lega.

3 hari kemudian…

Seperti biasa, aku bekerja di café untuk menambah pendapatanku, aku memang belum punya pekerjaan tetap karena aku baru saja lulus kuliah, jadi sambil mencari pekerjaan tetap, aku memutuskan untuk bekerja sambilan. Ngomong-ngomong, sudah lama juga aku tidak lihat namja yang kasar dan menyebalkan itu datang ke sini, yah, aku tidak begitu peduli sih, hanya saja, sedikit penasaran, biasa ia tiap hari ke sini, tapi kali ini tidak, apa yang membuatnya absen ya? Ah, sudahlah, buat apa juga aku memikirkan namja itu, tidak penting menurutku.

“Ya! Kenapa melamun Eun Mi? Kangen dengan si cakep?” tanya Hyun Jung yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

“Eonni mengagetkanku saja. Si cakep? Siapa?” tanyaku bingung.

“Itu… yang biasa di pojok,” katanya sambil tersenyum iseng.

“Haha, lucu sekali bercandanya. Mana mungkin aku kangen pada orang kasar itu, malahan bagus kalau ia tidak datang ke sini,” jawabku, tapi aku merasa tidak mengatakannya dengan sepenuh hati.

“Wah, panjang umur. Itu dia,” jawabnya sambil menatap tamu yang baru saja datang, yang tak lain adalah namja itu! Aish… kurasa hari ini aku sedang sial lagi, atau, beruntung ya?

Namja itu menatapku sebentar, lalu segera duduk di ‘tempat pusaka’ nya, di pojok café. Kulihat Hyun Jung dengan semangat berjalan ke arahnya, untuk menanyakan pesanannya. Tapi kulihat Hyun Jung berjalan kembali ke arahku dengan wajah bingung.

“Kenapa?” tanyaku.

“Ia minta ijin untuk diam di sini sebentar, tpi tak memesan apa-apa, ia juga bilang maaf jadi merepotkan. Sepertinya ia sedang ada masalah,” jawab Hyun Jung.

Kutatap namja itu, memang dari wajahnya terlihat ia sedang ada masalah, sepertinya kurang tidur juga. Lagi-lagi aku seperti kena sihir, aku melangkah mendekatinya, lalu duduk di kursi di depannya. Ia langsung menatapku bingung, matanya tidak setajam biasanya. Aku sedikit bersyukur hari ini café tidak terlalu ramai, jadi aku bisa santai sedikit.

“Ada apa?” tanyaku memberanikan diri.

“Tidak apa-apa. Maaf mengganggu,” katanya pelan tanpa menatapku.

“Tidak usah dipikirkan, hari ini agak sepi kok,” jawabku sambil tersenyum sedikit, kali ini senyum tulus kuberikan padanya. Ia diam menatapku, seolah seperti terhipnotis oleh senyum tulusku.

“Aku… entah kenapa merasa nyaman di sini. Perasaan bisa tenang, suasananya juga enak, jadi saat aku sedang ada masalah, satu-satunya tempat yang ada di pikiranku cuma café ini,” ia menjelaskan.

“Maaf kalau kemarin aku kasar,” katanya tiba-tiba membuatku kaget.

“Ah, tidak masalah, aku juga minta maaf kalau kemarin sok ikut campur urusanmu,” kataku, aku merasa harus bersikap baik padanya, sepertinya ia tidak seburuk yang kukira.

Mendengarku mengatakan itu, ia menatapku lembut, lalu tersenyum. Deg! Lagi-lagi kurasakan detak jantungku. Senyumnya terlalu… manis!

“Em… kau benar-benar nggak ingin minum sesuatu? Gimana kalau kutraktir?” tawarku sambil tersenyum, bermaksud membuatnya sedikit semangat.

“Nggak usah, jadi tambah merepotkan,” tolaknya.

“Ah, nggak kok, bentar ya,” kataku lalu langsung pergi ke tempat Hyun Jung.

“Eonni, minta minum dong,” kataku seenaknya, membuat Hyun Jung bingung melihat tingkahku. Kuambil dua kaleng minuman soda yang Hyun Jung letakkan di meja counter, lalu kembali ke tempat namja itu.

“Nih, minum aja,” kataku sambil meletakkan kaleng di depannya.

“Gomawo,” katanya pelan.

Setelah kuperhatikan, ternyata ia benar-benar manis, rasanya semua yeoja bisa jatuh cinta padanya dengan sekali tatap. Aku? Tentu saja tidak, walaupun jujur harus kuakui bahwa aku sedikit tertarik.

“Ada apa?” tanyanya bingung karena dari tadi aku bengong sambil menatapnya.

“Ah, bukan apa-apa,” aku menunduk malu.

“Aku… pergi dulu ya, tidak enak mengganggu pekerjaanmu,” katanya sambil berdiri setelah menghabiskan minumnya.

“Baiklah, tidak mengganggu kok, tenang saja,” balasku. Aku mengantarnya sampai ke depan pintu, lalu aku teringat sesuatu.

“Oh iya, namaku Lee Eun Mi, maaf terlambat mengenalkan diri,” kataku membuatnya menoleh.

Ia memakai jaketnya lalu menatapku. “Hankyung,” katanya sambil tersenyum, lalu ia pergi keluar. Aku masih membeku di dekat pintu beberapa saat, hingga Hyun Jung menyadarkanku dengan menepuk pundakku.

“Woi!!” katanya keras membuatku kaget.

“Eonni!!” kataku kesal.

“Jatuh cinta ya?” godanya.

“A-apa sih, ngomong yang nggak-nggak aja,” jawabku cepat, lalu aku kabur ke toilet café. Kutatap wajahku di cermin, ya, agak memerah.

“Babo!! Mikir apa aku ini,” kataku pada diri sendiri.

Setelah agak tenang, aku keluar dan kembali kerja.

“Jadi… gimana?” tanya Hyun Jung padaku.

“Apanya?” aku bertanya balik.

“Jatuh cinta kan?” ia kembali lagi ke topik yang tadi.

“Eng-nggak kok,” kataku sedikit grogi. Masa iya sih aku jatuh cinta pada… ah sudahlah, jangan dipikirkan, aku baru kenal dia!

to be continued…

————————————————

Annyeong~~ Eun Mi di sini.. hehe. Mianhae, bru nge post ff lagi nih. This is my 2nd ff, hope it will be better than the 1st 😀
Setelah aku baca ulang ff ku yang pertama (Love Storm) kayanya…. endingnya maksa banget… wkwkwk, jadi, ff kali ini aku post prolognya dulu, mau tahu reaksi kalian, jadi, comment ya ^^
Aku mau bikin ff sebaik mungkin, karena aku juga masih belajar, jadi mohon dimaklumi kalau ada salah pengetikan atau mungkin alur ceritanya terlalu lambat / terlalu cepat. Jangan pernah malu-malu buat comment, karen comment-comment kalian itu lah yang aku perluin buat memperbaiki kekurangan. Oh ya, setelah baca ff ini, tolong comment juga ff ini mau dilanjutin atau nggak, soalnya aku belom tahu kalian suka atau nggak ff ini, ff sebelumnya yang comment dikit soalnya >_<

Kayanya itu aja yang perlu aku sampein, gomawo~ 🙂

Love,

Lee Eun Mi

Author

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2011 in Romance

 

HanEun couple: Love Storm (Part 2-End)

author: blue9-2 (Lee Eun Mi ^_^)

Hankyung’s POV

Satu minggu sudah berlalu sejak aku mengenalnya, mengenal Lee Eun Mi, seorang yeoja yang menarik yang pernah kutemui. Aku pertama kali bertemu dengannya secara tidak sengaja, hanya kebetulan melihatnya yang sedang ada masalah. Aku tak menyangka… perasaanku padanya… bisa sampai seperti ini…

Kupegang erat kalung berwarna silver di tanganku, kalau dilihat dari bentuknya, memang tidak jelas berbentuk apa, tapi ini pemberian eomma ku sebelum aku memutuskan pindah ke Korea, dan benda inilah yang sebenarnya ingin kuberikan pada Eun Mi. Sejak ia ke rumahku terakhir kalinya, aku belum bertemu dengannya lagi. Waktu itu aku mencari-cari kalung ini, namun tidak kutemukan, jadi aku memutuskan untuk mengantarnya pulang, tidak enak pada orang tuanya kalau aku terlalu lama menahannya di rumahku. Hasilnya, selama seminggu penuh ini Eun Mi terus berada di dalam pikiranku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku jadi seperti ini. Suka padanya? Entahlah, aku tidak tahu soal perasaanku sendiri. Dari pagi aku tidak ada kerjaan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sekolah Eun Mi, seharusnya ia sudah selesai sekolah jam segini, setidaknya aku ingin melihatnya, memastikan keadaannya, melihat wajahnya, mendengar suaranya, atau apapun itu yang bisa menghilangkan perasaan rinduku ini. Ya ampun, kenapa aku jadi berlebihan begini?

Benar dugaanku, sekolahnya sudah selesai. Aku menunggu di dekat gerbang, mencari sosok yang kukenal, walau hanya dua orang yang kukenal di sekolah ini, Eun Mi dan Sun Hee, temannya. Yak! Akhirnya aku menemukan sosok Eun Mi yang sedang berjalan bersama Sun Hee.

“Ya! Lee Eun Mi!” panggilku ketika ia sudah cukup dekat. Eun Mi menoleh, ia menatapku bingung.

“Hankyung oppa? Ada apa? Tumben ke sini,” katanya.

Eun Mi’s POV

“Ya! Lee Eun Mi!” sebuah suara memanggilku. Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat orang yang sangat kukenal.

“Hankyung oppa? Ada apa? Tumben ke sini,” kataku sambil menatapnya.

“Nggak apa-apa, iseng aja,” jawabnya. Ia tidak mengatakan yang sebenarnya, aku bisa melihat dari matanya.

“Aku baru tahu oppa nggak pintar bohong,” ejekku.

“Haha. Ehem, gimana ngomongnya ya?” ia terlihat bingung.

“Hey, hey. Aku dicuekin nih?” Sun Hee protes karena dari tadi ia tidak diajak bicara.

“Ah! Mianhae,” balas Hankyung, ia hanya cengar cengir.

“Em… Mendingan kita pergi ke tempat lain, nggak enak ada anak-anak lain di sini,” usulku dan langsung disetujui yang lain.

Akhirnya kami bertiga berjalan ke taman dekat sekolah, sekaligus taman di mana pertama kali aku bertemu dengan Hankyung. Ah… sangat rindu saat-saat itu. Lucu kalau mengingatnya kembali, saat aku menanggapinya dengan sinis, tanpa peduli padanya. Ternyata hukum karma memang ada, setelah aku beranggapan bahwa dia orang yang sok kenal dan sok mengerti semuanya, ternyata aku malah menyukainya. Baiklah, kuakui, aku sudah menyukainya, lebih dari sekedar suka sebagai oppa ataupun teman. Aku menyukai dia sebagai seorang namja, tapi perasaan ini tak mungkin kukatakan pada siapapun, kecuali Sun Hee, temanku yang paling bisa dipercaya. Sun Hee mendukungku soal ini, tapi aku tak tahu bagaiman perasaan Hankyung padaku, dan aku tak berminat menanyakannya, apalagi menyatakan perasaanku. Jujur, aku takut kalau ia bilang tidak, takut kalau ternyata ia hanya menganggapku teman. Aku takut mengetahui kenyataan, walaupun cepat atau lambat pasti aku harus menghadapi kenyataan.

Hankyung’s POV

Aku tak tahu harus bicara apa. Dari tadi sejak duduk-duduk di taman ini, aku hanya diam. Begitupun Eun Mi dan Sun Hee.

“Kangen,” aku berkata jujur hingga membuat Eun Mi menoleh padaku, lalu ia tertawa.

“Aduh, bercandanya lucu sekali,” katanya.

“Terserah apa katamu,” kata-kataku agak dingin, tapi aku benar-benar merasa canggung kalau di dekatnya.

“Ah… masa begitu aja marah? Aku juga kangen kok,” balasnya sambil tersenyum. Senyumannya benar-benar langsung ‘mengena’. Aku diam, sepertinya mukaku memerah. Cepat-cepat kupalingkan wajahku ke arah lain, agar tak terlihat olehnya.

“Kamu benar-benar harus tanggung jawab,” kataku reflek.

“Apa? Tanggung jawab apa?” ternyata Eun Mi mendengar kata-kataku, walau aku mengatakannya sangat pelan.

“Bukan apa-apa,” aku tak mau mengaku. “Kamu harus tanggung jawab karena membuatku seperti ini. Membuatku… menyukaimu.” itulah yang sebenarnya ingin kukatakan, tapi aku diam saja, tak mungkin tiba-tiba aku bicara begitu, aku yakin dia bingung dan akan menganggapku bercanda. Sudahlah, lupakan. Tak perlu kukatakan hal itu padanya. Lagipula aku belum terlalu yakin pada perasaanku, apakah aku benar-benar menyukainya atau tidak.

“Mianhae, aku baru ingat ada janji. Kapan-kapan kita ketemu lagi,” kataku tiba-tiba. Aku tidak punya alasan lain untuk pergi dari situ. Aku meninggalkan mereka berdua, tanpa menatap mereka kembali, aku tahu sikapku ini keterlaluan, tapi aku harus menghilangkan perasaan aneh ini, ya, itulah jalan terbaik, lebih baik aku tak menyukainya, lebih baik bila aku hanya menganggapnya teman, walalupun… sakit.

“Heechul hyung? Aku mau bicara,” kataku setelah menelepon Heechul, hyungku yang paling dekat denganku.

***

“Apa? Menyukai seseorang?” Heechul seolah tak percaya padaku setelah aku menceritakan semuanya.

“Sepertinya begitu, tapi aku sudah memutuskan untuk melupakan perasaan ini. Aku ingin dia mendapatkan yang terbaik, dan aku bukan yang terbaik untuknya,” jawabku serius.

“Kenapa kau beranggapan seperti itu?” tanya Heechul.

“Aku tak ingin menyakitinya. Perbedaan umur kami terlalu jauh, pekerjaanku juga membuat aku tak akan bisa berada di sisinya,” aku melanjutkan.

“Umur tak jadi masalah, toh kau baru 22 tahun kan, perbedaan umur 6 tahun itu nggak jauh lho,” Heechul menasehatiku. “Lalu, soal pekerjaan, ia harus belajar menerima semuanya, kalau ia mau bersamamu,”

“Belum tentu dia suka padaku, hyung. Kau tau lah, di umur 16 tahun itu masih labil, perasannya masih gampang untuk berubah. Sekalipun ia menyukaiku, pasti dengan cepat ia bisa menyukainya orang lain dan melupakan aku. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya,” jelasku.

“Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini? Setahuku kau nggak pernah memikirkan perasaan seorang yeoja sampai sedalam itu,” Heechul bingung melihat perubahan sikapku.

Aku hanya menggeleng pelan, tanda bahwa aku sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa aku berubah seperti ini. Dulu aku memang orang yang dingin, tak berperasaan, Heechul lah yang pertama kali membuatku memikirkan perasaan orang, tapi tak sedalam aku memikirkan perasaan Eun Mi, ya, memang benar apa katanya, aku berubah, sangat drastis.

Eun Mi’s POV

Dadaku terasa benar-benar sakit. Kenapa ia meninggalkanku seperti itu? Tanpa menoleh ke belakang, nada bicara yang dingin, seolah ia membenciku. Memang ia bilang akan bertemu lagi, tapi aku takut ia tak mau bertemu lagi denganku. Perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu, membuatku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Sudahlah, jangan pesimis begitu. Mungkin moodnya lagi jelek hari ini,” Sun Hee menghiburku.

Air mataku sudah sedikit keluar, tapi aku masih berusaha menahannya.

“Kalau mau nangis jangan ditahan,” kata-kata Sun Hee mengingatkanku pada Hankyung, ia juga pernah mengatakan hal yang sama, dan itu membuatku benar-benar tak bisa menahan air mata.

Aku benar-benar takut. Takut ia membenciku, takut ia meninggalkanku, takut ia tak memilihku. Aku tahu sikapku ini egois, tapi aku benar-benar menyukainya. Baru kali ini aku menyukai seseorang sampai seperti ini. Seumur hidup, aku tidak pernah menangis gara-gara seorang namja, Hankyung lah namja pertama yang bisa membuatku menangis, sekaligus namja pertama yang bisa membuatku nyaman ketika berada di dekatnya. Aku tahu aku memang bodoh, berharap terlalu jauh, tapi inilah perasaanku yang sebenarnya. Andai ia bisa mendengar suaraku, aku ingin teriak sekencang-kencangnya.

“Aku ini… bodoh ya?” tanyaku pada Sun Hee setelah tangisanku agak mereda.

“Bodoh? Ya nggak lah! Menyukai seseorang itu biasa,” Sun Hee menyemangatiku.

“Dia 6 tahun lebih tua dariku, ia lebih mengerti semuanya, dia juga baik, dan… semua yang ada dalam dirinya seolah perfect. Padahal aku baru mengenalnya, tapi kenapa aku begini? Bukankah aku salah?” air mataku mulai keluar lagi.

“Nggak. Kamu sama sekali nggak salah. Wajar aja kamu suka padanya, aku juga pernah begitu kok, menyukai seseorang yang baru kukenal. Kalau kamu benar-benar suka padanya, apa salahnya berharap?” Sun Hee meyakinkanku.

“Lalu, aku mesti gimana?” tanyaku.

“Kalau saranku sih, biarkan saja semuanya berjalan dulu, kita lihat situasinya,” Sun Hee memberi pendapat.

“Sun Hee, kau tahu kenapa aku bilang kalau aku ini bodoh?” tanyaku membuat Sun Hee menggeleng.

“Kau jarang nonton TV sih,” keluhku. “Dia itu artis, baru debut,” jelasku dengan singkat, tapi cukup membuat Sun Hee melongo.

“Hah!? Kau serius?” tanyanya tak percaya.

“Ya. Sering-sering lihat TV deh, di berita-berita sering kok, tentang boyband bernama Super Junior yang baru debut, dan salah satu membernya adalah dia, Hankyung,” kataku lagi.

Sun Hee diam, tak tahu harus bicara apa. Aku juga diam, aku sadar bahwa Hankyung terlalu jauh, meskipun dia baru debut, dan aku sudah mengenalnya, tapi pasti dia akan tambah menjauh, dan membuatku sakit hati, apa lebih baik kulupakan dia? Kuanggap dia sebagai teman, atau oppa saja?

Hankyung’s POV

Setelah lega bercerita pada Heechul, aku langsung pulang dan merebahkan diri di kasur. Mataku terasa berat, tapi aku tak bisa tidur, kuambil HP ku dan segera kutekan tombol ‘call’ pada contact Eun Mi.

“Mianhae…,” kataku pelan setelah teleponku diangkat.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Tadi, aku seenaknya meninggalkanmu,” aku menjelaskan, sambil berharap dia memaafkanku.

“Oh, itu. Nggak masalah,” jawabnya singkat.

“Kamu marah?” tanyaku khawatir.

“Nggak,” ia masih berbicara dengan singkat, sangat singkat.

“Bisa ketemu? Ada yang perlu kubicarakan,” kataku serius.

***

Aku menunggunya di tempat biasa, taman dekat sekolahnya. Aku hanya duduk di situ, merenungkan semua kata-kata yang harus kukatakan padanya. Udara masih sangat dingin, walaupun salju tidak terlalu tebal. Kulirik jam tanganku sebentar, ternyata baru jam 6 sore, tapi hari sudah sangat gelap. Kupikirkan lagi kata-kata Heechul padaku tadi.

“Kalau kau benar-benar menyukainya, jangan pandang faktor umur, status, pekerjaan atau apapun itu. Karena kalau kau begitu terus, seumur hidup kau tak akan mendapatkan orang yang kau cintai. Kau selalu melihat segala sesuatunya dari sudut pandangmu sendiri. Coba bayangkan jika kau berada di posisi Eun Mi, kalau ia juga menyukaimu, bukankah keputusanmu malah membuat dia sakit dan sedih? Coba pikirkan dulu, lihat situasinya baik-baik, pastikan perasaannya, baru ambil kesimpulan, jangan egois, mengambil kesimpulan sendiri. Kau dengan enaknya beranggapan bahwa ia bisa lebih bahagia tanpamu. Ingat, kehilangan orang yang kita sayangi, rasanya seperti diiris-iris! Sakit sekali,”

“Lalu aku harus lakukan apa?” aku meminta pendapatnya lagi.

“Seperti yang kubilang tadi, lihat situasinya dulu, pahami dengan benar kondisinya, perasaannya, baru ambil kesimpulan,”

Kedatangan Eun Mi membuyarkan lamunanku.

“Orang tuaku sedang pergi, rumahku kosong, aku nggak bisa lama-lama,” katanya dingin.

Ia menatapku, pandangannya terlihat lesu, ia seperti kecapekan, matanya juga agak merah, sepertinya habis menangis. Aku jadi merasa bersalah sendiri.

“Habis nangis?” tanyaku polos. Ia tak menjawab. Sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, aku langsung berdiri dan memeluknya.

“Mianhae,” bisikku. Ia masih diam, tapi tak lama kemudian kudengar suara tangisannya.

“Hey, jangan nangis dong, aku jadi merasa tambah bersalah,” aku coba menenangkannya.

“Habis… oppa benar-benar jahat. Tiba-tiba seperti tadi, lalu sekarang tiba-tiba jadi baik lagi. Sebenarnya mau apa? Mempermainkan perasaanku?” tanyanya agak emosi.

“Mianhae… Aku tahu aku salah,” aku benar-benar bingung mau bilang apa lagi, wajar saja ia marah, karena sikapku keterlaluan. Aku mendekatinya, lalu mengalungkan kalung silver yang dari dulu ingin kuberikan padanya.

“Simpan itu,” kataku. “Aku percayakan kepadamu. Jangan tanya aku apa arti bentuk itu, karena jujur, aku juga tidak tahu,” kataku jujur. Kulihat ia sudah berhenti menangis, hatiku sedikit lega.

Akhirnya kami duduk di situ, tapi masih saling diam.

“Sebenarnya…,” Eun Mi memulai pembicaraan.

“Hm? Kenapa?” tanyaku.

“Ada satu hal yang ingin kukatakan pada oppa,” katanya pelan, kulihat mukanya agak memerah, sepertinya aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Apa?” tanyaku sambil melihat ke arah lain, berusaha menyembunyikan senyumku, karena aku tahu apa yang akan dikatakannya.

“Hankyung oppa, saranghae,” katanya pelan, sangat pelan, membuatku nyaris tak mendengarnya.

“Heechul hyung, aku tak perlu menunggu melihat situasi lagi, sekarang sudah jelas semuanya,” kataku dalam hati.

“Ya! Dengar nggak!?” tanya Eun Mi tiba-tiba.

“Nggak,” jawabku iseng, aku ingin dia mengatakannya lagi.

“Ya sudah, aku mau pulang, capek,” katanya pasrah. Tapi aku menahannya.

“Bilang sekali lagi,” kataku iseng, membuat mukanya tambah merah, padahal aku sendiri sudah merasa panas, sampai-sampai salju yang mengenai mukaku pun tidak dapat kurasakan.

Ia diam, aku pun menunggunya. Tapi ia tiba-tiba dengan lemas memelukku, membuatku cukup kaget.

“Saranghae,” katanya pelan, lalu ia menutup matanya. Aku panik melihat keadaannya, tapi ia ternyata tidak apa-apa, hanya kecapekan dan tertidur. Aku tak punya pilihan lain selain membawanya dengan cara menggendongnya.

Eun Mi’s POV

Aku membuka mataku perlahan, kutatap langit-langit kamar. Aku menoleh ke kiri, dan kulihat sebuah jendela di samping tempat tidur, tapi jendela itu tidak familiar, seperti bukan jendela kamarku. Lalu aku menoleh ke kanan, aku terkejut, mendapati sosok Hankyung di situ. Ia duduk di lantai, kepalanya di tepi tempat tidur, sepertinya ia terus menungguiku semalaman. Matanya masih terpejam, ia tertidur, bahkan saat tidur pun, ia masih terlihat sangat manis. Aku mengusap pipinya pelan, sambil berharap ia tak bangun, tapi ternyata perkiraanku salah, ia segera membuka matanya, lalu menatapku tajam. Aku baru menyadari, matanya benar-benar indah, tatapannya yang tajam benar-benar menusuk, tapi menusuk dalam arti yang bagus, yang pasti membuat semua yeoja akan langsung menyukainya.

“Sudah bangun?” tanyanya sambil tersenyum. Ah, aku masih sangat menyukai senyumnya, itu menambah pesona pada wajahnya yang memang sangat tampan.

“Kemarin kamu pingsan, sepertinya kelelahan, jadi aku membawamu ke rumahku. Jangan berpikir macam-macam ya, aku nggak ngapa-ngapain selama kamu tidur,” wajahnya terlihat memerah.

Ternyata aku memang kelelahan, untungnya ada dia di sampingku kemarin, kalau tidak, aku tak tahu bagaimana nasibku.

“Aku percaya kok,” kataku sambil tersenyum. Ia menghela napas lega setelah aku mengatakan itu.

Ia berlutut, lalu kembali menatap wajahku dengan tajam. Mukanya terlihat serius.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

Ia diam seribu bahasa, tak mengatakan apa-apa, bahkan berekspresi pun tidak.

Tiba-tiba dengan cepat ia menundukkan kepalanya, mendekati wajahku. Lalu ia menciumku. Aku diam, bukannya tak bisa berontak, tapi aku tak mau berontak, karena aku sendiri sangat menyukainya, dan berharap ini semua bukan mimpi.

“Saranghae, Eun Mi,” katanya setengah berbisik di telingaku. Lalu ia menciumku sekali lagi.

“Kalung itu… aku disuruh memberikannya pada orang yang paling kusayangi, dan kuanggap bisa menjadi pendamping hidupku,” katanya pelan, membuat mukaku tambah panas, kurasa mukaku sudah semerah tomat sekarang.

Ia mendekati wajahku lagi, aku segera memalingkan wajah, tidak kuat menatap matanya.

“Udah ah!” kataku malu.

Ia menyentuh pipiku, membuatku menoleh dan menatapnya lagi, lalu ia tertawa.

“Kenapa sih?” tanyaku bingung.

“Mukamu… merah banget,” katanya di sela tawanya.

“Habis…,” kataku sambil cemberut.

“Ngomong-ngomong, mau pulang nggak? Atau mau nginep di rumahku?” ia mulai iseng lagi.

“Ya nggak lah! Aku benar-benar gila kalau berani nginep di sini,” bantahku.

***

Di sekolah aku hanya bengong, sambil sesekali senyum-senyum. Sun Hee menatapku dengan pandangan bingung sampai pulang sekolah.

“Eun Mi, kau gila ya?” Tanya Sun Hee. “Kemarin nangis, sekarang senyum-senyum sendiri, apa yang terjadi?”

“Jangan –jangan… udah jadian!!??” Sun Hee mengambil kesimpulan sendiri karena aku hanya diam.

“Ssstt! Jangan teriak-teriak dong!” kataku berusaha menenangkan Sun Hee.

Aku menceritakan semua yang bisa kuceritakan sambil jalan keluar sekolah. Kulihat ‘someone special’ sudah menungguku di luar XD .

“Ada yang perlu kubicarakan denganmu, penting. Mianhae Sun Hee, kupinjam temanmu,” kata-kata Hankyung sangat di luar dugaanku.

“Aku harus pergi sementara, ke Jepang. Kamu tahu kan grup ku baru saja debut, kami harus melakukan sesuatu di Jepang,” Hankyung menjelaskan, membuatku cukup kaget.

“Berapa lama?” tanyaku.

“Entah, tapi tidak akan lama,” jawabnya. Aku langsung memeluknya.

“Ya sudah, aku tidak mau egois, karena ini pekerjaanmu juga, aku harus memaklumi dan menerima apapun yang oppa lakukan,” kataku.

“Gomawo, aku senang kamu bisa mengerti, memang nggak salah aku memilihmu,” katanya sambil tersenyum, lalu ia mengecup keningku.

“Mianhae baru bilang sekarang, sebenarnya aku harus pergi hari ini juga, aku nggak tega bilang ke kamu, jadi baru bisa ngomong hari ini,” lanjutnya.

“Nggak apa-apa, yang penting oppa udah bilang ke aku, daripada langsung pergi tanpa bilang apa-apa,” kataku sambil tersenyum.

“Ehem, bukan mau mengganggu, tapi kita udah mesti pergi nih,” kata seseorang di belakang Hankyung. “Heechul imnida,” lanjutnya karena melihatku menatapnya bingung.

“Lee Eun Mi imnida,” kataku sambil sedikit membungkuk. “Sudah mau pergi ya? Sampai ketemu lagi,” aku tersenyum menatap Hankyung.

“Ya, jangan sampai karena kutinggal sebentar kamu pindah ke lain hati, arasso?” kata Hankyung sedikit bercanda.

“Ne. Tenang aja, nggak ada yang bisa gantiin oppa,” balasku membuatnya terlihat lega. Lalu ia berjalan pergi, meninggalkanku… untuk sementara.

***

3 minggu kemudian…

Aku tidur-tiduran di kasur, hari minggu memang membosankan, tak ada yang bisa dilakukan. Sun Hee sedang pergi bersama keluarganya, aku tak bisa main ke rumahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar jalan-jalan, aku merasa bisa mati bosan kalau terus di rumah. Aku hanya berjalan-jalan ke sekitar rumah dan sekolah, dan menatap taman itu, yang tak lain adalah tempat yang sangat berharga buatku. Aku tersenyum, tapi air mataku menetes. Aku sangat rindu padanya, Hankyung oppa, orang yang benar-benar kusayangi, sudah lama tak melihatnya ataupun mendengar suaranya, aku pernah beberapa kali menelpon, tapi tidak diangkat, mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sms ku pernah beberapa kali dibalas, dan aku merasa itu sudah cukup bagiku. Entah kapan dia kembali, rasanya aku ingin menyusulnya ke sana, tapi aku tahu itu tidak mungkin. Aku duduk di bangku tempat pertama kali aku bertemu dengan Hankyung, sambil terus memikirkannya.

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, aku kaget, dengan cepat aku menoleh, dan kudapati orang yang sedari tadi berkeliaran di dalam pikiranku sudah berdiri di situ.

“Hey.. kok nangis?” sapanya.

Spontan aku langsung memeluknya dengan erat, 3 minggu tanpanya serasa 3 tahun buatku, ia mengelus kepalaku lembut.

“Maaf ya, baru pulang sekarang, aku akan berusaha supaya nggak jauh-jauh lagi deh,” katanya sambil menatapku tajam. Aku mengangguk pelan.

“Aku udah menaati janji, nggak pindah ke lain hati, sekarang oppa harus dengar kata-kataku,” kataku sambil tersenyum iseng.

“Nggak usah ngomong, aku udah tau kamu mau minta apa,” balasnya, lalu ia menciumku cukup lama.

Aku merasa jadi orang paling beruntung di dunia, mempunyai orang sebaik Hankyung oppa di sisiku, aku yakin ia akan menepati janjinya, tak akan jauh-jauh dariku, akan berada di sisiku, selamanya…

The End~

————————————————

Akhirnya part 2 pun selesai!! ^_^ mianhae, lama banget part 2 nya, soalnya situasi nggak mendukung buat ngelanjutin ff ini… mianhae juga kalo ceritanya kurang bagus, atau alurnya kelamaan, otakku bener-bener berputar keras buat bikin ff ini, tapi jadinya yah begini.. hehehe.

Aku perlu comment-comment kalian buat memperbaiki kesalahan dan bikin ff yang lebih bagus lagi, jadi, please comment yaa.. oh ya, mungkin ada dari kalian yang bingung kenapa ff ini judulnya Love ‘Storm’ sebenernya, aku sendiri juga nggak tahu (gubrak!!) Cuma tiba-tiba aja ide judul ini muncul, anyway, gomawo yang udah baca! ^_^

Love,

Lee Eun Mi

Author

 
2 Comments

Posted by on June 8, 2011 in Romance

 

KyuMin couple story : Love is you PART 2 (END)

MIN HEE’S POV

Ah.. Sudah 3 bulan terakhir aku tidak berjumpa dengan namja itu lagi. Apa kabarnya ya? Apa dia masih baik baik saja? Masih dengan sifat ketusnya? Hahaha.. Apa dia juga masih………… mencintai gadis itu?

Aku sedang asik dengan duniaku sendiri ketika kudengar pintu di buka..

“Selamat datang” sambutku dengan ramah. Aku terkejut ketika kulihat siapa yang datang.. Namja itu.

Entah karena memang sudah lama tak melihatnya atau apa. Aku merasa hari ini dia 10x lebih tampan dari biasanya. Dia mengenakan kaus hitam yang dipadukan dengan celana jeans, dengan rambut sedikit berantakan yang justru membuatnya lebih… mempesona?

“Berapa ini?” tanyanya menyadarkanku.

“Eh,.. mmh.. 200.000” jawabku dengan salah tingkah.

Aku menghindari bertatap wajah denganya. Aku takut hatiku berantakan lagi. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

Baru saja aku akan berbalik ketika dia dengan paksa mengangkat daguku dan menyelusuri setiap inci wajahku dengan matanya.

“Wajah ini.. Lama sekali aku tidak melihatnya” ujarnya sembari melihatku.

“Maaf, ini tempat kerja. Walaupun kau seorang pengunjung, tetap tidak di perkenankan untuk berlaku seperti ini” Ujarku sambil menurunkan kembali wajahku.

Aku mendongak menatap wajahnya.

Eh..? Apa aku tidak salah lihat? Sesaat tadi.. Kulihat tatapan sakit hati di matanya? Apa maksudnya?

Namja itu! Membingungkan!!

Waktu itu dia meninggalkanku. Sekarang malah sepertinya ia menginginkan aku kembali? Apa maksudnya?? Untuk di permainkan kah? Dasar namja tak waras!

***

KYUHYUN’S POV

Dengan paksa ku angkat dagunya.. Dan dengan mataku aku menelusuri setiap inchi wajahnya. Wajahnya yang cantik.. Wajahnya yang lama kurindukan.

“Wajah ini.. Lama sekali aku tidak melihatnya” kataku sembari melihatnya.

“Maaf, ini tempat kerja. Walaupun kau seorang pengunjung, tetap tidak di perkenankan untuk berlaku seperti ini” Ujarnya sambil menurunkan kembali wajahnya.

Aku terhenyak ketika ia mengatakan hal itu. Begitukah? Sudah tak adakah sisa lagi perasaan untukku? Yah.. Wajar saja. Aku mengerti.. Ah~ tidak. Lebih tepatnya aku berusaha mengerti.

Aku melihatnya dengan hati sakit. Dan saat itu juga tatapan mata kami bertemu. Ia seperti terkejut melihatku, lalu kemudian berekspresi bingung.

Dengan gontai aku berjalan keluar. Kecewa.

***

“Yak! Cho Kyuhyun!!”  seru sebuah suara yang bisa ku pastikan itu adalah suara Heechul hyung.

“Apa lagi?” ujarku tak sabar.

“Kau ini!! Ada apa sih?” tanyanya dengan wajah bingung.

“Tidak apa apa. Ada apa?”

“Siwon satu minggu lagi akan menikah. Aku hanya mau menyampaikan undanganya.” Ujar Heechul hyung sembari menyerahkan sebuah undangan padaku.

Siwon hyung.. Kehidupanya begitu indah. Enak sekali dia.. Memiliki Hana sebagai istrinya. Kalau saja saat itu Hana tidak bertemu Siwon hyung, apa aku.. yang akan menjadi mempelai prianya?

Ah~ tapi aku tak lagi perduli.. Saat ini, aku hanya merindukan Min Hee.. Yeoja itulah yang saat ini bercokol di otakku tanpa mau pergi.

“Yak! Cho Kyuhyun! Sebenarnya sejak kapan kau mulai melamun begitu?? Apakah sekarang melamun itu lebih menarik dari PSP tercintamu itu??” tanya Heechul hyung yang di sertai dengan tatapan bingung.

Jelas saja, biasanya kapanpun dan dimanapun jika aku memiliki waktu luang, PSP cintaku itulah yang menemaniku. Bahkan terkadang aku sedikit melupakan Hana.

Tapi Min Hee.. Yeoja itu.. Bahkan mampu membuatku memikirkanya melebihi PSPku..

“Ah sudahlah! Apapun pertanyaanku tak kau jawab! Melamunlah! Asyiklah dengan duniamu! Sejak dulu sepertinya kau tidak normal. Dulu selalu berkencan dengan PSP dimana mana. Sekarang malah melamun terus!” ujar Heechul hyung dengan kesal sembari meninggalkanku.

Hmm.. Tak hanya kau hyung, yang bingung. Akupun juga..

***

Waktunya sudah tiba. Aku menatap puas pada penampilanku hari ini. Aku memakai setelan jas hitam yang aku yakin akan membuat yeoja manapun menoleh melihatku.

Hari ini adalah hari pernikahan Siwon hyung dengan Hana.

Hana.. gadis itu.. aku sudah lama tak melihatnya. Aku tak tahu lagi kabar tentangnya. Lebih tepatnya, tak tertarik untuk tahu.

Untuk apa? Toh dia sudah mencampakkanku dan memiliki Siwon hyung.

Hari ini adalah hari pernikahan gadis itu.. dengan Hyungku.

MIN HEE’S POV

Kutatap diriku di cermin. Dan aku tersenyum puas.

Aku yakin hari ini aku sangat cantik. Aku mengenakan dress berwarna soft orange dengan tali spaghetti yang membalut tubuhku dengan sempurna.

Lalu wajahku kubiarkan alami dengan diberi sedikit make up yang memolesnya.

Rambut bergelombangku ku biarkan tergerai sebagian, sedangkan bagian belakangnya ku ikat.

Aku puas dengan penampilanku. Sangat.

Hari ini adalah hari pernikahan sahabat baikku. Park Hana. Ia pasti sangat cantik nantinya.

Usai bersiap aku segera berjalan keluar, dan bersiap menuju ke pesta.

***

KYUHYUN’S POV

Sesuai dugaan, pestanya sangat ramai. Dan perkiraanku tepat. Begitu banyak yeoja yang menoleh melihatku. Aku memang sangat tampan kan? ^_^

Aku berjalan berkeliling, menikmati tatapan yeoja yeoja yang kagum akan ketampananku. Kurasakan mereka berbisik bisik tentangku.

Aku berjalan mengambil minuman. Dan meneguknya. Menikmati minuman itu membasahi kerongkonganku.

Baru saja aku selesai meneguk minuman itu, ketika kudapati semua mata tertuju pada satu arah. Dan ketika kulihat arah itu… Degg!!

Aku merasa jantungku berhenti sesaat. Dan berdetak tak beraturan.

Yeoja itu.. Aku baru menyadari betapa cantiknya dia..dan, betapa aku merindukanya.

Dia melihat ke arahku sesaat. Kemudian berpaling lagi.

Bagitu menyedihkanyakah aku dimatanya?

***

MIN HEE’S POV

Kudapati seluruh ruangan menatapku ketika aku membuka pintu. Apa ada yang salah dengan penampilanku? Ah ~ tidak.

Sesaat aku merasakan suatu aura aneh, dan ternyata benar dugaanku. Namja itu.. ada di sini.

Aku melihat sebentar ke arahnya. Lalu berpaling. Tidak. Aku tak mau menatapnya lebih lama lagi. Aku tak mau memiliki perasaan apapun untuknya.

***

Pesta hampir usai. Aku juga sudah mulai lelah. Tapi Hana bilang ia mau berbicara sebentar padaku. Mau tak mau, aku harus menunggunya.

Aku memutuskan untuk menunggu Hana di taman belakang.

Ah~ segarnya angin malam. Sangat nikmat saat angin itu menyentuh kulitku. Seperi bulu bulu halus yang tak tampak. Menerbangkan anak anak rambutku. Membuatku nyaman dengan buaian angin itu

Lagi lagi aku terpikir soal namja itu..

Kyuhyun.. Cho Kyuhyun. Kenapa namja itu aneh sekali?

Waktu itu ia menolaku habis habisan. Bersikap ketus padaku. Bahkan membiarkanku menunggunya seperti orang bodoh di tengah tengah hujan.

Tapi sekarang? Ia seolah ingin menariku kembali menatapnya. Apa ia memang sengaja ingin mempermainkanku???

Rasanya ingatanku akan namja itu sulit dihilangkan..

Semuanya bagaikan rentetan film dan berputar dikepalaku.

Namja itu dengan sifat ketusnya, ketidak pedulianya, saat dia menolakku dan membiarkan aku menunggu dalam hujan.

Tunggu. Membiarkanku? Apa benar ia membiarkanku begitu saja? Jika ia memang membiarkanku, mengapa tatapanya begitu.. sedih?

Sekali lagi aku menikmati angin malam. Kubiarkan mataku terpejam dan aku tenggelam dalam pikiranku. Lalu kurasakan seseorang ada di sampingku. Sesaat aku berpikir, apakah ini hanya imajinasi?

Aku membuka mata untuk memastikan, dan seketika itu juga, aku menatapnya. Namja itu. Namja yang menyita perhatianku, pikiranku, hatiku.

“Mau apa kau kesini?” tanyaku ketus.

“Apakah tempat ini hanya milikmu?” jawabnya dengan nada cuek.

“tidak. Kalau begitu aku pergi. Permisi” Ujarku menyingkir.

Baru saja aku hendak berjalan pergi ketika kurasakan jari jemarinya menahanku untuk pergi.

“Jangan pergi. Jangan menjauh dariku. Tetaplah disini.. Kumohon, Min Hee..” ujarnya dengan suara gemetar..

Namja ini.. Sebenarnya mau apa?

***

KYUHYUN’S POV

Aku merangkul erat pinggangnya, menahanya untuk pergi. Tidak, aku tak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya.

“Jangan pergi. Jangan menjauh dariku. Tetaplah disini.. Kumohon, Min Hee..” ujarku dengan suara gemetar menahan emosiku.

Ia menatapku sesaat dengan bingung. Aku tahu. Ia berpikir seolah olah aku mempermainkanya.

“Maafkan aku waktu itu tidak datang, aku tidak bermaksud untuk tidak datang aku hanya..” aku belum sempat menuntaskan apa yang ingin aku bicarakan. Dia sudah memotong perkataanku duluan.

“Kau hanya terlalu mengingat mantanmu. Benar ?” ujarnya memotong perkataanku.

“Tidak. Aku.. Waktu itu aku melihat temanku menangis di taman..” ujarku. Lalu aku menceritakan semuanya. Kejadian hari itu. Ia mengangguk dan seolah mengerti perkataanku. Lalu tersenyum tipis.

“Jadi apa kau memaafkanku?” tanyaku sembari menatap ke manik matanya. Indah. Benar benar indah.

“Iya. Aku memaafkanmu.” Jawabnya singkat.

Ia memaafkanku? Ketika mendengar perkataan itu, rasanya aku memiliki seluruh dunia di tanganku.

“Hei, boleh aku tahu siapa mantanmu itu?” tanyanya padaku.

“Hana” jawabku singkat padanya. Sesaat ia terkejut, lalu muncul rasa tak rela di matanya. Aku tahu apa yang dia pikirkan.

“Kau tak perlu khawatir soal Hana, Min Hee. Perasaanku padanya sudah tak bersisa. Lagipula sekarang ia sudah memiliki Hyungku. Aku sudah merelakanya. Dan sekarang aku sudah memiliki calon istriku sendiri” ujarku padanya sembari menatapnya.

Ia membelalakkan matanya yang besar, seolah terkejut mendengar perkataanku.

Angin bertiup menghembus perlahan. Kuamati anak anak rambutnya yang berterbangan berantakan. Membuat yeoja itu menjadi semakin cantik.

Aku tidak lagi dapat mengontrol pikiranku. Aku meraih pinggangnya, dan kemudian menatapnya lekat lekat ke manik matanya. Aku merangkulnya semakin erat, seolah meluluhkan batas di antara kami. Aku meraih tengkuknya, dan mengecup bibirnya perlahan, menikmati ciuman itu. Malam itu bulan sedang utuh, dan menjadi saksi hati kami berdua.

“Saranghae..” bisikku di telinganya lembut.

Ia menggeliat geli. Dan kedua pipinya bersemu merah. Ah~ lucunya yeoja ini. Ujarku sembari mengulum senyum.

Aku merangkul lagi pinggangnya dan menciumnya sekali lagi.

“Hey kau belum menjawab perkataanku..” Ujarku padanya.

“Apa ada yang perlu kujawab?” tanya Min Hee kepadaku.

“Kau ini. Apa kau pikir aku ini seorang pembaca pikiran??”

“Tak perlu untuk menjadi seorang pembaca pikiran untuk mengetahui pikiranku. Semua orang juga bisa. Jawabanya sudah jelas,..” jawabnya menatap ke manik mataku.

Aku tak bisa menjawabnya.. Aku tahu sekarang, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan.

Malam itu di bawah sinar bulan yang remang remang, dengan di temani hembusan angin, aku hendak mengikatnya kepadaku seumur hidup..

“Be my bride?” tanyaku menatapnya.

Ia menatap sebentar kedalam mataku. Melingkarkan tanganya di leherku, dan membisikan sebuah jawaban, yang membuatku merasa bahwa hidupku akan lebih indah.

Yes..”

Selamanya, aku tahu kita akan bersama. Sekalipun kita terpisah sejauh apapun, saat tiba waktunya, dengan cara apapun, kita akan berjumpa. 

***

Finish!! part 2 ini ending..

aduuh buat ini agak ngebut. Ehh iya maaf kalo ffnya singkat.. namanya juga newbie hwhwhwhw

dimohon komenya yaa akan kurang2nya!! 🙂

Gomawoo ~~

 
1 Comment

Posted by on June 1, 2011 in Romance

 

KyuMin couple story : Love is you PART 1

..

all i need is your love, to make me stronger..

Author : Park Hana

KYUHYUN’S POV

Malam ini terasa begitu menyakitkan. Udara dingin menusuk tulang tulangku. Beginikah rasanya di tinggal kekasihmu? Jantungmu hampir remuk. Rasanya semua berjalan tidak benar. Semuanya , bahkan hal kecilpun dapat membuatmu kacau. Beginikah? Yang lebih membuatku sakit hati adalah enyataan bahwa namja yang di cintai kekasihku itu ternyata tak lain adalah hyungku sendiri. Hatiku benar benar hancur.

Aku memarkirkan mobilku di pinggir sungai han. Memandang ke dalam kegelapan malam. Berharap ada sesuatu yang dapat memunculkan semangatku. Kejadian tadi itu, berputar lagi di kepalaku. Seperti putaran film. Air mata Hana yang mengucur deras meminta maaf padaku, karena mamutuskan untuk meninggalkanku. Kecupanya pada Siwon hyung. Semuanya.. berputar seperti film.

“Hei, apa yang kau lamunkan malam malam begini?” seru suara seorang yeoja. Kutatap yeoja itu sekilas. Sama sekali tidak menarik. Tinggi, terlalu kurus dengan rambut bergelombang.

“Ani. Tidak sedang memikirkan apa apa” jawabku singkat dengan muka tak tertarik.

“mau kau bilang tidak atau iya, aku tetap tau kau sedang memikirkan sesuatu. Gadis ya?” ujar yeoja itu padaku.

“Aku rasa mau berhubungan dengan siapapun, tetap tak ada kaitanya denganmu. Kita bahkan tak saling kenal.” Jawabku ketus. Berharap yeoja itu akan segera menutup mulutnya.

“Ah kau ini benar benar ketus! Padahal kan aku hanya bertanya baik baik!” jawab yeoja itu dengan mulut dikerucutkan.

Apa apaam yeoja ini? Ikut campur urusan orang saja!

“Kau… Aku sedang tak dalam mood yang baik. Akan jauh lebih baik jika kau menyingkir dariku. Karena perkataanku dapat lebih tajam jika kau terus disini.” Jawabku menahan emosi.

“kalau begitu keluarkan saja. Aku tak keberatan. Toh profesiku nantinya seorang psikolog. Yak! Kita daritadi ngobrol tapi aku tak tahu siapa namamu. Kau siapa?” tanya yeoja itu sembari memandangku.

“Kyuhyun. Cho kyuhyun. “ jawabku singkat.

“kau tak menanyakan namaku?”

“aku tidak tertarik denganmu.”

“Ah. Sekali lihat aku sudah tau kau adalah tipe namja yang bila marah akan meledak ledak. Dan tak akan tertarik dengan gadis manapun secara cepat. Lebih baik kuberitahu namaku. Aku Lee Min Hee. Suapaya saat kau tertarik kau lebih mudah mencariku.” Jawab yeoja itu sembarangan.

Dasar yeoja aneh! Bermimpilah. Aku tidak mungkin tertarik denganmu!!

MIN HEE’S POV

“Ah. Sekali lihat aku sudah tau kau adalah tipe namja yang bila marah akan meledak ledak. Dan tak akan tertarik dengan gadis manapun secara cepat. Lebih baik kuberitahu namaku. Aku Lee Min Hee. Supaya saat kau tertarik kau lebih mudah mencariku.” Jawabku sembarangan.

Ah~ namja ini menarik juga. Aku sudah bosan dengan namja namja di sekelilingku. Ekspresi mereka menjijikan. Belum lagi mantan pacarku yang over protektif. Itu membuatku merasa seperti terpenjara. Sungguh semua pria menjijikan. Tapi sepertinya namja itu berbeda.

Dari sekali lihat saja aku sudah bisa menebak. Namja itu, sampai kapanpun tak akan mau mengejar ngejar gadis duluan. Aku sedang berjalan jalan saat itu ketika ada sebuah suara yang familiar memanggilku..

“Min Hee!!!” seru sebuah suara. Dari suaranya, aku dapat mengenalinya. Itu Hana.

“Apa?” jawabku padanya.

“Kau belum pulang kah?” tanyanya pada ku.

“tidak. Yak, Hana. Apa yang kau pikir tentang namja yang dingin?”

“Hah? Namja macam itu kaku.Dingin. Tak menarik. Memangnya kenapa?”

“Sepertinya cukup lumayan. Aku akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.” Jawabku dengan seringai setanku.

“Yak! Lee Min Hee. Kau tau apa yang paling seram darimu?” tanyanya.

“apa?” jawabku.

“Saat kau tersenyum seperti itu. Aku tahu dunia akan berakhir bagi seseorang”

Ya. Aku memang orang yang seperti itu. Entah sudah berapa namja yang kubuat patah hati. Tapi itu semua karena salah mereka sendiri. Terlalu tidak menarik. Mengejarku duluan. Memangnya aku punya hutang di kejar kejar? Tapi tidak namja satu ini. Dia begitu.. berbeda? Sepertinya aku bodoh. Jatuh cinta pada namja yang baru saja kutemui? Tapi justru dia menarik.

***

KYUHYUN’S POV

Rasa sakit karena Hana masih terasa. Bagiku, kehidupan tanpa Hana sangat berbeda. Sepi sekali rasanya. Tak ada lagi tempatku bersandar. Bermanja manja. Lebih menyakitkan lagi… tak ada lagi teman bermain game bersama!

Hari ini begitu sepi. Lebih baik aku mencari game baru di toko game langgananku.

Aku baru saja membuka pintu saat……………….

“Halo Kyuhyun ssi” jawab yeoja itu riang sambil tersenyum. Yeoja itu lagi. Yeoja pemimpi yang mengharapkan aku tertarik denganya.

Aku mengacuhkanya dan terus berjalan mencari game baru. Ah tidak ada yang menarik. Semua membosankan. Sama saja,

“Kyuhyun ssi. Kau suka game? Aku juga. Di toko ini yang baru ada di sebelah sana.” Ujarnya sembari menunjuk sebuah arah.

“Kau ini. Sejak awal memang banyak bicara kah? Dari mana kau tau soal dvd game baru?”

“Aku baru saja masuk dan bekerja di sini. Ingatanku tajam. Jadi saat pemilik toko ini memberitahuku soal letak tempat game baru, aku tahu.” Jawabnya singkat.

“oh” jawabku sama singkatnya. Aku berjalan ke arah yang dia tunjuk. Benar. Banyak game baru di sini, termasuk game yang aku cari.

Aku mengambil sebuah game yang kelihatamya cukup menarik. Membawanya kepada yeoja itu.

“berapa harganya?”

“500.000” jawabnya singkat.

Tanpa ragu aku mengeluarkan uang sepertui jumlah yang di katakanya. Saat aku hendak keluar, tiba tiba yeoja itu memanggilku.

“Kyuhyun ssi”

Aku menengok ke arahnya.

“HPmu~” katanya singkat. Kupikir HPku tertinggal di kasir. Aku merogoh rogoh sakuku.

“maksudmu ini?” tanyaku seraya mengeluarkan HPku. Dia segera merebut HPku itu dan mengetikan sebuah nomor, lalu menyimpanya.

“Apa apaan kau?!” tanyaku ketus.

“Tidak apa apa Kyuhyun ssi. Aku hanya ingin menjamin bahwa setelah ini kita masih dapat berkontak satu dengan yang lain. Oh iya, aku juga sudah menyimpan nomormu” ujarnya seraya menunjukan HPnya.

Astaga!!  Yeoja ini! Sepertinya jenis yeoja yang lebih susah di usir daripada nyamuk!

***

“Hei Kyuhyun!” ujar seseorang. Aku mencoba mencari sumber suara itu, yang ternyata kudapati adalah suara Sungmin hyung.

“Ada apa? Kalau memang tak terlalu penting dan menarik, jangan bicarakan itu saat ini.” Ujarku ketus.

“Kau ini, aku sedang jenuh, ingin ikut bermain. Kau masih sakit hati soal Hana?” tanya Sungmin hyung yang langsung kubalas dengan tatapan iblisku.

“Eh. Sepertinya benar. Baiklah kalau begitu. Aku tak mengganggumu. Tapi kusarankan kau mencari yeoja lain lagi. Supaya tak semakin sakit” ujarnya dengan senyumnya yang innocent itu.

Ah~ Sungmin Hyung benar. Seharusnya aku mencari yeoja lain lagi yang lebih pantas. Tapi siapa? Bagiku, di dunia ini, tak ada yang lebih menarik dari Hana.

Tiba tiba HP ku bergetar. Dan sebuah nomor tertera pada layarnya. Min Hee

“Yeoboseo? Ada apa?!” Ujarku ketus.

Hai Kyuhyun ssi, kau baik baik saja? Ah sepertinya iya, nadamu yang ketus itu menandakan kau SANGAT BAIK BAIK saja. Hahaha. Bisakah kita bertemu? Di tepi sungai han nanti jam 8 malam. Kutunggu ya! Bye!” ujarnya sembari menutup telepon.

Aku bahkan tidak diberi kesempatan menjawab! Yeoja macam apa dia?!

***

MIN HEE’S POV

Hari ini aku begitu bosan. Tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tiba tiba muncul ide gila di kepalaku. Aku mengeluarkan HP dari sakuku dan segera memencet nomornya.

“Yeoboseo? Ada apa?!” Ujarnya ketus.

“Hai Kyuhyun ssi, kau baik baik saja? Ah sepertinya iya, nadamu yang ketus itu menandakan kau SANGAT BAIK BAIK saja. Hahaha. Bisakah kita bertemu? Di tepi sungai han nanti jam 8 malam. Kutunggu ya! Bye!” ujarku sembari menutup telepon.

Aku tahu, jika aku tidak berlaku seperti itu, dia pasti akan segera menolakku. Hahaha. Aku sudah bisa membaca karakternya sejak awal. Siapa ya gadis yang kira kira dicintai Cho Kyuhyun itu? Gadis yang sangat beruntung…

***

KYUHYUN’S POV

Aku melihat jam tanganku. Ah~ masih jam 5 sore. Masih 3 jam lagi. Sebenarnya yeoja macam apa Min Hee itu? Mengejarku tanpa henti. Dia bahkan tak peduli pada sifat ketusku. Kalau Hana pasti dia sangat marah saat aku menjawab seperti itu.

Sebenernya Min Hee itu yeoja yang lucu juga… Ah?! Pikiran macam apa ini? Yeoja itu sama sekali tak ada lucu lucunya! Otakku rusak sepertinya karena terlalu banyak bergaul denganya.

Aku memutuskan untuk berjalan jalan sejenak di taman. Melepaskan penatku. Saat itu juga, kudapati seorang yeoja terduduk dengan air mata mengalir di kedua pipinya.

Aku melihat ke wajahnya. Sepertinya aku mengenal yeoja ini. Aku mencoba mengingat siapa dia.. Ahh~ Kim Hyun Jae. Sahabat Hana. Juniorku di sekolah.

“Hyun Jae ssi?” tanyaku memastikan. Kan malu jika aku sampai salah orang. dia menengadah sebentar lalu menunduk kembali dan menangis. Kali ini tangisanya semakin menjadi jadi.

“Hey, Hyun Jae ssi. Apa kau tidak malu menangis di sini? Lihatlah, banyak orang melihat padamu” ujarku padanya.

“Aku..aku tidak bisa lagi menahan diriku. Bagaimana mungkin? Selama ini aku percaya pada Hyuk Jae. Tapi dia, dia.. menghianatiku!” ujarnya di sela sela tangisanya. Dasar yeoja. Semua sama saja.

Aku mengusulkan untuk Hyun Jae minum di sebuah restoran di pinggir jalan. Sama sama melepaskan penat. Sesampainya di sana, suasana jadi begitu dingin. Kami tidak saling bertukar cerita sedikitpun. Sampai akhirnya dia bertanya

“Kyuhyun ssi, apakah aku sejelek dan sebodoh itu?” tanyanya.

“Apa maksud perkataanmu?” tanyaku bingung.

“Aku selama ini menyangka Hyuk Jae adalah pria baik baik. Tapi ternyata aku salah. Kemarin aku baru saja akan bermain ke rumahnya, ketika kudapati seorang yeoja berlutut dan menangis demi meminta pertanggung jawaban atas bayi yang di kandungnya. Kenapa selama ini aku tak sadar? Apa aku sebodoh itu? Tidak menyadari kekasihku selingkuh di belakangku.”  ujarnya. Akhirnya ia menangis lagi.

Aku tak bisa berbuat apa apa. Aku mengerti. Bila aku ada di posisinya, pasti akan sama. Sakit sekali. Bisakah kau membayangkan orang yang kau cintai melakukan dengan orang lain? Jangankan seperti itu. Aku di tinggal saja sudah sakit hati.

Cuaca begitu dingin. Di tambah lagi hujan yang turun mengguyur. Sudah jam 9 malam. Sedangkan aku masih menemani Hyun Jae di sini. Aku masih tak tega membiarkanya sendirian. Dia sudah minum 3 botol. Sepertinya dia benar benar sakit hati.

Aku sudah mulai mengantuk ketika aku menyadari…….. astaga! Malam ini kan Min Hee menungguku di pinggir sungai Han?

Aku segera bergegas meninggalkan Hyun Jae tanpa sepatah katapun.

“Kyuhyun ssi! Kau mau kemana?” tanyanya. Aku tidak menjawab. Ah~ semoga saja yeoja bodoh itu sudah pulang.

Aku tak bisa mengendalikan kecepatan mobilku. Mobilku meluncur cepat sangat cepat. ‘Untuk apa aku secepat ini? Toh salahnya, aku kan tidak mengatakan iya pada ajakanya. ‘ pikirku dalam hati.

Tetap tak bisa. Aku tak bisa lagi mengendalikan tubuhku. Aku tetap mempercepat mobilku. Supaya aku dapat memastikan yeoja itu masih ada atau tidak.

Sesampainya di sungai Han, aku memarkirkan mobilku. Menyusuri sungai itu. Aku lega.. sungai itu kosong.

Baru saja aku mau berbalik saat kulihat seorang gadis duduk menekuk lututnya kedinginan. Yeoja itu… benar benar menungguku.

“Kau…” ujarku tak bisa meneruskan kata kataku. Gadis ini, demi menungguku dia kedinginan.

Dia melihat ke arahku sekilas. Menatapku dengan tatapan yang menyakitkan, lalu memalingkan wajahnya lagi.

“Tak usah melihatku seperti itu. Aku bukan yeoja yang pantas untukmu. Aku tahu. Kau menolakku. Kupikir setidaknya hatimu masih ada pada tempatnya, sehingga walaupun sulit masih dapat di harapkan. Tapi sepertinya kau tak punya hati. Membiarkan seorang yeoja kehujanan demi menunggumu. Terserah apa yang kau lakukan, aku tak akan mengganggumu lagi. Maafkan aku jika selama ini mengganggumu.” Ujarnya sembari berdiri. Dia gemetar, menggigil menahan dingin.

Ah~ aku ini kejam sekali. Aku melihatnya terhuyung, dan mencoba menangkapnya. Tapi ia menepis tanganku, dan terus berjalan.

Rasanya sakit sekali.. Melihatnya menatapku seperti itu.  Akan jauh lebih baik bagiku jika seandainya ia membunuhku. Ini jauh lebih menyakitkan.

***

MIN HEE’S POV

“Tak usah melihatku seperti itu. Aku bukan yeoja yang pantas untukmu. Aku tahu. Kau menolakku. Kupikir setidaknya hatimu masih ada pada tempatnya, sehingga walaupun sulit masih dapat di harapkan. Tapi sepertinya kau tak punya hati. Membiarkan seorang yeoja kehujanan demi menunggumu. Terserah apa yang kau lakukan, aku tak akan mengganggumu lagi. Maafkan aku jika selama ini mengganggumu.” Ujarku sembari berdiri.

Tubuhku gemetar, menahan dingin. Tenagaku habis dan terkuras. Aku terhuyung. Sesaat aku bisa merasakan jemarinya menyantuh pinggangku, menahan tubuhku agar aku tak jatuh. Tapi aku menepisnya. Aku tak mau tambah berharap.. Jauh lebih baik dia meninggalkanku.

Siapa sebenarnya gadis itu? Apakah hatinya sudah benar benar terpaut pada gadis yang meninggalkanya? apakah tak ada lagi sisa untukku? Benar benar..Menyedihkan..

***

KYUHYUN’S POV

 

Aku membuka mata. Menggeliat sebentar dan.. Hmmh.. aku masih memikirkanya. Bagaimana dia sekarang? Apakah sehat sehat saja? Semalam dia kehujanan. Apakah dia makan dengan baik?

“Hei, Cho Kyuhyun! Ini masih terlalu pagi untuk melamun. Apa yang kau pikirkan?” ujar Sungmin hyung sembari menepuk punggungku. Sungmin hyung memang paling dekat denganku. Tentu saja, dia kan sekamar denganku.

“Hyung, apa aku terlalu kejam? Aku membiarkan seorang gadis kehujanan menungguku. Aku hanya.. Tidak sengaja lupa” ujarku.

“Sejak kapan kau begitu peduli dengan perasaan seorang yeoja? Bahkan dengan Hana pun aku tak melihatmu seperti itu” ujar Sungmin hyung dengan mata menyipit.

“Entahlah, aku juga bingung Hyung. Tatapan sakit hati yeoja itu.. Aku tidak bisa melupakanya” jawabku bingung.

“ Kau..jatuh cinta?” tanya Sungmin hyung dengan bingung.

Saat itu juga aku tersadar.. Begitukah? Sedih sekali.. aku menyadarinya, setelah ia menjauh dariku..

To be continued

***

holaaaa ~~~ ini hana lagi yang bikin.

gimana gimana? masih banyak kesalahan gak?

kalo ada kurang jangan ragu ragu komen yaa ^^

oh iya, HanMi couple pasti ada kok lanjutanya. nanti di post dehh

Gomawo yang mampiiir ~~

 
7 Comments

Posted by on May 31, 2011 in Romance

 

HanEun couple: Love Storm (Part 1)

author: blue9-2 (Lee Eun Mi ^_^)

Eun Mi’s POV

Malam ini terasa sangat dingin, wajar saja, karena sekarang memang sedang turun salju. Kutatap jalanan di depanku yang terlihat sepi. Kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi, aku tidak bisa pulang, atau lebih tepatnya, aku tidak mau pulang. Kedua orang tuaku sedang marah besar padaku, karena kesalahan ‘kecil’ yang kulakukan. Yah, memang sebenarnya aku yang salah, tapi mereka tak perlu membentakku seolah tak menghargai aku lagi. Aku menggigil, udara terasa semakin dingin, dan aku hanya memakai seragamku, tanpa jaket atau baju penghangat apapun. Tak ada yang bisa kulakukan lagi sekarang, pulang pun percuma, pasti dimarahi lagi, jadi aku hanya duduk di taman ini, entah sampai kapan. Tiba-tiba sebuah jaket menyelimutiku, aku langsung menoleh ke samping, menatap seorang namja yang berdiri di situ. Wajahnya tidak terlihat jelas karena di situ agak gelap, hanya ada cahaya remang-remang dari lampu jalan yang letaknya agak jauh dari taman tempat aku duduk.

“Sedang apa kamu di sini? Ini sudah larut malam, tak baik berkeliaran tengah malam, apalagi murid SMA sepertimu,” katanya menceramahiku.

“Berisik,” jawabku ketus.

Sekarang namja itu malah duduk di sampingku, lalu menatapku bingung.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

“Bukan urusanmu,” lagi-lagi kutanggapi dia dengan dingin. Aku melirik sedikit, bermaksud melihat wajahnya yang sudah terlihat jelas. Ah, ternyata dia tampan juga, sayangnya dia terlalu sok kenal.

“Oppa sendiri, ngapain peduli sama aku?” aku balas bertanya, aku memanggilnya oppa karena tahu dia lebih tua dariku, mungkin sekitar 5-6 tahunan.

“Ada yeoja yang duduk di sini, malam-malam, dengan wajah sendu, gimana mau dicuekin. Bukankah sikapku itu bagus?” jawabnya.

“Oppa kan nggak kenal aku,” kataku, merasa tidak mau kalah.

“Kenal atau pun nggak kenal, kalau ada yang sedang punya masalah, ya dibantu,” ia juga tidak mau kalah.

“Tahu dari mana aku ada masalah?” kutanya lagi.

“Wajahmu,” jawabnya.

Kesunyian kembali menyelimuti suasana, aku juga tidak mau memulai pembicaraan duluan, jadi aku diam.

“Pulang sana,” perintahnya, diikuti gelengan kepalaku.

“Kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir. “Nanti kamu sakit kalau di sini terus,”

Aku tidak mengatakan apa-apa, suaraku seolah tak bisa keluar, mataku terasa berat, bukan karena mengantuk, tapi karena menahan air mata. Namja itu merangkulku dan meletakkan kepalaku di bahunya, seolah tahu apa yang kutahan, dan seketika itu juga, air mataku tumpah.

Hankyung’s POV

Aku tidak mengerti kenapa yeoja ini menangis, dia tidak cerita apa-apa. Yah, wajar saja, karena dia tidak mengenalku, sepertinya dia bukan tipe yang mudah percaya pada orang yang baru ditemuinya. Kubiarkan dia menangis sepuasnya.

“Kalau mau nangis jangan ditahan,” kataku pelan di sela-sela tangisan yeoja itu.

Aku menatapnya kasihan, sepertinya dia ada masalah berat. Kuurungkan niat untuk bertanya padanya, takut membuatnya tambah sedih. Setelah tangisannya mulai berhenti, ia bercerita, kupikir ada apa, ternyata dia ada masalah dengan orang tuanya, memang bagi anak SMA, masalah dengan orang tua serasa seperti dunia akan kiamat, apalagi kalau orang tua memarahi kita habis-habisan, aku juga pernah mengalaminya. Aku hanya diam mendengarkan ceritanya sampai selesai.

“Gomawo, oppa,” katanya sambil sedikit menunduk.

“Untuk apa?” tanyaku bingung.

“Karena sudah mau mendengar ceritaku. Aneh, biasanya aku nggak bisa cerita ke orang yang baru kukenal seperti ini, tapi entah kenapa, rasanya aku percaya pada oppa,” katanya sambil sedikit tersenyum.

“Auraku memang bagus,” candaku sambil tersenyum.

Kulihat dia agak sedikit terpana melihat senyumanku. Ternyata, memang senyumku sangat menawan ya? 😀

Eun Mi’s POV

Namja ini manis, manis sekali. Dia juga baik dan sabar. Jarang sekali kutemui orang seperti ini. Ternyata aku salah menilainya, dia bukannya sok kenal, tapi bermaksud baik padaku, aku jadi merasa sedikit bersalah karena sudah berprasangka buruk tentangnya.

“Sekarang aku harus gimana?” tanyaku meminta pendapat.

“Hmm… Kurasa sebaiknya kamu pulang, minta maaf. Tak ada orang tua yang tidak bisa memaafkan anaknya, asal kamu minta maaf dengan tulus, dan berjanji tak mengulanginya lagi, aku yakin kamu pasti dimaafkan,” dia mulai ceramah seolah dia tahu segalanya lagi, tapi biarlah.

Aku mengangguk pelan.

“Oh iya, aku Lee Eun Mi,” kataku memperkenalkan diri. “Oppa?”

“Hankyung,” jawabnya singkat.

Kami mengobrol lagi sebentar, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

“Sekali lagi, gomawo,” kataku sambil membungkuk. Aku melepas jaketnya yang tadi dipinjamkan padaku, lalu memberikan jaket itu padanya. Ia menerima jaketnya sambil tersenyum lagi. Ah, aku benar-benar tak tahan melihat senyumannya yang amat manis. Setelah mengaguminya sebentar, aku berjalan pergi sambil melambai padanya. Dari jauh, aku membungkuk sekali lagi. Ia hanya mengangguk melihat tingkahku. Lalu aku berjalan pulang.

Di rumah, kulihat kedua orang tuaku sudah siap memarahiku, karena aku pulang begitu malam. Tapi, sebelum mereka sempat mengatakan apa-apa, aku langsung bicara panjang lebar, sebagian besar berisi permintaan maaf, sambil menangis, aku memang cengeng. Kedua orang tuaku menatapku, bingung dengan kelakuanku. Lalu mereka mengelus kepalaku dengan lembut, sambil berkata bahwa mereka sudah memaafkanku. Aku menghela napas lega, ternyata sarannya tidak salah. Gomawo, Hankyung oppa.

Esoknya di sekolah…

Seharian di kelas aku hanya bengong tanpa memperhatikan pelajaran, entah kenapa aku malah memikirkan Hankyung.

“Ya! Lee Eun Mi! Kenapa kau ini? Dari tadi bengong aja,” teriak seseorang sangat keras yang tak lain adalah Park Sun Hee.

“Hm? Aku nggak apa-apa,” jawabku santai. “Hanya saja…”

“Hanya saja apa?” tanyanya penasaran.

“Ada seseorang yang terus ada dalam pikiranku,” jawabku jujur.

“Oh ya? Namja?” ia makin semangat, apalagi setelah melihat aku mengangguk pelan.

“Sebenarnya aku baru mengenalnya, tapi…” aku mulai cerita.

“Kau suka padanya?” Tanya Sun Hee antusias.

PLETAK! Sebuah jitakanku mendarat mulus di atas kepalanya.

“Ya nggak lah! Kau gila! Baru juga kenal. Bukannya suka, aku hanya, mungkin sedikit tertarik,” kataku sambil sedikit tersenyum, membayangkan wajah Hankyung yang memang tak bisa kulupakan. Sun Hee hanya mengangguk-angguk mendengar ceritaku.

“Seperti apa orangnya?” tanyanya lagi.

“Hm… Yang pasti dia lebih tua dariku, mungkin sekitar 5 tahunan. Dia sangat baik dan ramah, juga peduli pada orang lain, walau dia belum kenal aku, dia sudah perhatian dan baik padaku. Wajahnya, tak usah kusebut pasti kau juga tahu, dia sangat tampan, kalau tersenyum terlihat amat manis,” aku mendeskripsikan Hankyung, kurasa mukaku sudah memerah sekarang.

“Wah, jadi penasaran,” balas Sun Hee sambil tertawa.

Pulang sekolah, aku berjalan keluar bersama Sun Hee, dan di depan gerbang sekolahku, kulihat seseorang yang sangat kukenal, dan sangat ingin kutemui, Hankyung.

“Oppa! Ngapain di sini?” tanyaku bingung. Belum sempat dia berkata apa-apa, kutarik dia agak menjauh dari gerbang sekolahku, aku merasa tak ingin ada yeoja lain yang melihatnya.

“Ini, ketinggalan,” katanya sambil menyerahkan sebuah notes, namaku tertera di atasnya.

“Wah! Pantas saja kucari nggak ketemu, gomawo,” kataku sambil menerima notes itu.

Ia tersenyum kecil, dan itu sudah cukup untuk membuatku terpana.

“Kenapa?” ia bingung melihatku bengong.

“Ah, nggak apa-apa. Dari mana oppa tahu sekolahku?” tanyaku.

“Di halaman paling depan notes itu ada nama sekolahmu. Maaf kubuka, habis aku tak tahu mesti ke mana menyerahkan ini, tapi aku tak baca apa-apa,” akunya jujur.

“Nggak apa-apa kok, nggak ada sesuatu yang rahasia di notes ini, hanya agenda sekolah,” balasku, supaya ia tak merasa bersalah.

“Ya! Eun Mi! Enak sekali kau meninggalkanku!” protes Sun Hee tiba-tiba, huh, dasar perusak suasana.

Sun Hee menatap Hankyung sebentar, lalu bengong, sama sepertiku tadi.

“Aaaa… Park Sun Hee imnida. Aku teman sekelas Eun Mi,”katanya pada Hankyung.

“Hankyung imnida,” balasnya.

Sun Hee menarikku menjauh sedikit.

“Oh, jadi dia yang tadi kau bicarakan?” tanyanya. Aku mengangguk. “Pantas! Memang, dia tampan sekali! Nggak heran kau bisa suka padanya,”

“Sudah kubilang, aku bukannya suka, hanya tertarik!” protesku.

“Sama sajalah,” balasnya.

“Beda!” aku makin nggak terima.

Aku malas berdebat dengan Sun Hee, jadi aku memutuskan untuk mendekati Hankyung lagi.

“Oppa nggak kuliah?” tanyaku.

“Sudah lulus, tinggal cari kerja,” katanya menjelaskan.

Aku diam, tak tahu apa lagi yang harus dibicarakan.

“Hankyung oppa, apa pendapatmu tentang Eun Mi?” Tanya Sun Hee nekat. Aku melotot padanya.

“Dia gadis yang baik, menarik, dan…” jawab Hankyung.

“Dan?” tanyaku penasaran.

“Sedikit galak,” lanjutnya, lalu ia tertawa. Aku hanya cemberut mendengar kelanjutan pendapatnya.

“Jadi oppa nggak suka aku?” tanyaku. Ah, aku merasa jadi nekat sekarang, bertanya begitu sama saja mengatakan kalau aku mau dia suka padaku.

“Suka… dalam arti apa?” tanyanya, entah kenapa ia terlihat sedikit salah tingkah.

“Suka sebagai teman, begitu maksudku,” aku menjelaskan.

“Oh, suka kok,” jawabnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menutupi ekspresinya.

“Ah! Aku baru ingat, ada urusan, duluan ya Eun Mi, Hankyung oppa,” kata Sun Hee tiba-tiba. Aku menatapnya bingung. Ia mengedipkan matanya, hingga aku tahu dia bermaksud memberi kesempatan aku berdua dengan Hankyung. Aku hanya tersenyum sambil mengucapkan ‘gomawo’ tanpa suara.

“Jalan yuk,” ajak Hankyung tiba-tiba. “Nggak ada kerjaan kan?”

“Boleh, aku nganggur kok, asal nggak pulang kemalaman, sebentar, aku kabari orang tuaku dulu, nanti mereka khawatir,” aku mengeluarkan HP ku dari tas, meng-SMS eomma ku, lalu memasukkan HP ke dalam tas lagi.

Kami berjalan ke taman dekat sekolahku, ternyata Hankyung memarkir motornya di situ. Ia memberi helm padaku, lalu naik ke atas motor.

“Sebentar, boleh pulang ke rumahku dulu nggak? Susah pakai rok begini,” kataku. Hankyung mengangguk.

Setelah mengganti seragamku dengan baju santai, aku keluar rumah lagi. Eomma bingung melihatku pulang, padahal tadi aku bilang mau pergi lagi. Untung ia tidak memperpanjang interogasinya, ia hanya tahu aku pergi dengan teman. Aku naik ke motor.

“Pegangan,” kata Hankyung memperingati. “Jatuh aku nggak tanggung jawab,” candanya.

Aku bingung harus pegangan bagaimana, tidak mungkin kupeluk dia kan? Tapi sepertinya tak ada cara lain, kulingkarkan kedua lenganku ke pinggangnya dengan erat, jantungku sudah berdebar kencang. Ah, masa sih aku benar-benar jatuh cinta padanya?

Hankyung menjalankan motornya, padahal aku masih sedikit melamun. Ia tidak mengendarai motornya terlalu kencang, mungkin ia takut aku berteriak dan minta pulang kalau dia ngebut, memang sih, aku tidak begitu suka kebut-kebutan.

Hankyung’s POV

Aku tidak ngebut mengendarai motor, sepertinya Eun Mi tidak suka kalau terlalu kencang dan memang pada dasarnya aku tidak suka ngebut, apalagi di posisi seperti sekarang ini. Dia memelukku, aku tahu maksudnya adalah pegangan agar ia tidak jatuh, tapi tetap saja, membuatku sedikit canggung. Kenapa aku jadi seperti ini? Aku juga tidak tahu, mungkinkah aku suka padanya? Tadi ketika ia menanyakan aku suka padanya atau tidak, aku merasa mukaku hampir meledak. Apa ia ingin aku menyukainya? Aku sendiri juga tidak tahu. Ia gadis yang unik, membuatku penasaran akan sifatnya, dan membuatku tertarik, kurasa aku bisa suka padanya. Motorku kuparkir di sebuah tempat parkir motor yang terletak di sebuah apartemen yang lumayan besar, tapi tidak terlalu mewah.

“Ini di mana?” Tanya Eun Mi.

“Apartemen, aku tinggal di sini,” jawabku.

Kulihat ia menutup mulutnya agar tidak teriak.

“Hei! Jangan berpikir macam-macam, aku hanya mau memberikan sesuatu padamu,” aku agak panik, karena tahu ia sudah berpikir macam-macam.

Kami naik dengan lift ke lantai 3, dan berhenti di depan pintu rumahku. Apartemen ini lumayan bagus, tapi tidak mahal, lokasinya juga strategis. Aku membuka pintunya dengan kartu yang kubawa, aku sudah melangkah masuk, tapi kulihat Eun Mi masih terpaku di depan.

“Tidak berani? Sudahlah, aku nggak bakal ngapa-ngapain kok, kamu takut amat,” aku berusaha meyakinkannya. “Ya sudah, tunggu di situ,” kataku pasrah karena ia masih diam.

Akhirnya ia masuk juga, mukanya masih terlihat cemas, aku hanya tersenyum kecil melihat ekspresinya yang lucu seperti itu.

“Nggak pernah masuk apartemen cowok ya?” tanyaku memastikan. Ia mengangguk. “Pantas,” kataku lagi.

“Duduk saja dulu, aku ke kamar. Atau mau ikut?” aku sedikit iseng padanya.

“Nggak!” jawabnya tegas. Lalu ia duduk di sofa depan TV. Aku masuk ke kamar, mencari barang yang ingin kuberikan padanya. Sambil mencari, aku berpikir, kenapa aku bisa mau memberikan itu padanya? Sekitar 15 menit aku mencari, tapi tidak kutemukan. Aneh, padahal seingatku tadi kuletakkan di sini.

“Oppa,” panggil Eun Mi, ia melongok sedikit ke dalam.

“Hmm?” tanyaku sambil masih mencari barang itu dalam laci mejaku.

Ia tidak mengatakan apa-apa, aku juga tidak melihat wajahnya karena sibuk mencari. Tiba-tiba kurasakan ia memelukku dari belakang, lengannya merangkul pundak dan leherku. Aku diam, bingung karena dia tiba-tiba seperti itu.

“Aku lapar,” katanya lagi.

Gubrak! Kupikir dia kenapa. Dia melepas pelukannya, ternyata dia cuma iseng, tapi keisengannya cukup membuat mukaku panas.

“Hehe, mianhae,” katanya sambil nyengir.

Pletak! Jitakan pelan kuberikan padanya.

“Dasar, kupikir ada apa,” kataku dengan nada kesal, padahal, kalau boleh jujur, aku tidak masalah dia terus berada pada posisi tadi, tanpa melepas pelukannya. Ah, babo! Apa yang kupikirkan? Masa sih aku benar-benar…. Suka?

To be continued

—————————————-

Ya~ ini adalah part 1 dari ff yang kubuat 🙂 ini pertama kalinya aku menulis ff di blog seperti ini, jadi, comment kalian sangat berharga untuk memperbaiki kesalahanku. Mianhae kalau ceritanya agak kelamaan, atau ada kesalahan kata, dll. Aku akan berusaha memperbaiki kesalahanku, itulah sebabnya aku butuh comment2 kalian para pembaca! part 2 akan secepatnya kutulis, semoga kalian suka yaa!! 🙂

Love,

Lee Eun Mi

Author

 
2 Comments

Posted by on May 29, 2011 in Romance

 

HanMi couple story : My beloved bodyguard PART 1

Take me to your place
Where our hearts belong together
I will follow you
You’re the reason that I breathe
– You are my Everything

KyungMi’s POV

Ah.. ternyata menjadi mahasiswa baru di China tidaklah mudah, siswa siswi lainya di sini begitu dingin. Aku merasa di acuhkan, dan hal itu justru membuatku tidak betah tinggal di sini. Di tambah lagi, aku tidak begitu fasih berbahasa mandarin yang membuatku harus menerima kenyataan, aku hanya bisa memakan dumpling di sini.

Banyak orang berkata pemilik kedai dumpling ini sangat tampan. Membuatmu akan rela memutar lehermu 360 derajat dalam rangka ingin menatap wajahnya. Setampan itukah?

“BRAKK!”

“ Apakah kau baik baik saja?” ujar seorang pria dengan sopan. Aku menengadahkan kepalaku, menatap wajahnya, dan……….DEG!! Oh Tuhan, putra dewa zeus. Demi janggut Hades. Dia SANGAT TAMPAN.

“nona?” tanyannya sambil mengernyitkan dahi.

“ah.. iya aku baik baik saja.” Jawabku sambil tersenyum. Aku melihat kearah wajahnya, dan.. kembali terpana.

~ ~ ~

Aku mengeluarkan Hp dari sakuku, dan mendapati sebuah nomor tertera di layarnya. Nomor Kakakku, Hwang Kwang Sun.

“yeoboseo? Ada apa?”

“ Kyung Mi ah ~ besok aku dan papa mama akan ke China. Apa kau masih baik2 saja?”

“ tentu saja. Kenapa?”

“temanku berkata, ia membuka sebuah kedai dumpling dan akan mengundangku bersama keluarga di sana. Ia juga meminta untuk berkenalan denganmu. Dan menawarkanmu tinggal di rumahnya. Lumayan kupikir ia bisa membantu kami menjagamu selama kau di sana, agak kami lebih tenang”

“ mwo?? Tinggal di rumahnya? Oppa aku bukan anak kecil lagi.. Kalian terlalu over protective. Dan bukankah lebih tidak aman aku tinggal bersama seorang namja?? ” ujarku menolak. Aku tidak suka di perlakukan layaknya anak kecil.

Kyung Mi ah~ kau itu anak gadis. Kami tentu saja khawatir, apalagi kau adikku satu satunya. Aku percaya padanya. Bersiaplah besok. Setelah kami tiba di China, kami akan menjemputmu dan membawamu ke tempatnya”

“Ah ya sudah, terserah kau saja lah!” ujarku mendengus kesal. Kenapa mereka tidak bisa mempercayaiku?? Menganggapku anak kecil yang akan hilang jika tak dijaga??

Hankyung’s POV

Kemarin aku mendengar cerita dari Kwang Sun bahwa adiknya bersekolah di Negara ini. Aku tahu Kwang Sun sangan menyayangi adiknya yang satu itu. Maka aku menawarkan kepadanya untuk menjaga adiknya dengan membiarkanya tinggal di tempatku. Waktu kecil, kalau tidak salah, aku pernah melihat adiknya. Dan dia sangat manis.. Aku penasaran seperti apa dia sekarang.

Tiba tiba HP ku berdering. Rupanya Kwang Sun.

“yeoboseo? Ah Kwang sun ah, ada apa?”

“ Hankyung, adikku yang satu ini sangat keras kepala. Dia bandel dan sangat sulit di beri tahu. Dia tak suka di jaga. Apa tidak apa apa bagimu dia tinggal di rumahmu?”

“ tentu saja. Hahaha. Kwang sun ah, sepertinya dia memang mirip kamu jika keras kepala begitu”

“Hankyung, aku serius. Apa tidak apa apa? Kau tahu dia sangat tidak menyenangkan. Kalau dia memang merepotkanmu, lebih baik kau bilang saja”

“Tentu saja. Kau jangan khawatir. Percayalah padaku.”

“Ah~ baiklah. Terimakasih ya. Aku percaya kepadamu”

Kami mengakhiri pembicaraan kami. Aku kembali memikirkanya. Seperti apa gadis itu? Pasti akan sangat menarik tinggal serumah dengan seorang gadis sepertinya. Karena sepertinya, kepribadian gadis itu… mirip dengan Kwang Sun.

~ ~ ~

KyungMi’s POV

Sore ini oppa, appa ,dan eomma ku tiba di sini. Rasanya tak sabar. Aku memang sangat merindukan mereka. Ahh~ memang aku manja.  Aku menunggu sambil termenung. Membayangkan namja yang kutabrak di kedai itu.

“Aigoo.. Kyung Mi ah~” seru sebuah suara yang sangat kurindukan, suara eommaku, malaikatku. Pelindungku. Tanpa basa basi aku langsung memeluknya.

“Eomma!! Aku merindukanmu~” ujarku dengan suara manja.

“Kyung Mi , apakah kau baik baik saja? Kau makan dengan benar kan? Tidak ada namja yang mengganggumu kan?” ujar Appaku menanyaiku bertubi- tubi

“Appa, kau ini baru datang malah menginterogasiku. Tenang sajalah Appa. Aku bisa di percaya”

“Yak! Sudah dulu sesi kangen kangenanya. Hankyung sudah menunggu. Jangan membuatnya menunggu lebih lama lagi!” ujar Kwang Sun melerai aku dan ibuku yang sedang berpelukan.

Ah dasar! Kakakku yang satu ini. Sifatnya tak berubah juga.

~ ~ ~

“Silakan masuk” ujar seorang pelayan berpakaian tradisional menyapa kami.

Tunggu! Ini kan….. kedai yang biasa kudatangi??

“Oppa, kau yakin ini kedainya??” tanyaku

“yap. Ini kedai milik Hankyung, temanku”

Astaga! Jangan bilang Hankyung itu……… Namja tampan yang kemarin ku tabrak?!! Demi janggut Hades! Bisa bisa aku tak selamat kalau harus tinggal satu atap denganya!

Seorang pelayan mempersilakan kami masuk dan mengantar kami ke sebuah ruangan. Tepat saat pintu ruangan itu terbuka… Deg!! Mataku kembali terpaku. Apakah Hankyung itu jelmaan dewa zeus? Bagaimana wajahnya bisa begitu tampan??

“tampan ya?” bisik kakakku menggodaku. Aku tersadar dari lamunanku. Benar, dia itu.. sangat tampan.

“Mari duduk” ujarnya mempersilakan kami duduk. Dia menatap wajahku sesaat….”Oh, kau adiknya Kwang Sun? kau, yeoja yang kemarin itu kan?”

“Ah ~ iya. Maaf kemarin menabrakmu” ujarku malu malu

“ Ah~ tak apa apa” jawabnya singkat diiringi sebuah senyuman. Tampan. Namja ini benar benar tampan.

~ ~ ~

Makan bersama ini berlangsung sangat lancar. Kakakku banyak bercerita. Begitu juga Hankyung. Sepertinya memang benar bahwa mereka sangat dekat. Kalau begitu, kenapa tidak dari dulu saja kakakku itu memperkenalkan aku denganya?? Dasar.

“Ah~ hankyung ssi. Terimakasih untuk undangan makanya, dan tawaran baikmu untuk menjaga adikku ini. Maaf jika dia sedikit merepotkan” ujar kakakku sembari menyenggol rusuku.

“Yak! Oppa!” ujarku tak terima. Merepotkan, eh?? Aku tidak merepotkan!

“tak apa apa. Kelihatanya kau mirip sekali dengan kakakmu nona. Siapa namamu?” tanyanya sopan.

“Kyung Mi, Hwang Kyung Mi..” jawabku.

“Lihat ! pipinya memerah. Wah, Hankyung ssi. Kau hati hati saja. Dia tipe gadis yang berpotensi menyerangmu bila dia mau!” ujar kakakku sembari menunjuk pipiku. Kakakku ini..!

“PLETAKK”

“Yak!! Kyung Mi!! Appo!!” jeritnya di telingaku. Aku mengacuhkanya.

Aku mengantar mereka keluar.. Memberi salam.

“KyungMi ah~ kau harus baik baik pada Hankyung. Jangan merepotkanya. Makan yang baik dan tidur yang cukup” ujar eommaku memberi nasihat.

“ya, eomma tenang saja”

“Kyung Mi ah.. Katakan pada Appa jika ada yang mengganggumu” ujar appa sembari memelukku.

“ ya, Appa “

“Kami pulang dulu, Hankyung ssi. Kami titipkan putrid kami” ujar eommaku padanya. Ia hanya mengangguk.

Setelah itu appa , dan eomma pergi bersama kakakku. Menatap mereka menjauh.. hingga hilang.

“KyungMi ssi, kau tidak mau masuk?” ujarnya menyadarkanku.

“Oh.. baiklah” jawabku singkat.

Aku mengikutinya masuk. Dia mengantarku menuju kamarku.

“Kyung Mi ssi, disini kamarmu. Bila ada yang tak nyaman. Kau dapat mengatakanya padaku.” Ujarnya mempersilakanku masuk.

Kamar ini,, indah sekali. Diakah yang mendesainya? Luar biasa. Dia tidak hanya tampan, tapi juga cerdas dan berselera tinggi.

~ ~ ~

Sudah satu minggu aku tinggal di rumahnya. Setiap hari, otakku di penuhi pikiran yang mengharapkan sesuatu………… Tidak! Tidak boleh. Gila. Dan lebih gila lagi! Hari ini hari libur!! Aku hanya bersamanya, di rumahnya.. berdua..T^T Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

“Kyung Mi ssi. Ada apa?” tanyanya padaku. Dia sepertinya menyadari ekspresi tidak beres di wajahku.

“ahh~ tidak ada apa apa” jawabku singkat. Aku meneguk teh yang sedari tadi  ku aduk aduk. Dan….BRRUSTT!!

“Kyung Mi ssi. Sepertinya kau tidak baik baik saja? Apa kau sakit?” tanyanya sekali lagi.

“Tidak. Tidak apa apa” jawabku

“Sedari tadi aku melihatmu melamun, dan memasukkan bubuk merica di teh mu. Apa ada masalah?” tanyanya sambil menatap lurus ke manik mataku. Astagaaa..! dia sangat tampan. Sekarang aku tak hanya menyukai wajahnya. Tapi juga matanya!

“Kyung Mi ssi. Sepertinya kau memang sedang tak ingin bercerita. Aku memiliki film bagus untuk di tonton. Mungkin kau mau menontonya bersamaku?” tanyanya.

Tanpa ragu ragu aku menganggukan kepala. aku mengikutinya berjalan menuju kamarnya, dan duduk di sampingnya.

~ ~ ~

Sudah hampir 4 DVD kami tonton. Aku mulai merasa mengantuk. Karena memang mengantuk aku memejamkan mataku. Sambil memejam aku berharap, dan berkhayal seandainya dia ini adalah…….. Tidak! Ah memejamkan mata hanya membuatku berpikir semakin aneh saja!

“Kyung Mi ssi? Kau tertidur?” tanyanya.

Aku terdiam. Tak menjawab pertanyaanya. Aku terus memejamkan mata. Takut ketika aku membuka mata, aku justru tak tahan menatapnya.

“Kyung Mi ssi..?” ia bertanya sekali lagi. Dan tepat saat itu juga, aku merasakan sesuatu lembut menyentuh bibirku.

“““`

hello..! Cerita ini di buat dalam rangka menuntaskan request temanku, dan.. belom selesai, mau tau dulu reaksinya! kalo memang mau, ya di lanjutkan, tapi kalo nggak mau, ya sudah 🙂

udah dulu ya, Gomawo yang udah mampirr ~~~ ^^

-Hana

 
6 Comments

Posted by on May 29, 2011 in Romance

 

You Are MINE

Hana’s POV

Sore itu terasa seangat membosankan. Tidak ada lagi kegiatan yang kulakukan. Ulangan umum telah berakhir. Dan semuanya terasa sangat membosankan. Di satu sisi aku merasa bebas. Di sisi yang lain aku ingin mencari kesibukan. Maka aku memilih untuk berjalan jalan di taman.

Di sini begitu banyak pasangan yang hilir mudik bergandengan tangan. Membuatku iri saja. T^T

Bukan karena aku belum punya pacar. Melainkan pacarku sangat sibuk sehingga tak dapat menemaniku. Padahal aku benar benar sedang bosan.

Aku tangah asyik melamun ketika sebuah suara memanggilku

“ permisi miss, bolehkah aku duduk di sampingmu?” tanya namja itu dengan senyumnya. Astagaaaa,,, senyumnya.. indah sekali. Sepasang lesung pipi menghiasi wajahnya yang memasng sudah super duper tampan. Aku yakin jika kau melihatnya, kau akan mengaguminya, sama seperti aku saat ini.

“miss?” tanyanya sekali lagi. Sekali lagi aku tersadar dari lamunaku…tentangnya.

“oh tentu saja, silakan” jawabku dengan senyum termanis yang kupunya. Berharap namja itu akan tertarik denganku.

Aku mencuri pandang ke arahnya. Melihat dan berpikir, sempurna sekali namja ini.. tubuhnya kekar, hidungnya mancung sempurna, bibirnya mungil dan sepasang lesung pipi mnghiasi senyumnya.

“maaf, jika boleh tahu, siapa namamu?” tanya nama itu sopan kepadaku

“ ehm.. Hana. Park Hana” jawabku singkat “ dan kau?”

“oh.. Choi Siwon” ujarnya sembari tersenyum. Dia… manis sekali.

Siwon’s POV

Sore ini aku bosan, dan memutuskan untuk berjalan jalan ke taman. Sesampainya ditaman, aku langsung mencoba untuk mencari tempat yang nyaman, mencoba untuk beristirahat di sana. Mataku langsung tertuju pada sebuah bangku panjang. Dan kudapati di situ seorang gadis duduk di atasnya. Gadis itu.. sangat cantik, eh?

“ permisi miss, bolehkah aku duduk di sampingmu?” tanyaku sopan. Aku menekankan kata miss karena aku bingung. Dia sepertinya bukan orang asli korea. Rambutnya coklat. Dan matanya besar berwarna abu abu.

“oh tentu saja, silakan” jawabnya mempersilakanku. Dia tersenyum. Sangat manis. Senyumnya membuat jantungku berdebar cepat. Darahku berdesir. Dia memang sangat menawan.

Aku merasakan seseorang memandangku. Sepertinya gadis itu tertarik juga denganku. Semoga saja begitu, karena aku tak mau perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan saja.

“maaf, jika boleh tahu.. siapa namamu?” tanyaku sesopan mungkin.

“eh.. hana. Park Hana” jawabnya singkat “ dan kau?” tanyanya kepadaku.

“oh.. Choi Siwon” ujarku singkat sembari tersenyum. Melihat mata abu abunya memandangku.. Darahku berdesir semakin cepat.

Hana’s POV

Entah setan apa yang merasukiku, aku tak bisa berhenti memikirkan namja yang minggu lalu aku temui di taman. Padahal mungkin saja namja itu mengingatkupun tidak. Namja itu, dalam sekali pertemuan, berhasil mencuri hatiku! Padahal selama ini begitu banyak namja tampan yang mencoba mengejarku, bahkan ku tolak mentah mentah. Aku memikirkanya.. senyumnya semuanya. Aku bahkan tak mengingat Kyuhyun sama sekali. Yang ada di otak ku hanya namja itu. Choi Siwon

“yak! Hana..!! sejak kapan kau punya kebiasaan jelek melamun?” ujar hyun Jae menyadarkanku. Ya, Kim Hyun Jae adalah temanku. Dia sangat baik dan cantik.

“Ah.. Hyun Jae~ , apa jatuh cinta itu rasanya seperti ini?” tanyaku padanya.

“ dengan kyuhyun? Wah hebat juga dia bisa membuat seorang Park Hana seperti ini. Hahaha. Dia memang sangat pas untukmu, Hana. Dia tampan, pintar dan kaya. Semua point plus ada padanya. Kau beruntung Hana” ujar Hyun Jae dengan senyum khas nya.

Aku tersentak kala Hyun Jae menyebutkan nama kyuhyun. Astaga, apa yang kulakukan? Aku berpikir mengenai namja lain sedangkan tentang pacarku tidak?

“ yak! Park Hana! Kau melamun lagi. Apakah itu sudah menjadi kebiasaanmu?!” ujarnya menyadarkanku.

“Hyun Jae ~a , bagaimana ini? Rasanya yang aku pikirkan bukan Kyuhyun..” jawabku dengan nada tak mengenakkan.

“mwo? Lalu siapa?” tanya hyun jae penasaran.

“ namanya.. Choi siwon.” Jawabku singkat

Siwon’s POV

Otaku tersa mau pecah. Bagaimana bisa aku terus memikirkan yeoja itu?? Hah. Padahal mungkin saja ia bahkan lupa bentuk wajahku. Ahh.. dia membuat otaku ini penuh dengan wajahnya. Dasar tak bertanggung jawab! Dimana aku harus menemuinya?

“hei , Hyung!” ujar sebuah suara memanggilku. Aku menengadah untuk mendapati asal suara itu.. ah~ rupanya Kyuhyun yang memanggilku.

“ada apa?” balasku singka.

“ sejak tadi kau melamun terus? Ada masalah?” tanyanya dengan mata menyelidik

“ tidak, hanya saja, aku merasa aneh. Bagaimana mungkin aku berpikir tentang yeoja yang hanya sekali saja aku temui?” jawabku dengan nada tak bersemangat

“mudah saja. Kau jatuh cinta dengan yeoja itu.” Ujar kyuhyun dengan mantap.

Mendengar jawaban dari kyuhyun aku terhenyak. Dia benar. Sepertinya aku jatuh cinta.

Kyuhyun’s POV

Aku bertemu Siwon hyung dan melihatnya melamun. Aku jadi penasaran yeoja macam apa yang menarik hatinya. Pasti sangatlah cantik dan menarik. Melihat Siwon hyung yang sampai seperti itu memikirkan yeoja itu, pasti yeoja itu sangatlah sempurna dimatanya.

Hatiku sangat senang ketika secara tak sengaja bertemu Hana. Ya dia adalah kekasihku.

“Hana~~ “ ujarku memanggilnya. Namun sepertinya ia tak dengar. Dia sama sekali tidak menjawabku. Matanya tertunduk melihat ke jalan. Sepertinya ia memikirkan sesuatu. Apa ya?

“ yak! Park Hana~ ”  panggilku mengulang. Ia melihat ke arahku. Terdiam sesaat, lalu menjawab

“ada apa?” jawabnya singkat

“kau marah padaku karena beberapa hari ini tidak bisa menemanimu bermain?” tanyaku

“tidak” ia kembali menjawab. Singkat. Sangat singkat, sampai membuatku heran. Biasanya ia sangat cerewet hingga membuatku sakit kepala.

“ ada apa denganmu? Apa kau sakit?” tanyaku sembari memegang dahinya.

Semburat kemerahan muncul di kedua pipinya yang chubby. Sangat manis. Tapi aku merasakan ada yang aneh denganya. Matanya. Matanya menerawang sangat jauh. Seolah olah melihat kje tempat yang tak terjangkau. Aku merasa.. sebentar lagi akan tiba, waktu untuk merelakanya pergi.

Hana’s POV

Aku berjalan sambil termenung. Memikirkan perkataan Hyun Jae sesaat sebelum pulang tadi: “lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Kau tau dia sangat mencintaimu. Tegakah kau meninggalkanya?”

Hyun jae benar. Seharusnya aku setia pada Kyuhyun. Dia sangat baik. Apa yang kurang darinya sehingga mampu membuatku berpaling pada seseorang yang bahkan baru sekali kutemui?

Lamunanku tersadar ketika seseorang memanggilku. Suara yang sangat kukenal. Dan juga sangat kutakuti saat ini. Suara Cho Kyuhyun.

“yak! Park Hana~” panggilnya.

“ada apa?” aku menjawab singkat. Berusaha menghindari tatapan matanya.

“kau marah padaku karena beberapa hari ini tidak bisa menemanimu bermain?” tanyanya kepadaku.

“tidak” jawabku singkat. Sekarang aku yakin dia akan bingung dengan perubahan perilakuku. Bukanya aku membencinya. Tidak, aku justru merasa bersalah kepadanya.

“ada apa denganmu? Apa kau sakit?” tanyanya sembari memegang dahiku.

Sekarang aku yakin pipiku akan memerah. Pipiku terasa sangat panas. Aku tak mampu menatapnya. Yeoja macam apa aku? Dia sangat baik, tapi aku malah akan segera menyakitinya. Aku malu…pada diriku sendiri.

Siwon’s POV

Sudah satu minggu lebih berlalu. Meskipun tidak bertemu dengan yeoja itu. Aku tetap memikirkanya. Rasanya otaku sudah di manipulasi oleh wajahnya. Tidak. Aku tidak boleh begitu. Kalau begini terus, lama lama pikiranku kacau dan akan berpengaruh pada karir bisnisku. Malam ini aku ada perjanjian makan malam dengan Kyuhyun dalam rangka bisnis. Aku harus berfokus pada itu. Lagipula, Ia juga berjanji akan mengenalkanku pada kekasihnya. Pasti gadis itu sangat cantik. Siapa tau melalui gadis itu, aku dapat menemukan yeoja lain yang lebih pantas mendampingiku ketimbang yeoja di otakku ini

Hana’s POV

“Hana , kau sudah siap belum?” tanya kyuhyun dari luar.

“sabar, sebentar lagi aki akan keluar” ujarku dengan nada sedikit tinggi.

“ah, kau ini lama sekali” jawabnya dengan singkat

Aku menatap cermin. Puas dengan penampilanku. Rambut coklatku ku biarkan tergerai. Sedangkan tubuhku hanya di balut dress selutut berwarna hitam dengan tali spaghetti. Wajahku di make up tipis, itu membuat penampilanku lebih menarik.

Saat aku keluar, Kyuhyun terpaku menatapku.

“astaga.. kau..cantik sekali.. Hana..” ujarnya terbata bata.

Aku merasakan sebuah firasat buruk. Aku merasa tak seharusnya aku ikut denganya. Aku merasa… samuanya tak akan baik baik saja.. seolah akan ada sesuatu yang terjadi. Yang akan mengakhiri hubunganku dengan Kyuhyun. Semoga saja itu tidak benar. Aku tak ingin menyakitinya.

Kyuhyun’s POV

Malam ini dia cantik sekali. Tubuhnya yang memang indah di balut dress selutut yang membuatnya anggun. Sedangkan wajahnya yang memang sudah cantik, di poles dengan make up tipis yang membuatnya semakin cantik.

Jujur. Aku sangat terpana padanya malam ini. Tapi di samping terpana. Aku merasakan sebuah firasat yang sangat buruk. Ah.. tidak. Ku abaikan saja firasatku ini. Apa alasanku untuk berpikir buruk? Toh aku hanya akan memperkenalkanya pada hyungku kok.

Siwon’s POV

Aku mendengar deruman mobil di depan rumahku.  Kyuhyun sudah tiba. Aku segera berjalan untuk membukakan pintu. Ketika pintu sudah dibuka, aku melihat ke arah Kyuhyun, lalu gadis di sampingnya, dan………………………………… aku terpaku.

“Park Hana-ssi?” ujarku heran.

“Oh, Hyung, kalian sudah saling mengenal tampaknya. Dia ini kekasihku. Gadis yang selalu ku bicarakan itu” ujar Kyuhyun dengan santai.

DEG!! Sesaat itu jantungku terasa hampir berhenti. Rasanya udara di sekitarku menguap tiba tiba. Tidak mungkin.

Sesaat aku melihat kepada hana. Sama. Tatapan gadis itu terkejut dan…. Sakit? Apa dia juga mencintaiku?

Hana’s POV

Aku melihat siapa pria yang membukakan pintu. Dan saat itu juga, sesak. Sangat sesak. Rasanya paru paruku penuh. Perutku jungkir balik. Bagaimana mungkin ??

“Park Hana-ssi?” ujarnya menyebutkan namaku.

Oh aku sangat senang ia masih mengingatku. Tapi.. sangat menyakitkan melihatnya. Seharusnya aku mengikuti firasatku. Firasatku benar. Semuanya tak akan baik baik saja. Bagaimana mungkin baik baik saja? Saat kau melihat pria yang sudah 1 minggu lebih bercokol di otakmu, dan menyadari pria itu adalah teman pacarmu? Aku menatapnya sakit.. begitu pula dia. Eh? Apa dia juga memiliki perasaan yang sama denganku?

Siwon’s POV

Makan malam mala mini berjalan dengan lancer, tapi tidak menyenangkan. Berulang kali aku tersendat berbicara. Dan mataku hanya tertuju kepadanya.

“Hyung, dimana toilet? Aku mau pinjam toilet.” Ujar kyuhyun kepadaku

“ Di sana” ujarku singkat menunjuk ke arah balik dapur

Kyuhyun bergegas kea rah yang ku tunjuk, dan meninggalkan kami berdua.

Suasana terasa sangat dingin dan sepi. Kenapa kyuhyun lama sekali? Apakah dia sengaja member kesempatan? Ah, baiklah.

“Hana-ssi, lama tak berjumpa, apa kau masih mengingatku?” tanyaku.

“ah, tentu saja” ujarnya sembari tersenyum manis. Semanis waktu kami pertama bertemu.

“Aku tak menyangka, kau adalah kekasih Kyuhyun. Hahaha. Dia temanku sejak lama. Dia sering bercerita soal gadisnya, tapi tak menyebutkan namamu.”

“oh..” jawabnya singkat.

Sepertinya hatiku hampir meledak. Untung saja kyuhyun datang. Mengembalikan akal sehatku.

Kyuhyun’s POV

Jadi inikah yeoja yang dicintai Siwon hyung? Sudah kuduga. Sepertinya perasaan Hana juga sama. Aku melihat tatapan sakit mereka berdua saat bertemu di pintu tadi. Sengaja kuberikan kesempatan. Sepertinya firasatku benar tentang harus melepaskanya. Tapi aku belum siap. Ah~ lebih baik aku kembali kesana. Mengajak Hana pulang. Dan kupastikan perasaanya padaku.

“kenapa suasana di sini dingin sekali?” tanyaku mencairkan suasana.

“tidak apa apa” jawab mereka serempak dan singkat

“Hyung, sepertinya urusan kita sudah selesai kali ini. Ahh~ aku juga mulai mengantuk. Hana, kita pulang ya?” tanyaku sembari melihatnya.

“ah~ baiklah. Terimakasih untuk makan malamnya, choi siwon-ssi” ujarnya formal.

Meskipun ia berusaha menutupinya dariku. Aku tetap tahu dia mencintainya…melebihi diriku.

Hana’s POV

Suasana di mobil mendadak berubah jadi dingin. Bahkan Kyuhyun tak berbicara sama sekali. Apa dia menyadarinya? Hana babo! Seharusnya kau tak bertingkah seperti tadi. Siapapun pasti menyadarinya.

“ Kyuhyun~a..” ujarku memecah kesunyian.

“Hana, maukah kita menikah?” ujarnya dengan mata menatap lurus ke arahku.

“eh? Em…” aku tak sanggup menjawab pertanyaanya. Aku membisu. Aku takut menolaknya. Tapi aku juga tak akan sanggup menerima kenyataan bahwa tak akan pernah bisa bersatu dengan Choi Siwon.

“Park Hana…..” ujarnya menyadarkanku dari lamunanku.

“ya?” jawabku salah tingkah

“aku tahu kau tak mencintaiku.. aku tahu kau menyembunyikan perasaanmu. Jangan berpura pura di hadapanku. Aku sudah mempersiapkan diri menerima fakta untuk melepaskanmu. Tapi ingat, jika kau membutuhkan tempat untuk bersandar lagi, atau kembali, mungkin aku tak aka nada untukmu lagi sebagai kekasih.. Park Hana, siapkah kau menerima semuanya?” ujarnya.

Aku tak lagi sanggup membendung air mataku. Semuanya memang tak akan baik baik saja. Aku memutuskan pilihan terbaik.. dan terberat.

Siwon’s POV

Malam ini sangat dingin. Aku duduk membatu di bangku taman itu lagi. Tempat aku dan Hana pertama kali bertemu. Berdoa, mengharapkan adanya keajaiban. Berharap seandainya aku dan Hana bertemu sebagai pasangan yang memang di takdirkan untuk bersama. Tapi salahkah aku berpikir begitu…………? Semoga saja ia jodohku.

“Choi Siwon ssi!!” teriak sebuah suara memanggil namaku. Menyadarkanku dari lamunanku. Suara yang sangat kukenal dan….kurindukan.

Aku melihatnya bingung.

“bagaimana kau ada di sini?” tanyaku

“Kyuhyun mengantarku”

“lalu bagaimana denganya?”

“ia sudah pulang” jawabnya singkat

“maksudmu…”

Tanpa basa basi dia memelukku. Pelukan hangat.. yang membuatku tenang. Aku tak dapat lagi mengontrol diriku. Aku mengecup bibirnya singkat. Aku mengakui, aku merindukanya

“saranghae.. park hana.” Ucapku

Ia menitikkan airmata. Dan mengucapkan sebuah kata yang akan membuatku selamanya bahagia.

“Nado saranghae, Choi Siwon”

Kyuhyun’s POV

Aku melihat mereka dari kejauhan. Cih.. menjijikkan. Ku akui, sekarang aku benar benar marah, cemburu, dan putus asa. Tapi aku mencintai keduanya. Tak bisa memilih salah satu di antara mereka. Aku hanya ingin mereka berdua bahagia.. Ya, mereka harus bahagia, untuk membayar rasa sakit yang aku alami.

Aku tak sanggup lagi menahan rasa sakitku. Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Tidak mau melihat lebih jauh lagi. Selamat tinggal, Park Hana. Aku mencintaimu, ah tidak.. aku pernah mencintaimu. Dan aku berharap kau bahagia.

The END

a’s POV

Sore itu terasa seangat membosankan. Tidak ada lagi kegiatan yang kulakukan. Ulangan umum telah berakhir. Dan semuanya terasa sangat membosankan. Di satu sisi aku merasa bebas. Di sisi yang lain aku ingin mencari kesibukan. Maka aku memilih untuk berjalan jalan di taman.

Di sini begitu banyak pasangan yang hilir mudik bergandengan tangan. Membuatku iri saja. T^T

Bukan karena aku belum punya pacar. Melainkan pacarku sangat sibuk sehingga tak dapat menemaniku. Padahal aku benar benar sedang bosan.

Aku tangah asyik melamun ketika sebuah suara memanggilku

“ permisi miss, bolehkah aku duduk di sampingmu?” tanya namja itu dengan senyumnya. Astagaaaa,,, senyumnya.. indah sekali. Sepasang lesung pipi menghiasi wajahnya yang memasng sudah super duper tampan. Aku yakin jika kau melihatnya, kau akan mengaguminya, sama seperti aku saat ini.

“miss?” tanyanya sekali lagi. Sekali lagi aku tersadar dari lamunaku…tentangnya.

“oh tentu saja, silakan” jawabku dengan senyum termanis yang kupunya. Berharap namja itu akan tertarik denganku.

Aku mencuri pandang ke arahnya. Melihat dan berpikir, sempurna sekali namja ini.. tubuhnya kekar, hidungnya mancung sempurna, bibirnya mungil dan sepasang lesung pipi mnghiasi senyumnya.

“maaf, jika boleh tahu, siapa namamu?” tanya nama itu sopan kepadaku

“ ehm.. Hana. Park Hana” jawabku singkat “ dan kau?”

“oh.. Choi Siwon” ujarnya sembari tersenyum. Dia… manis sekali.

Siwon’s POV

Sore ini aku bosan, dan memutuskan untuk berjalan jalan ke taman. Sesampainya ditaman, aku langsung mencoba untuk mencari tempat yang nyaman, mencoba untuk beristirahat di sana. Mataku langsung tertuju pada sebuah bangku panjang. Dan kudapati di situ seorang gadis duduk di atasnya. Gadis itu.. sangat cantik, eh?

“ permisi miss, bolehkah aku duduk di sampingmu?” tanyaku sopan. Aku menekankan kata miss karena aku bingung. Dia sepertinya bukan orang asli korea. Rambutnya coklat. Dan matanya besar berwarna abu abu.

“oh tentu saja, silakan” jawabnya mempersilakanku. Dia tersenyum. Sangat manis. Senyumnya membuat jantungku berdebar cepat. Darahku berdesir. Dia memang sangat menawan.

Aku merasakan seseorang memandangku. Sepertinya gadis itu tertarik juga denganku. Semoga saja begitu, karena aku tak mau perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan saja.

“maaf, jika boleh tahu.. siapa namamu?” tanyaku sesopan mungkin.

“eh.. hana. Park Hana” jawabnya singkat “ dan kau?” tanyanya kepadaku.

“oh.. Choi Siwon” ujarku singkat sembari tersenyum. Melihat mata abu abunya memandangku.. Darahku berdesir semakin cepat.

Hana’s POV

Entah setan apa yang merasukiku, aku tak bisa berhenti memikirkan namja yang minggu lalu aku temui di taman. Padahal mungkin saja namja itu mengingatkupun tidak. Namja itu, dalam sekali pertemuan, berhasil mencuri hatiku! Padahal selama ini begitu banyak namja tampan yang mencoba mengejarku, bahkan ku tolak mentah mentah. Aku memikirkanya.. senyumnya semuanya. Aku bahkan tak mengingat Kyuhyun sama sekali. Yang ada di otak ku hanya namja itu. Choi Siwon

“yak! Hana..!! sejak kapan kau punya kebiasaan jelek melamun?” ujar hyun Jae menyadarkanku. Ya, Kim Hyun Jae adalah temanku. Dia sangat baik dan cantik.

“Ah.. Hyun Jae~ , apa jatuh cinta itu rasanya seperti ini?” tanyaku padanya.

“ dengan kyuhyun? Wah hebat juga dia bisa membuat seorang Park Hana seperti ini. Hahaha. Dia memang sangat pas untukmu, Hana. Dia tampan, pintar dan kaya. Semua point plus ada padanya. Kau beruntung Hana” ujar Hyun Jae dengan senyum khas nya.

Aku tersentak kala Hyun Jae menyebutkan nama kyuhyun. Astaga, apa yang kulakukan? Aku berpikir mengenai namja lain sedangkan tentang pacarku tidak?

“ yak! Park Hana! Kau melamun lagi. Apakah itu sudah menjadi kebiasaanmu?!” ujarnya menyadarkanku.

“Hyun Jae ~a , bagaimana ini? Rasanya yang aku pikirkan bukan Kyuhyun..” jawabku dengan nada tak mengenakkan.

“mwo? Lalu siapa?” tanya hyun jae penasaran.

“ namanya.. Choi siwon.” Jawabku singkat

Siwon’s POV

Otaku tersa mau pecah. Bagaimana bisa aku terus memikirkan yeoja itu?? Hah. Padahal mungkin saja ia bahkan lupa bentuk wajahku. Ahh.. dia membuat otaku ini penuh dengan wajahnya. Dasar tak bertanggung jawab! Dimana aku harus menemuinya?

“hei , Hyung!” ujar sebuah suara memanggilku. Aku menengadah untuk mendapati asal suara itu.. ah~ rupanya Kyuhyun yang memanggilku.

“ada apa?” balasku singka.

“ sejak tadi kau melamun terus? Ada masalah?” tanyanya dengan mata menyelidik

“ tidak, hanya saja, aku merasa aneh. Bagaimana mungkin aku berpikir tentang yeoja yang hanya sekali saja aku temui?” jawabku dengan nada tak bersemangat

“mudah saja. Kau jatuh cinta dengan yeoja itu.” Ujar kyuhyun dengan mantap.

Mendengar jawaban dari kyuhyun aku terhenyak. Dia benar. Sepertinya aku jatuh cinta.

Kyuhyun’s POV

Aku bertemu Siwon hyung dan melihatnya melamun. Aku jadi penasaran yeoja macam apa yang menarik hatinya. Pasti sangatlah cantik dan menarik. Melihat Siwon hyung yang sampai seperti itu memikirkan yeoja itu, pasti yeoja itu sangatlah sempurna dimatanya.

Hatiku sangat senang ketika secara tak sengaja bertemu Hana. Ya dia adalah kekasihku.

“Hana~~ “ ujarku memanggilnya. Namun sepertinya ia tak dengar. Dia sama sekali tidak menjawabku. Matanya tertunduk melihat ke jalan. Sepertinya ia memikirkan sesuatu. Apa ya?

“ yak! Park Hana~ ”  panggilku mengulang. Ia melihat ke arahku. Terdiam sesaat, lalu menjawab

“ada apa?” jawabnya singkat

“kau marah padaku karena beberapa hari ini tidak bisa menemanimu bermain?” tanyaku

“tidak” ia kembali menjawab. Singkat. Sangat singkat, sampai membuatku heran. Biasanya ia sangat cerewet hingga membuatku sakit kepala.

“ ada apa denganmu? Apa kau sakit?” tanyaku sembari memegang dahinya.

Semburat kemerahan muncul di kedua pipinya yang chubby. Sangat manis. Tapi aku merasakan ada yang aneh denganya. Matanya. Matanya menerawang sangat jauh. Seolah olah melihat kje tempat yang tak terjangkau. Aku merasa.. sebentar lagi akan tiba, waktu untuk merelakanya pergi.

Hana’s POV

Aku berjalan sambil termenung. Memikirkan perkataan Hyun Jae sesaat sebelum pulang tadi: “lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Kau tau dia sangat mencintaimu. Tegakah kau meninggalkanya?”

Hyun jae benar. Seharusnya aku setia pada Kyuhyun. Dia sangat baik. Apa yang kurang darinya sehingga mampu membuatku berpaling pada seseorang yang bahkan baru sekali kutemui?

Lamunanku tersadar ketika seseorang memanggilku. Suara yang sangat kukenal. Dan juga sangat kutakuti saat ini. Suara Cho Kyuhyun.

“yak! Park Hana~” panggilnya.

“ada apa?” aku menjawab singkat. Berusaha menghindari tatapan matanya.

“kau marah padaku karena beberapa hari ini tidak bisa menemanimu bermain?” tanyanya kepadaku.

“tidak” jawabku singkat. Sekarang aku yakin dia akan bingung dengan perubahan perilakuku. Bukanya aku membencinya. Tidak, aku justru merasa bersalah kepadanya.

“ada apa denganmu? Apa kau sakit?” tanyanya sembari memegang dahiku.

Sekarang aku yakin pipiku akan memerah. Pipiku terasa sangat panas. Aku tak mampu menatapnya. Yeoja macam apa aku? Dia sangat baik, tapi aku malah akan segera menyakitinya. Aku malu…pada diriku sendiri.

Siwon’s POV

Sudah satu minggu lebih berlalu. Meskipun tidak bertemu dengan yeoja itu. Aku tetap memikirkanya. Rasanya otaku sudah di manipulasi oleh wajahnya. Tidak. Aku tidak boleh begitu. Kalau begini terus, lama lama pikiranku kacau dan akan berpengaruh pada karir bisnisku. Malam ini aku ada perjanjian makan malam dengan Kyuhyun dalam rangka bisnis. Aku harus berfokus pada itu. Lagipula, Ia juga berjanji akan mengenalkanku pada kekasihnya. Pasti gadis itu sangat cantik. Siapa tau melalui gadis itu, aku dapat menemukan yeoja lain yang lebih pantas mendampingiku ketimbang yeoja di otakku ini

Hana’s POV

“Hana , kau sudah siap belum?” tanya kyuhyun dari luar.

“sabar, sebentar lagi aki akan keluar” ujarku dengan nada sedikit tinggi.

“ah, kau ini lama sekali” jawabnya dengan singkat

Aku menatap cermin. Puas dengan penampilanku. Rambut coklatku ku biarkan tergerai. Sedangkan tubuhku hanya di balut dress selutut berwarna hitam dengan tali spaghetti. Wajahku di make up tipis, itu membuat penampilanku lebih menarik.

Saat aku keluar, Kyuhyun terpaku menatapku.

“astaga.. kau..cantik sekali.. Hana..” ujarnya terbata bata.

Aku merasakan sebuah firasat buruk. Aku merasa tak seharusnya aku ikut denganya. Aku merasa… samuanya tak akan baik baik saja.. seolah akan ada sesuatu yang terjadi. Yang akan mengakhiri hubunganku dengan Kyuhyun. Semoga saja itu tidak benar. Aku tak ingin menyakitinya.

Kyuhyun’s POV

Malam ini dia cantik sekali. Tubuhnya yang memang indah di balut dress selutut yang membuatnya anggun. Sedangkan wajahnya yang memang sudah cantik, di poles dengan make up tipis yang membuatnya semakin cantik.

Jujur. Aku sangat terpana padanya malam ini. Tapi di samping terpana. Aku merasakan sebuah firasat yang sangat buruk. Ah.. tidak. Ku abaikan saja firasatku ini. Apa alasanku untuk berpikir buruk? Toh aku hanya akan memperkenalkanya pada hyungku kok.

Siwon’s POV

Aku mendengar deruman mobil di depan rumahku.  Kyuhyun sudah tiba. Aku segera berjalan untuk membukakan pintu. Ketika pintu sudah dibuka, aku melihat ke arah Kyuhyun, lalu gadis di sampingnya, dan………………………………… aku terpaku.

“Park Hana-ssi?” ujarku heran.

“Oh, Hyung, kalian sudah saling mengenal tampaknya. Dia ini kekasihku. Gadis yang selalu ku bicarakan itu” ujar Kyuhyun dengan santai.

DEG!! Sesaat itu jantungku terasa hampir berhenti. Rasanya udara di sekitarku menguap tiba tiba. Tidak mungkin.

Sesaat aku melihat kepada hana. Sama. Tatapan gadis itu terkejut dan…. Sakit? Apa dia juga mencintaiku?

Hana’s POV

Aku melihat siapa pria yang membukakan pintu. Dan saat itu juga, sesak. Sangat sesak. Rasanya paru paruku penuh. Perutku jungkir balik. Bagaimana mungkin ??

“Park Hana-ssi?” ujarnya menyebutkan namaku.

Oh aku sangat senang ia masih mengingatku. Tapi.. sangat menyakitkan melihatnya. Seharusnya aku mengikuti firasatku. Firasatku benar. Semuanya tak akan baik baik saja. Bagaimana mungkin baik baik saja? Saat kau melihat pria yang sudah 1 minggu lebih bercokol di otakmu, dan menyadari pria itu adalah teman pacarmu? Aku menatapnya sakit.. begitu pula dia. Eh? Apa dia juga memiliki perasaan yang sama denganku?

Siwon’s POV

Makan malam mala mini berjalan dengan lancer, tapi tidak menyenangkan. Berulang kali aku tersendat berbicara. Dan mataku hanya tertuju kepadanya.

“Hyung, dimana toilet? Aku mau pinjam toilet.” Ujar kyuhyun kepadaku

“ Di sana” ujarku singkat menunjuk ke arah balik dapur

Kyuhyun bergegas kea rah yang ku tunjuk, dan meninggalkan kami berdua.

Suasana terasa sangat dingin dan sepi. Kenapa kyuhyun lama sekali? Apakah dia sengaja member kesempatan? Ah, baiklah.

“Hana-ssi, lama tak berjumpa, apa kau masih mengingatku?” tanyaku.

“ah, tentu saja” ujarnya sembari tersenyum manis. Semanis waktu kami pertama bertemu.

“Aku tak menyangka, kau adalah kekasih Kyuhyun. Hahaha. Dia temanku sejak lama. Dia sering bercerita soal gadisnya, tapi tak menyebutkan namamu.”

“oh..” jawabnya singkat.

Sepertinya hatiku hampir meledak. Untung saja kyuhyun datang. Mengembalikan akal sehatku.

Kyuhyun’s POV

Jadi inikah yeoja yang dicintai Siwon hyung? Sudah kuduga. Sepertinya perasaan Hana juga sama. Aku melihat tatapan sakit mereka berdua saat bertemu di pintu tadi. Sengaja kuberikan kesempatan. Sepertinya firasatku benar tentang harus melepaskanya. Tapi aku belum siap. Ah~ lebih baik aku kembali kesana. Mengajak Hana pulang. Dan kupastikan perasaanya padaku.

“kenapa suasana di sini dingin sekali?” tanyaku mencairkan suasana.

“tidak apa apa” jawab mereka serempak dan singkat

“Hyung, sepertinya urusan kita sudah selesai kali ini. Ahh~ aku juga mulai mengantuk. Hana, kita pulang ya?” tanyaku sembari melihatnya.

“ah~ baiklah. Terimakasih untuk makan malamnya, choi siwon-ssi” ujarnya formal.

Meskipun ia berusaha menutupinya dariku. Aku tetap tahu dia mencintainya…melebihi diriku.

Hana’s POV

Suasana di mobil mendadak berubah jadi dingin. Bahkan Kyuhyun tak berbicara sama sekali. Apa dia menyadarinya? Hana babo! Seharusnya kau tak bertingkah seperti tadi. Siapapun pasti menyadarinya.

“ Kyuhyun~a..” ujarku memecah kesunyian.

“Hana, maukah kita menikah?” ujarnya dengan mata menatap lurus ke arahku.

“eh? Em…” aku tak sanggup menjawab pertanyaanya. Aku membisu. Aku takut menolaknya. Tapi aku juga tak akan sanggup menerima kenyataan bahwa tak akan pernah bisa bersatu dengan Choi Siwon.

“Park Hana…..” ujarnya menyadarkanku dari lamunanku.

“ya?” jawabku salah tingkah

“aku tahu kau tak mencintaiku.. aku tahu kau menyembunyikan perasaanmu. Jangan berpura pura di hadapanku. Aku sudah mempersiapkan diri menerima fakta untuk melepaskanmu. Tapi ingat, jika kau membutuhkan tempat untuk bersandar lagi, atau kembali, mungkin aku tak aka nada untukmu lagi sebagai kekasih.. Park Hana, siapkah kau menerima semuanya?” ujarnya.

Aku tak lagi sanggup membendung air mataku. Semuanya memang tak akan baik baik saja. Aku memutuskan pilihan terbaik.. dan terberat.

Siwon’s POV

Malam ini sangat dingin. Aku duduk membatu di bangku taman itu lagi. Tempat aku dan Hana pertama kali bertemu. Berdoa, mengharapkan adanya keajaiban. Berharap seandainya aku dan Hana bertemu sebagai pasangan yang memang di takdirkan untuk bersama. Tapi salahkah aku berpikir begitu…………? Semoga saja ia jodohku.

“Choi Siwon ssi!!” teriak sebuah suara memanggil namaku. Menyadarkanku dari lamunanku. Suara yang sangat kukenal dan….kurindukan.

Aku melihatnya bingung.

“bagaimana kau ada di sini?” tanyaku

“Kyuhyun mengantarku”

“lalu bagaimana denganya?”

“ia sudah pulang” jawabnya singkat

“maksudmu…”

Tanpa basa basi dia memelukku. Pelukan hangat.. yang membuatku tenang. Aku tak dapat lagi mengontrol diriku. Aku mengecup bibirnya singkat. Aku mengakui, aku merindukanya

“saranghae.. park hana.” Ucapku

Ia menitikkan airmata. Dan mengucapkan sebuah kata yang akan membuatku selamanya bahagia.

“Nado saranghae, Choi Siwon”

Kyuhyun’s POV

Aku melihat mereka dari kejauhan. Cih.. menjijikkan. Ku akui, sekarang aku benar benar marah, cemburu, dan putus asa. Tapi aku mencintai keduanya. Tak bisa memilih salah satu di antara mereka. Aku hanya ingin mereka berdua bahagia.. Ya, mereka harus bahagia, untuk membayar rasa sakit yang aku alami.

Aku tak sanggup lagi menahan rasa sakitku. Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Tidak mau melihat lebih jauh lagi. Selamat tinggal, Park Hana. Aku mencintaimu, ah tidak.. aku pernah mencintaimu. Dan aku berharap kau bahagia.

The END 

 
2 Comments

Posted by on May 28, 2011 in Romance